RADARTUBAN - Tidak terasa, libur panjang semester genap telah usai. Mulai hari ini, Senin (14/7), tahun ajaran baru 2025-2026 dimulai.
Anak-anak bersiap kembali masuk sekolah. Menempati meja-meja kosong yang ditinggalkan kakak kelas.
Menggores cita-cita pada lembar buku dan papan tulis yang masih kosong. Pun demikian dengan bapak/ibu guru.
Dengan hati yang sudah ditata, terbayang suasana baru di ruang kelas. Menyambut siswa-siswi baru. Mengenal dan menghafal satu persatu nama dan karakter anak.
Idelanya, hari pertama masuk sekolah adalah momen yang menyenangkan.
Khususnya bagi anak-anak, yang tidak sabar mengenakan seragam baru, sepatu baru, buku baru, dan berkenalan dengan teman-teman baru.
Namun tidak bagi Joyo. Sembari menata personal calling-nya sebagai seorang guru, ada rasa cemas yang tertambat dalam gurat wajahnya: masih bisakah menjadi pendidik yang baik di tengah tantangan era yang semakin sulit ini?
Dia menyadari betul zaman berubah dengan sangat capat.
Dulu—sebelum gawai menjadi teman dekat dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, bahkan orang dewasa, hari libur sekolah diisi dengan berbagai kegiatan positif.
Bermain dan bersosial bersama teman-teman, memainkan banyak permainan tradisional sampai larut—tanpa takut besoknya harus bangun pagi-pagi dan berangkat ke sekolah.
Dan masih banyak renjana masa kecil yang kini perlahan telah hilang—diganti dengan kebiasaan bermain gadget.
Kiwari ini, menyambut tahun ajaran baru—setelah tiga pekan libur panjang mengundang segunung harap dan cemas.
Pasalnya, yang menjadi tantangan guru di era yang serba cepat ini bukan hanya menyambut anak didik di depan pintu kelas dengan suasana gembira dan menyenangkan.
Melainkan membangunkan kembali semangat belajar, nalar kritis, dan daya konsentrasi siswa setelah tiga pekan direnggut oleh permainan game (dengan segala kata-kata kasarnya) dan konten-konten video pendek di media sosial tanpa jeda, yang sama sekali tidak mencerminkan interdisipliner.
Selama tiga minggu libur panjang itulah, ruang resiliensi mereka telah direnggut oleh dunia digital yang serba cepat dan instan.
Digerakkan oleh notofikasi dan aktivitas scroll yang tiada henti. Dan selama hampir satu bulan itulah mereka hampir kehilangan nalar kritis dan imajinasi.
Karena itu, tugas seorang guru di awal tahun ajaran baru ini tidak sekadar langsung mengajar.
Tapi bagaimana membuat anak kembali menemukan dunia nyatanya—setelah tiga pekan dengan durasi waktu yang begitu lama berada dunia maya.
Dengan perasaan segudang harap dan sejumput cemas itulah, Joyo tengah berpikir keras untuk kembali memulihkan motivasi belajar anak, mencintai proses belajar yang panjang, dan fokus belajar melebihi durasi scroll. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama