Sebaik baiknya pemimpin adalah menyiapkan kebaikan-kebaikan untuk generasi yang akan datang. Dan satu di antara kebaikan itu, adalah membangun “jembatan pengetahuan” sebagai investasi jangka untuk menyongsong hari esok yang penuh tantangan.
TANPA menafikan masifnya pembangunan infrastruktur yang sudah berjalan. Dan tentunya, juga harus diakui—membawa kebaikan, khususnya terhadap tingkat kebahagiaan dan mobilitas ekonomi masyarakat.
Namun, di tengah dampak negatif perkembangan teknologi terhadap anak-anak, generasi muda, bahkan orang dewasa yang semakin mencemaskan, sepertinya pemerintah—melalui kebijakannya—harus kembali fokus menata ulang tujuan pembangunan manusia. Dan, menurut saya—dalam sejarah peradaban manusia, itu hanya bisa dilakukan dengan membangun “jembatan pengetahuan” secara konsisten.
Meski terkesan sederhana. Namun, membangun “jembatan pengetahuan” di tengah sistem demokrasi yang dipilih secara politis, dan dengan jabatan yang dibatasi periodesasi, membangun “jembatan pengetahuan” sangat tidak populis. Sebab, program jembatan pengetahuan merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya yang berupa kualitas sumber daya manusia baru bisa dirasakan puluhan tahun mendatang. Bukan satu-dua periode kepemimpinan. Dan inilah yang dimaksud bonus demografi yang menjadi harapan generasi emas di tahun 2045 mendatang. Namun sayang, sepertinya gagal disiapkan sejak dalam pikiran. Membangun “jembatan pengetahuan” adalah program berkelanjutan.
Mengesampingkan kepentingan politis untuk melanjutkan kekuasaan. Dan inilah tantangan sistem demokrasi bangsa ini: masyarakat sudah kadung terninabobokan dengan program-program populis—sensasional—yang langsung bisa dirasakan, meski hanya bertahan dalam waktu singkat.
Ibarat kebutuhan dan keinginan, para penguasa paham benar bahwa yang populis adalah keinginan, bukan kebutuhan. Persis seperti ketidaksesuaian penciptaan awal teknologi dengan prilaku hari ini. Mereka—para pebisnis dan pelaku media sosial paham betul bahwa yang dibutuhkan untuk menghasilkan cuan adalah konten-konten unfaedah—menggoda birahi—yang sifatnya keinginan—sensasi sesaat, tanpa memberikan dampak positif sebagai kebutuhan investasi jangka panjang.
Sebab itu, kini mudah sekali ditemukan konten-konten sampah yang memicu penurunan kondisi mental dan intelektual atau yang bisa disebut sebagai fenomena brain rot—pembusukan otak. Namun, itulah pangsa pasar yang menghasilkan cuan.
Pun demikian dengan program-program pemerintah. Yang menarik dan bisa meningkatkan elektabilitas adalah program-program yang sifatnya populis. Sementara yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia jarang sekali diminati. Seorang presiden, gubernur, bupati/wali kota hampir pasti tidak akan terpilih jika program yang ditawarkan adalah menumbuhkan minat baca, memberikan buku gratis, dan mendirikan perpustakaan di setiap desa.
Rakyat tidak salah. Sebab, mereka adalah korban dari doktrin penguasa yang haus akan kekuasaan, hingga membuat rakyat tidak sadar—tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Benar bahwa membangun infrastruktur itu penting. Namun, sepertinya sudah jauh dari kebutuhan yang semestinya. Begitu banyak infrastruktur dibangung berlebihan. IKN dan bangunan-bangunan gedung mewah di hampir semua daerah, contohnya. Pertanyaannya, untuk siapa bangunan mewah tersebut? Yang jelas bukan fasilitas rakyat. Sementara di sisi lain, mereka—para penguasa—pemangku kebijakan lupa untuk membangun “jembatan pengetahuan”.
Harapan untuk Mas Lindra di Periode Kedua
Mas Lindra—sapaan akrab Bupati Aditya Halindra Faridzky resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan kepemimpinannya di Kabupaten Tuban. Pada periode kedua ini, bupati termuda sepanjang sejarah pemerintahan Kabupaten Tuban itu didampingi sosok birokrat, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda-Litbang) Tuban, Joko Sarwono.
Kami tahu, meski tidak ada survei resmi, namun kami meyakini bahwa indeks kebahagiaan masyarakat Tuban mengalami peningkatan. Itu menyusul suksesnya revitalisasi ruang-ruang publik yang dilakukan Mas Lindra di periode pertama. Di mulai dari Bundaran Sleko Tuban yang direvitalisasi total di tahun pertama pemerintahan. Bundaran yang semula tampak biasa disulap dengan ikon sembilan kuda jingkrak. Sementara taman di samping kiri dan kanan diubah dengan konsep yang lebih kekinian.
Saat awal dibuka dan belum ada ruang publik yang direvitalisasi. Bundaran Sleko menjadi episentrum baru tempat berkumpulnya anak-anak yang haus akan tempat nongki yang representatif di tengah kota. Sejurus kemudian, berjibun pedagang asongan di pinggir-pinggir jalan dan sampai sekarang.
