Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pak Dadan dan Pelajaran Bahasa tentang Pengandaian

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 25 April 2026 | 17:04 WIB
Ahmad Atho’illah Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban
Ahmad Atho’illah Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban

BUKAN Dadan Hindayana jika tidak mampu berkomunikasi dengan sangat baik. Bapak Gizi Nasional ini merupakan satu-satunya pejabat ring 1,5 Presiden yang memiliki gaya komunikasi di atas rata-rata manusia normal. Tenang, santuy, dan tetap mesam-mesem meski mendapat banyak tekanan pertanyaan dari wartawan. Dan sesekali dengan tawa menggoda mengembang dari dua bibirnya yang sangat imut.

Salah satu contoh ketenangan Dadan dalam berkomunikasi, itu tampak saat memaparkan kesuksesan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di hadapan Presiden Prabowo. Dengan bahasa yang kalem tapi meyakinkan, blio mengatakan bahwa satu anak menerima satu menu ikan lele utuh—yang kepalanya sudah dipotong. Saking meyakinkannya, Presiden pun sampai menggut-manggut.

Dan bukan Dadan jika tidak mampu memanfaatkan setiap momentum kemanggutan Presiden. Hanya dalam hitungan detik, dan dengan senyum menggemaskan, Dadan melanjutkan sebuah imajinasi dari ikan lele ke daging sapi, ‘’dan kemudian Pak, kalau masak daging sapi, masak satu ekor sapi satu hari dipotong untuk satu SPPG. Jadi, kalau di akhir tahun ini ada 19 ribu SPPG, maka ada 19 ribu sapi dalam satu hari (dalam seminggu) harus dipotong karena program makan bergizi. Kalau empat kali sebulan, ya tinggal dikalikan, Pak. Tapi saya sudah konsultasi dengan Dirjen Peternakan, katanya cadangan sapi nasional cukup untuk bisa mengantisipasi kebutuhan program makan bergizi,” kata Dadan disambut rasa bangga Presiden atas keberhasilan program andalannya. “Hemmmm… mantab juga nih orang membual,” batin Presiden dalam imajinasi saya.

Tidak menunggu waktu lama, pernyataan manis Dadan viral. Hujatan netizen hingga meme bergambar Dilan—eh, maksud saya Dadan, mengalir tak terbendung. Namun, bukan Pak Dadan jika tidak tenang dan tetap santuy dalam menghadapi setiap hujatan. Baginya, cemoohan netizen adalah bagian dari gizi. Semakin banyak dicemooh, Pak Dadan semakin banyak mendapat gizi tambahan. Karena itu, yuk terus…

Namun, jika dicermati lebih dalam, ucapan Dadan adalah bagian dari pengetahuan. Hanya saja, Pak Dadan bukan orang yang suka berterus terang. Blio adalah tipikal pejabat yang suka berkomunikasi dengan publik secara linguistik, seperti halnya ketika blio berbicara dengan serangga—ada struktur tubuh, perilaku, siklus hidup, dan peran ekosistem yang harus dipahami terlebih dahulu.

Begitu pun cara Pak Dadan dalam memahami karakter orang Indonesia. Kuncinya, dipancing terlebih dahulu. Setelah berisik, baru diajak berpikir secara linguistik. Sebab, kelemahan orang Indonesia adalah memahami bahasa. Utamanya bahasa serangga—eh maksud saya, padanan kata.

Setelah hampir satu bulan viral dan dihujat banyak orang ihwal pernyataannya menyembelih satu ekor sapi saban minggu di setiap SPPG, akhirnya belio dengan sangat tenang menjelaskan—bahwa pernyataan yang pernah disampaikan saat rapat bersama Presiden Prabowo dan jajaran menteri, itu adalah bagian dari pelajaran linguistik untuk memahami bahasa secara sintaksis dan semantik.

Pak Dadan mengatakan bahwa pernyataan menyembelih 19 ekor sapi dalam satu hari saban minggu adalah sebuah pengandaian. Blio menyebut, kebutuhan belasan ribu ekor sapi itu bukan kondisi riil, tetapi perhitungan berdasarkan pada asumsi jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan daging sapi.

‘’Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi, maka dia butuh satu ekor. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,’’ kata Pak Dadan dengan tetap tenang dan santuy. Dan hanya blio, satu-satunya pejabat istana yang berani ngibuli Presiden—eh, maksudnya menggunakan diski andai-andai dalam rapat penting bersama Presiden.

Tahan… sebelum misuh, kita cermati dulu pernyataan blio dari sisi bahasa. Dalam pernyataan sebelumnya, blio menggunakan diksi kalau. Katanya, “kalau masak daging sapi…”

Jika didedah secara KBBI, kalau merupakan partikel (p) yang memiliki dua arti. Pertama, sebagai kata penghubung untuk menandai syarat (contoh: kalau mengkritik pemerintah, harus minta izin Pak Dadan dulu). Kedua, sebagai sinonim dari kata seandainya (contoh: kalau MBG ditiadakan, apakah rakyat akan senang?)

Nah, betul kan… apa yang gue bilang, Pak Dadan ini bukan hanya ahli serangga, tapi juga ahli bahasa. Setiap yang diucapkan adalah kebenaran bahasa. Pernyataan kalau yang diucapkan Pak Dadan, baik secara sintaksis maupun semantik mengandung makna seandainya.

Itulah kelebihan Pak Dadan: pandai berkilah—eh, maksudnya pandai berbahasa. Sungguh pejabat idaman para pengusaha: kalem, tapi sangat lihai dalam menghabiskan anggaran. Bagi blio, anggaran yang sudah dialokasikan harus dihambur-hamburkan, eh salah lagi, maksudnya dibelanjakan. Sebab, semua anggaran milik Allah. Sedangkan tugas pejabat adalah menghabiskannya.

Pak Dadan telah memberikan pelajaran berbahasa yang baik dan berkilah. Dan murid yang pintar adalah mempraktiknya. Sebagai contoh: kalau Pak Dadan ketahuan korupsi anggaran MBG, lalu ditangkap KPK, apa yang anda lakukan? Ini seandainya, ya… (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kalau #dadan #linguistik #Mbg #sapi