Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jiwa Besar Pertamina dan Logika Mbrebet Massal yang Sulit Dipahami

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 8 November 2025 | 23:11 WIB
Ribuan warga alami motor mbrebet usai isi Pertalite, namun hasil uji lab menyatakan BBM aman
Ribuan warga alami motor mbrebet usai isi Pertalite, namun hasil uji lab menyatakan BBM aman

RADARTUBAN- Kendati sebenarnya sejak awal publik sudah bisa menebak hasil uji laboratorium terhadap sampel pertalite dari sejumlah SPBU yang dilakukan Pertamina Patra Niaga dan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas)—bakal menyatakan bahwa kualitas BBM jenis pertalite—yang diduga membuat motor ribuan masyarakat di Jawa Timur dan sebagian di Jawa Tengeh mbrebet dalam kondisi baik-baik saja, aman, dan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.

Namun, bukan laki-laki dan rakyat Indonesia jika tidak penasaran dengan hasil akhir.

Seperti anekdot stereotipe tentang ibu-ibu yang sein kiri tapi beloknya ke kanan. Begitu pun rakyat Indonesia, meskipun toh sudah tahu bahwa ibu-ibu yang sein kiri bakal belok kanan, kita sebagai laki-laki kadang masih penasaran dan kesilap, lalu tidak hati-hati saat belok kanan, dan tiba-tiba saja langsung ditabrak sama ibu-ibu tadi.

Kita yang dongkol setelah jatuh karena menghindari motor milik si ibu, akhirnya mencoba untuk marah, “Ibu, kenapa Ibu belok ke kanan, padahal seinnya ke kiri?”

Lalu dengan santainya si ibu menjawab, “lho, salah sampean sendiri, Mas. Saya ini nyalain sein kiri buat ngasih tahu sampean, biar sampean ambil kiri, sebab saya mau belok ke kanan.” Huuuffff

Dan begitu pun dalam memahami logika BBM pertalite yang membuat kendaraan mbrebet.

Ketika ratusan masyarakat mengeluhkan masalah yang sama: kendaraan bermotor mengalami mbrebet massal setelah mengisi pertalite, PT Pertamina melalui sub-holding Commercial & Trading Pertamina Patra Niaga memberikan klarifikasi dan membantah keras adanya dugaan Pertalite dicampur Etanol atau tercampur air.

​Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting menegaskan bahwa seluruh produk BBM yang didistribusikan melalui SPBU resmi Pertamina, termasuk pertalite, telah melalui proses pengawasan kualitas (quality control) yang ketat dan dipastikan sesuai spesifikasi yang ditetapkan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas).

Sebaliknya, Pertamina berdalih—bahwa masalah mesin mbrebet tidak serta merta disebabkan oleh kualitas bahan bakar. Tapi bisa juga disebabkan faktor teknis pada komponen kendaraan itu sendiri.

Sebab itu, Pertamina menyarankan agar pemilik kendaraan melakukan pengecekan komponen lain yang vital bagi sistem pembakaran.

“Bisa jadi karena businya yang kotor atau memang sudah waktunya diganti. Bisa juga dari filter udara atau komponen pengapian lainnya yang bermasalah,” kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting.

Karena itu, Pertamina mengimbau masyarakat untuk melakukan perawatan rutin guna memastikan komponen kendaraan seperti busi, filter bahan bakar, dan filter udara dalam kondisi prima melalui servis berkala. Dan untuk menjamin kualitas dan takar sesuai standar, masyarakat diimbau mengisi BBM di SPBU resmi.

Seperti anekdot ibu-ibu sein kanan belok kiri, meski sudah jelas-jelas bahwa fenomena motor mbrebet massal ini berlangsung setelah mengisi BBB jenis pertalite di SPBU, dan setelah diservis juga menunjukkan adanya penurunan kualitas pertalite, serta adanya endapan air di tangki kendaraan.

Dan bahkan yang mengatakan demikian juga Kepala Mekanik Pertamina Fastron Auto Service General Motor Partnership (PFAS GMP) (Jawa Pos edisi Jumat, 7 November 2025), tapi tetap saja rakyat yang salah, dan seakan malah dituding tidak melakukan perawatan kendaraan secara rutin.

Dalam konteks logika, dari argumen yang disampaikan, Pertamina seakan sedang bermain red herring fallacy, yakni mengalihkan substansi persoalan dengan membawa topik baru—bahwa penyebab kendaraan mbrebet itu karena jarang diservis. Tujuan red herring fallacy adalah membuat audiens kehilangan fokus pada isu utama dan beralih ke hal lain.

Pertanyaannya sekarang, jika Pertamina menyatakan bahwa hasil uji lab sampel pertalite tidak ada masalah dan sudah sesuai dengan spesifikasi pemerintah, berarti ratusan, bahkan ribuan masyarakat di Jawa Timur dan sebagian di Jawa Tengah selama dua pekan terakhir ini memproduksi informasi yang tidak benar alias hoaks.

Artinya, ada ribuan masyarakat di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah tidak rutin merawat kendaraannya, dan tidak mengisi BBM di SPBU resmi.

Logikanya, masak iya ribuan masyarakat di Jawa Timur dan sebagian di Jawa Tengah ini tidak rutin merawat kendaraannya, lalu tiba-tiba janjian nyervis kendaraannya bareng-bareng selama dua pekan terakhir. Sungguh di luar nurul. Sementara motor Nurul juga mbrebet. Secanggih-canggihnya operasi intelejen, sepertinya tidak sejauh ini.

Dan yang lebih sulit dipahami lagi, ketika di satu sisi Pertamina menegaskan bahwa BBM jenis pertalite yang disalurkan di berbagai SPBU sudah sesuai spesifikasi, tapi di sisi lain siap memberikan kompensasi kepada masyarakat yang kendaraannya mbrebet.

Yakni, Rp 150 ribu untuk kendaraan roda dua dan maksimal Rp 600 ribu untuk kendaraan roda empat dengan catatan menyertakan struk pembelian BBM.

Sungguh baru kali ini ada BUMN yang memiliki “jiwa mulia”. Meski tidak bersalah, tapi siap bertanggung jawab, seperti judul lagu Angge Angge Orong Orong. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#bbm #SPBU #Lemigas #pertalite #Jawa Timur #kendaraan mbrebet