Setahun berikutnya, GOR Rangga Jaya Anoraga turut direvitalisasi total. Fasilitas publik yang semula hanya berfungsi seperti namanya—gelanggang olahraga, itu kini telah menjadi sarana olahraga di ruang publik sekaligus wahana rekreasi tengah kota. Sejak dibuka kurang lebih setahun lalu, keriuhan warga menikmati fasilitas GOR tampak dari siang hingga malam. Tentu, dengan wajah-wajah yang terlihat bahagia.
Berikutnya, Rest Area eks Terminal Lama, juga direvit total dengan konsep kekinian yang anak muda banget. Bahkan, bangunan lama hampir tidak tersisa, dan dengan nama baru Tuban Abirama. Ruang publik di jalur pantura ini juga tidak kalah ramai dari GOR dan Bundaran Sleko. Terlebih saat sore hingga malam. Banyak anak-anak muda nongkrong hingga orang tua sembari mengajak anaknya jalan-jalan.
Dari Tuban Abirama, bergeser ke Taman Hutan Kota dan Alun-Alun. Dua ruang publik ini juga direvitalisasi total. Semula dikenal dengan nama Taman Hutan Kota, kini memiliki nama baru: Taman Hutan Kota Abhipraya. Setelah melalui proses pembangunan yang sempat molor, keduanya baru resmi dibuka pada awal tahun ini. Dan seperti barang baru, dari pagi, siang, hingga malam, kedua ruang publik ini tidak pernah sepi dikunjungi masyarakat. Tumpah ruah, khususnya Taman Hutan Kota Abhipraya, di akhir pekan dan momen liburan penuh sesak, seperti bukan lagi ruang publik, melainkan wahana rekreasi. Dan semua tampak dengan wajah-wajah bahagia.
Selain ruang-ruang publik di tengah kota, beberapa ruang publik di pinggiran kecamatan juga tidak luput dijamah proyek revitalisasi. Hal ini menegaskan Mas Lindra paham benar bahwa salah satu cara untuk meningkatkan indeks kebahagiaan warga adalah menyediakan ruang-ruang publik yang nyaman dan representatif sekaligus sebagai wahana rekreasi. Namun harus diingat, bahwa membangun lebih mudah daripada mempertahankannya. Inilah yang menjadi tantangan ke depan. Sudah jamak, ganti pemimpin ganti pula konsep pembangunannya.
Setelah bahagia didapat, kini saat fokus membangun “jembatan pengetahuan” sebagai investasi jangka panjang. Sebagai warga Kota legen, kami juga memiliki beberapa harapan untuk Tuban ke depan. Atau, setidaknya sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
Pertama, mohon dengan sangat agar ada kebijakan yang mewajibkan setiap anak membaca 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran di sekolah dimulai. Anak diberikan kebebasan untuk membaca buku apa pun yang penting disukai. Kenapa minimal 15 menit membaca ini penting untuk dijadikan sebuah kebijakan. Sebab, untuk membiasakan gemar membaca awalnya harus dipaksa. Terlebih, di tengah dampak negatif teknologi seperti sekarang ini.
Dan itu (membiasakan kebaikan-kebaikan) hanya bisa dilakukan melalui kebijakan. Seperti halnya membiasakan anak menjalankan salat lima waktu, awalnya juga harus dipaksa hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Tentu, juga harus diimbangi dengan teladan dari para pendidik dan orang tua. Karena itu, kebijakan menggemarkan minat baca sejak dini harus digemakan.
Kenapa harus membaca? Karena salah satu konstruksi “jembatan pengetahuan” adalah buku. Dalam sejarah peradaban manusia, satu-satunya instrumen yang paling efektif untuk membangun “jembatan pengetahuan” adalah dengan membaca. Seperti pesan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW: Iqra (Bacalah).
Kedua, menanamkan pendidikan karakter sejak dini. Satu di antara instrumen untuk membentuk karakter anak adalah melalui budaya. Saya masih ingat, pada awal pemerintahan Mas Lindra di periode pertama sempat mengeluarkan kebijakan Rabu Bahasa Jawa. Anak-anak dari tingkat PAUD hingga SMP diharuskan menggunakan bahasa Jawa Krama saat di sekolah.
Pun demikian untuk pejabat di lingkup Pemkab Tuban. Menurut saya, ini merupakan program yang sangat epik. Luar biasa, dan layak menjadi percontohan. Namun sayang, program ini hanya bertahan beberapa bulan. Itu pun tidak maksimal. Harapan kami, program yang sangat bagus untuk membentuk karakter anak melalui budaya ini bisa diseriusi pada periode kedua. Tentu, juga dilengkapi dengan program penanaman karakter lainnya.
Ketiga, membatasi anak bermain gadget. Saya berharap wacana pembatasan penggunaan gadget yang dicanangkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bisa segera terealisasi, lalu Pemkab Tuban menjalankan dengan sangat ketat dan serius. Sebab, kami—sebagai orang tua merasakan betul dampak negatif penggunaan gadget terhadap anak-anak.
Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal dampak negatif tersebut, sebab hal ini sudah jamak dipahami. Sudah begitu banyak hasil riset yang menjelaskan bahayanya dampak negatif gadget terhadap anak-anak.
Setidaknya, tiga harapan itulah konstruksi dalam membangun “jembatan pengetahuan” sebagai investasi jangka panjang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama