Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Saatnya Fokus Membangun ”Jembatan Pengetahuan”

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 22 Februari 2025 | 15:21 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

Sebaik baiknya pemimpin adalah menyiapkan kebaikan-kebaikan untuk generasi yang akan datang. Dan satu di antara kebaikan itu, adalah membangun “jembatan pengetahuan” sebagai investasi jangka untuk menyongsong hari esok yang penuh tantangan.

TANPA menafikan masif­nya pembangunan infra­struktur yang sudah berjalan. Dan tentunya, juga harus diakui—membawa kebai­kan, khusus­nya terhadap tingkat keba­hagiaan dan mo­bilitas eko­nomi masyarakat.

Na­mun, di tengah dampak negatif perkembangan tek­nologi terhadap anak-anak, generasi muda, bahkan orang dewasa yang semakin mence­maskan, sepertinya peme­rintah—melalui ke­bijakan­nya—harus kembali fokus menata ulang tujuan pem­bangunan manusia. Dan, me­nurut saya—dalam se­jarah peradaban manusia, itu hanya bisa dilakukan dengan mem­bangun “jem­batan penge­tahuan” secara konsisten.

Meski terkesan sederhana. Namun, membangun “jem­batan pengetahuan” di te­ngah sistem demokrasi yang dipilih secara politis, dan dengan jabatan yang dibatasi perio­desasi, mem­bangun “jemba­tan penge­tahuan” sangat tidak populis. Sebab, program jembatan pengeta­huan meru­pakan investasi jangka pan­jang. Hasilnya yang berupa kua­litas sumber daya manusia baru bisa dirasakan puluhan tahun mendatang. Bukan satu-dua periode kepemimpi­nan. Dan inilah yang di­maksud bonus demografi yang menjadi harapan ge­nerasi emas di tahun 2045 men­datang. Namun sayang, sepertinya gagal disiapkan sejak dalam pikiran. Membangun “jembatan pe­ngetahuan” adalah program ber­kelanjutan.

Mengesampingkan kepentingan politis untuk melan­jutkan kekuasaan. Dan inilah tantangan sistem demokrasi bangsa ini: masyarakat sudah kadung terninabobokan dengan program-program populis—sensasional—yang langsung bisa dirasakan, meski hanya bertahan dalam waktu singkat.

Ibarat kebutuhan dan keinginan, para penguasa paham benar bahwa yang populis adalah keinginan, bukan kebutuhan. Persis seperti ketidaksesuaian penciptaan awal teknologi dengan prilaku hari ini. Mereka—para pebisnis dan pelaku media sosial paham betul bahwa yang dibu­tuhkan untuk meng­hasilkan cuan adalah konten-konten unfaedah—menggoda birahi—yang sifatnya keinginan—sensasi sesaat, tanpa memberikan dampak positif sebagai kebutuhan investasi jangka panjang.

Sebab itu, kini mudah sekali ditemukan konten-konten sam­pah yang memicu penurunan kondisi mental dan intelektual atau yang bisa disebut sebagai fenomena brain rot—pembusukan otak. Namun, itulah pangsa pasar yang menghasilkan cuan.
Pun demikian dengan program-program pemerintah. Yang mena­rik dan bisa meningkatkan elek­tabilitas adalah program-program yang sifatnya populis. Sementara yang berkaitan dengan pening­katan kualitas sumber daya manusia jarang sekali diminati. Seorang presiden, gubernur, bupati/wali kota hampir pasti tidak akan terpilih jika program yang ditawarkan adalah menum­buhkan minat baca, memberikan buku gratis, dan mendirikan perpustakaan di setiap desa.

Rakyat tidak salah. Sebab, me­reka adalah korban dari doktrin penguasa yang haus akan kekua­saan, hingga membuat rakyat tidak sadar—tidak bisa membe­dakan antara kebutuhan dan keinginan. Benar bahwa mem­bangun infrastruktur itu penting. Namun, sepertinya sudah jauh dari kebutuhan yang semestinya. Begitu banyak infrastruktur dibangung berlebihan. IKN dan bangunan-bangunan gedung mewah di hampir semua daerah, contohnya. Pertanyaannya, untuk siapa bangunan mewah tersebut? Yang jelas bukan fasilitas rakyat. Sementara di sisi lain, mereka—para penguasa—pemangku kebijakan lupa untuk membangun “jembatan pengetahuan”.

Harapan untuk Mas Lindra di Periode Kedua
Mas Lindra—sapaan akrab Bupati Aditya Halindra Faridzky resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto untuk me­lanjutkan kepemimpinannya di Kabupaten Tuban. Pada periode kedua ini, bupati termuda se­panjang sejarah pemerintahan Kabupaten Tuban itu didampingi sosok birokrat, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangu­nan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda-Lit­bang) Tuban, Joko Sarwono.

Kami tahu, meski tidak ada survei resmi, namun kami me­yakini bahwa indeks kebahagiaan masyarakat Tuban mengalami peningkatan. Itu menyusul suk­sesnya revitalisasi ruang-ruang publik yang dilakukan Mas Lindra di periode pertama. Di mulai dari Bundaran Sleko Tuban yang direvitalisasi total di tahun per­tama pemerintahan. Bundaran yang semula tampak biasa disulap dengan ikon sembilan kuda jing­krak. Sementara taman di sam­ping kiri dan kanan diubah de­ngan konsep yang lebih kekinian.

Saat awal dibuka dan belum ada ruang publik yang dire­vitalisasi. Bundaran Sleko menjadi epi­sentrum baru tempat berkum­pulnya anak-anak yang haus akan tempat nongki yang representatif di tengah kota. Sejurus kemudian, berjibun pedagang asongan di pinggir-pinggir jalan dan sampai sekarang.

