Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dialog Interaktif Memperingati HPN 2025. Peran Jurnalis Ibarat Nyala Lilin di Tengah Distorsi Media Sosial

Ahmad Atho’illah • Selasa, 11 Februari 2025 | 15:30 WIB

Dialog interaktif membincang peran media massa di era disrupsi digital di LPPL Radio Pradya Suara 94,6 FM bersama Kaprodi PBSI Unirow Yunita Suryani dan Redaktur Jawa Pos Radar Tuban Ahmad Athoillah
Dialog interaktif membincang peran media massa di era disrupsi digital di LPPL Radio Pradya Suara 94,6 FM bersama Kaprodi PBSI Unirow Yunita Suryani dan Redaktur Jawa Pos Radar Tuban Ahmad Athoillah

Kemajuan teknologi informasi menjadi tantangan tersendiri bagi media massa di era kiwari. Disrupsi digital membawa banyak perubahan terhadap industri pers. Seperti kemudahan akses informasi melalui media sosial hingga pengaruh artificial intelligence (AI). Lantas, masihkah peran jurnalis dibutuhkan?

MASIH dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasio­nal (HPN) 2025 yang digelar Rong­go­lawe Press Solidarity (RPS) Tuban.

Selasa (10­/2), isu dis­rupsi digital ter­sebut dibahas dalam dialog inte­raktif bertajuk ‘Feno­mena Literasi dan Ke­biasaan Men­cari Informasi di Era Digital’ di Lembaga Penyia­ran Publik Lokal (LPPL) Radio Pradya Suara 94,6 FM. Bekerja sama dengan Dinas Ko­munikasi dan Infor­matika, Statistik dan Persan­dian (Dis­kominfo-SP) Tuban.

Radio show itu menghadir­kan dua narasumber, yakni Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Uni­row, Yunita Suryani dan Ah­mad Athoi’llah, pekolom sekaligus Redaktur Pelaksa­na Jawa Pos Radar Tuban.

Sebelum dialog interaktif, Ketua RPS Khoirul Huda me­nyampaikan bahwa acara dialog interaktif ini meru­pakan salah satu rangkaian kegiatan HPN 2025 yang diselenggarakan RPS.
Acara sebelumnya yang su­dah terlaksana adalah tanam pohon dan santunan anak yatim. Dua kegiatan tersebut merupakan agenda wajib saban peringatan HPN. ‘’Pun­cak­nya pada 23 Fe­bruari nanti, sesuai rencana akan dilaksa­nakan senam poundfit di Ta­man Hutan Kota Tuban Abipraya,’’ ujarnya.

Huda berharap, dialog inte­raktif yang menghadir­kan dua narasumber sesuai bidang masing-masing ini bisa mem­berikan pence­rahan dan edu­kasi terhadap ma­syarakat secara umum dan insan pers pada khu­susnya. Sebab, di era disrupsi digital seperti sekarang ini, banyak masyarakat yang terdistorsi informasi akibat paparan media sosial yang semakin rimba. ‘’Tentu, ke­giatan dialog interaktif ini juga sekaligus sebagai bahan evaluasi bagi kami—para insan pers,’’ tuturnya.

Hal senada juga disampai­kan Kepala Diskominfo Tu­ban me­lalui Kabid Ko­mu­nikasi dan Informasi Publik, Rita Zahara. Dalam kesem­patan tersebut, Rita berharap agar para wartawan selalu kon­sisten menjaga kode etik jurnalistik dalam men­jalankan tugasnya se­bagai pe­nyampai in­formasi. Meng­hadir­kan be­rita-berita yang ber­kualitas dan independen.
‘’Harap kami, teman-te­man jurnalis selalu menya­jikan informasi-informasi yang berkualitas dan mem­berikan edukasi kepada ma­syarakat,’’ harapannya.

Media Sosial-AI dan Ketidaksesuaian Tujuan Awal Penciptaan
Mengawali sesi dialog, Yu­nita Suryani mengamini bah­wa masyarakat saat ini cenderung menggantungkan informasi dari media sosial. Padahal, apa yang tersaji di media sosial baru sekadar informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya. ‘’Saya secara pribadi sering mengalami, informasi yang saya dapat di media sosial sering kali tidak sesuai dengan fakta,’’ tutur Yunita.

Bahkan, lanjut dia, AI pun tidak sepenuhnya benar. Dan itu sudah dibuktikan sendiri. Ketika mencari be­berapa judul makalah se­bagai re­ferensi untuk me­nulis karya ilmiah, ternyata banyak yang menye­satkan. ‘’Dijawab oleh AI, tapi ham­pir semuanya salah. Mulai dari judul yang salah, hingga tidak jelas pe­nulisnya. Nah, jika AI diper­caya begitu saja, maka ke­salahan itu terus berkembang,’’ ungkap dia.

Kesalahan-kesalahan itu, lanjut Yunita, hanya bisa difilter dengan literasi. Se­bab, orang yang memiliki literasi kuat, tidak akan mudah percaya dengan apa yang diterima. Terlebih untuk kalangan akademisi, wajib hukumnya memiliki literasi yang kuat. ‘’Sangat bahaya jika kesalahan itu diproduksi oleh seorang akademisi,’’ tegasnya.
Yunita berharap, peran media tidak hanya menyam­paikan sebuah berita. Tapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang literasi media. Dengan begitu, ma­syarakat akan tercerdaskan.

Laboratorium Jurnalis Adalah Lapangan dan Asupan Gizinya Adalah Buku
Sementara itu, Atok—sa­paan akrab Ahmad Atho’­illah—menyampaikan bahwa di era disrupsi digital seperti sekarang ini, ada ketidaksesuaian antara penciptaan awal teknologi dengan prilaku pengguna tek­nologi saat ini. Tujuan awal penciptaan teknologi yang diharapkan menjadi pendo­rong bagi manusia untuk se­makin kreatif, kini malah menjadikan manusia semakin bergantung pada teknologi. Pengaruh AI contohnya, begitu banyak tulisan, seperti karya ilmiah yang diproduksi meng­gunakan AI, tapi tidak paham apa yang ditulis. Pun demikian dengan media sosial. Begitu banyak distorsi informasi di media sosial, sehingga me­munculkan banyak hoaks.

‘’Perkembangan teknologi, khususnya media sosial sudah tidak sesuai dengan tujuan awal penciptaannya. Jamak dipahami, media sosial mem­berikan dampak negatif yang lebih besar ketimbang dampak positifnya,’’ tuturnya.

Masifnya dampak negatif tersebut, terang Atok, lan­taran minimnya literasi pengguna media sosial. Ditegaskan pe­kolom Tuban ini, literasi bukan hanya soal membaca dan me­nulis. Menurutnya, literasi adalah sikap mental. Orang yang memiliki daya literasi tinggi akan terbentuk dalam dirinya sikap skepetis—tidak mudah percaya dengan segala informasi yang diterima, dan mampu melihat sesuatu secara multiperspektif. ‘’Ketika seseorang memiliki sikap skeptis dan mampu melihat sesuatu secara mul­tiperspektif, sulit bagi dia termakan hoaks,’’ ujarnya.

Contoh sederhana minim­nya literasi, adalah tidak bisa mem­bedakan antara media sosial dan media massa. Jamak me­nganggap bahwa media sosial adalah media massa. Sehingga, begitu banyak generasi hari ini—ketika diminta untuk me­nyebutkan nama media massa, yang disampaikan adalah media sosial. Padahal, media sosial dan media massa adalah dua entitas yang berbeda. Media sosial akun personal identitas, sementara media massa adalah perusahaan pers berbadan hukum dan diatur oleh undang-undang.

Pun dalam menjalankan tugas dan fungsinya, seorang wartawan yang memproduksi dan menyajikan berita diatur oleh kode etik jurnalistik, sedangkan media sosial tidak terikat oleh apa pun. Sebab, apa yang disajikan tidak bisa dipertang­gungjawabkan kebenarannya. Pun di mata hukum. Media massa tidak bisa langsung dipidanakan, karena memiliki hak jawab dan koreksi. Se­dangkan media sosial bisa dengan mudah terkena UU ITE.

Lantas, masihkah seorang jurnalis dibutuhkan di tengah disrupsi digital ini? Dengan tegas Atok menjawab, ‘’malah di sinilah (di saat media sosial semakin tidak terkontrol, Red) peran media massa diharapkan menjadi pencerah di tengah distorsi media sosial,’’ tegasnya. Ibarat dalam gelap, seorang jurnalis adalah lilin di tengah memburuknya prilaku pengguna media sosial.

Seiring tugas dan peran jurnalis di tengah disrupsi digital yang semakin berat tersebut, seorang jurnalis dituntut memiliki daya lite­rasi yang tinggi. Sehingga tidak terjebak dan mengekor media sosial. Tapi sebalik­nya, mampu menjadi pence­rah di tengah semakin gelapnya distorsi media sosial.

‘’Hari Pers Nasional 2025 ini sekaligus menjadi bahan evaluasi dan introspeksi bagi kami—insan pers, bahwa jurnalis dan literasi adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, kerja-kerja jurnalis sangat erat kaitannya dengan literasi,’’ tegas Atok.

Lebih lanjut, seorang jur­nalis harus memiliki daya baca yang tinggi. Sebab, hanya dengan membaca itulah sikap skeptis seorang wartawan akan terbentuk sekaligus mampu melihat sesuatu secara mul­tiper­spektif, se­hingga mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang ber­kualitas dan men­cerdaskan masyarakat.

‘’Dan yang ter­amat penting dan harus dipahami betul oleh seorang jurnalis-jurnalis muda hari ini, bahwa laboratorium seorang wartawan adalah lapangan. Seorang wartawan akan mampu menulis dengan sangat baik jika memiliki daya literasi tinggi dan menguasai lapangan,” tandasnya. (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#lilin #dialog #HPN 2025 #Hari Pers Nasional #jurnalis #media sosial #Era Disrupsi