Setahun berikutnya, GOR Rang­ga Jaya Anoraga turut direvitalisasi total. Fasilitas publik yang semula hanya berfungsi seperti nama­nya—gelanggang olahraga, itu kini telah menjadi sarana olahraga di ruang publik sekaligus wahana rekreasi tengah kota. Sejak dibuka kurang lebih setahun lalu, keri­uhan warga menikmati fasilitas GOR tampak dari siang hingga malam. Tentu, dengan wajah-wajah yang terlihat bahagia.

Berikutnya, Rest Area eks Ter­minal Lama, juga direvit total dengan konsep kekinian yang anak muda banget. Bahkan, bangunan lama hampir tidak tersisa, dan dengan nama baru Tuban Abirama. Ruang publik di jalur pantura ini juga tidak kalah ramai dari GOR dan Bun­daran Sleko. Terlebih saat sore hingga malam. Banyak anak-anak mu­da nongkrong hingga orang tua sembari mengajak anaknya jalan-jalan.

Dari Tuban Abirama, bergeser ke Taman Hutan Kota dan Alun-Alun. Dua ruang publik ini juga direvitalisasi total. Semula dikenal dengan nama Taman Hutan Kota, kini memiliki nama baru: Taman Hutan Kota Abhipraya. Setelah melalui proses pembangunan yang sempat molor, keduanya baru resmi dibuka pada awal tahun ini. Dan seperti barang baru, dari pagi, siang, hingga malam, kedua ruang publik ini tidak pernah sepi dikunjungi masyarakat. Tumpah ruah, khususnya Taman Hutan Kota Abhipraya, di akhir pekan dan momen liburan penuh sesak, seperti bukan lagi ruang publik, melainkan wahana rekreasi. Dan semua tampak dengan wajah-wajah bahagia.

Selain ruang-ruang publik di tengah kota, beberapa ruang publik di pinggiran kecamatan juga tidak luput dijamah proyek revitalisasi. Hal ini menegaskan Mas Lindra paham benar bahwa salah satu cara untuk mening­katkan indeks ke­bahagiaan warga adalah menye­diakan ruang-ruang publik yang nyaman dan repre­sentatif sekaligus sebagai wahana rekreasi. Namun harus diingat, bahwa membangun lebih mudah daripada memper­tahankannya. Inilah yang menjadi tantangan ke depan. Sudah jamak, ganti pemimpin ganti pula konsep pembangunannya.

Setelah bahagia didapat, kini saat fokus membangun “jembatan pengetahuan” sebagai investasi jangka panjang. Sebagai warga Kota legen, kami juga memiliki beberapa harapan untuk Tuban ke depan. Atau, setidaknya sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.

Pertama, mohon dengan sangat agar ada kebijakan yang me­wajibkan setiap anak membaca 15 menit sebelum kegiatan pem­belajaran di sekolah dimulai. Anak diberikan kebebasan untuk membaca buku apa pun yang penting disukai. Kenapa minimal 15 menit membaca ini penting untuk dijadikan sebuah kebijakan. Sebab, untuk membiasakan gemar membaca awalnya harus dipaksa. Terlebih, di tengah dampak negatif teknologi seperti sekarang ini.

Dan itu (membiasakan ke­baikan-kebaikan) hanya bisa dilakukan melalui kebijakan. Seperti halnya membiasakan anak menjalankan salat lima waktu, awalnya juga harus dipaksa hingga akhirnya menjadi kebia­saan yang menye­nangkan. Tentu, juga harus diim­bangi dengan teladan dari para pendidik dan orang tua. Karena itu, kebijakan menggemarkan mi­­nat baca sejak dini harus dige­makan.

Kenapa harus membaca? Karena salah satu konstruksi “jembatan pengetahuan” adalah buku. Dalam sejarah peradaban ma­nusia, satu-satunya instru­men yang paling efektif untuk mem­bangun “jem­batan penge­tahuan” adalah dengan mem­baca. Seperti pesan wahyu pertama yang diterima Nabi Mu­hammad SAW: Iqra (Bacalah).

Kedua, menanamkan pendi­dikan karakter sejak dini. Satu di antara instrumen untuk mem­bentuk karakter anak adalah melalui budaya. Saya masih ingat, pada awal pe­merintahan Mas Lindra di periode pertama sempat mengeluarkan kebijakan Rabu Bahasa Jawa. Anak-anak dari tingkat PAUD hingga SMP diharuskan menggunakan bahasa Jawa Krama saat di sekolah.

Pun demikian untuk pejabat di lingkup Pemkab Tuban. Me­nurut saya, ini merupakan program yang sangat epik. Luar biasa, dan layak menjadi per­contohan. Namun sayang, pro­gram ini hanya bertahan beberapa bulan. Itu pun tidak maksimal. Harapan kami, program yang sangat bagus untuk mem­bentuk karakter anak melalui budaya ini bisa diseriusi pada periode kedua. Tentu, juga di­lengkapi dengan program pe­nanaman karakter lainnya.

Ketiga, membatasi anak ber­main gadget. Saya berharap wacana pembatasan penggunaan gadget yang dicanangkan Kemen­terian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bisa segera terealisasi, lalu Pemkab Tuban menjalankan dengan sangat ketat dan serius. Sebab, kami—sebagai orang tua merasakan betul dampak negatif penggunaan gadget terhadap anak-anak.

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal dampak negatif tersebut, sebab hal ini sudah jamak dipahami. Sudah begitu banyak hasil riset yang menjelaskan bahayanya dampak negatif gadget terhadap anak-anak.

Setidaknya, tiga harapan itulah konstruksi dalam membangun “jembatan pengetahuan” sebagai investasi jangka panjang. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#investasi #jembatan #bupati #periode #pengetahuan #pembangunan #Jangka Panjang #infrasktruktur