RADARTUBAN- Dari sekian banyak nama pejabat di lingkaran kekuasaan yang saya kenal, Kanda Bahlil Lahadalia adalah menteri paling jujur, baik dalam tindakan maupun ucapan.
Ini serius, saya tidak sedang dalam bersatire. Jika Dadan Hindayana adalah gambaran kejujuran pemerintah dalam menghabiskan uang negara, Kanda Bahlil mewakili kejujuran mantan aktivis setelah menikmati kekuasaan.
Dari Kanda Bahlil kita belajar bahwa uang, fasilitas negara, dan jabatan itu sangat menggiurkan. Dan hampir dapat dipastikan membuat para aktivis yang dulunya berteriak: Hidup Mahasiswa…! Hidup Rakyat…! berubah menjadi Hidup Jokowi…! Dan yang dulunya keras memperjuangan nasib rakyat—dengan slogan: jangan ada rakyat miskin, kini telah bermetamorfosis: yang penting jangan kita yang miskin…
Saya tidak suka dengan Bahlil, tapi saya salut dengan kejujuran kanda satu ini. Gaya bicaranya los, ceplas-ceplos, dan tanpa tedeng aling-aling. Tidak seperti mantan aktivis lain yang sudah nyaman menetek kekuasaan. Kanda Bahlil beda. Kejujurannya mewakili para mantan aktivis yang malu-malu kucing untuk mengakui cara menetek kekuasaan dari jalur aktivis.
Dan dari sekian banyak penggalan pidato Kanda Bahlil, yang saya suka adalah ini, ‘’… kita ini, dulu kita waktu aktivis, waktu miskin, lihat mobil bagus kita marah, mau lempar aja itu mobil. Apalagi kalau pakai mobil pengawalan, paling benci saya. (Tapi, red) begitu punya duit, bisa beli mobil bagus, enak juga barang ini. Dulu kita mau makan bakso aja tidak boleh (baca: bisa), sekarang makan bintang 5 boleh, enak juga barang ini. Dulu kita benci pakai pengawal, (tapi, red) begitu jadi menteri, ada pengawal, ah paten juga barang ini, ah kira-kira begitu. Jadi, saya mau sampaikan untuk kalian, jangan coba-coba bilang kita-kita oligarki atau oligarki itu nggak bagus. Tunggu kalian, saya mau tunggu, begitu suatu saat kalian jadi pejabat, jadi orang kaya, mungkin kelakuan kalian akan lebih jahat daripada saya. Saya mau sampaikan saja, memang barang-barang enak ini membuat cemburu semua orang…”
Pidato Kanda Bahlil adalah kata-kata yang meluncur rapi, penuh kejujuran, dan tanpa perlu ditutup-tutupi. Sebab, itulah dunia aktivis. Saat menjadi mahasiswa berteriak atas nama buruh, tani, dan rakyat miskin kota. Tapi setelah berada di lingkaran kekuasaan, “ah, enak juga ini barang.” Ya begitulah kira-kira.
Bagi sebagian orang, apa yang dikatakan Kanda Bahlil adalah hal yang wagu. Tapi tidak di benak kalangan aktivis. Itu adalah hal lumrah—ketika sudah berada di lingkaran kekuasaan dengan segala fasilitas yang diberikan oleh negara. Karena itu, biasa saja ketika melihat ada aktivis yang berteriak, hidup buruh tani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota.
Namun, ada juga mantan aktivis yang tetap menjaga idealismenya hingga tua. Hanya saja, rata-rata tidak kaya dan tidak dalam lingkaran kekuasaan. Kalaupun kaya, adalah berkat usahanya sendiri. Tanpa memanfaatkan relasi kuasa.
Dinas, Idealisme Itu Romantisasi Masa Lalu
George Orwell dalam bukunya Nineteen Eighty-Four menggolongkan manusia dalam tiga jenis: atas, menengah, dan bawah. Tiga jenis golongan manusia ini sudah berlangsung sejak zaman neolitik. Dan dari zaman ke zaman selalu terulang.
Menurut Orwell, tujuan dari masing-masing kelompok manusia ini tidak pernah bisa dipertemukan. Masing-masing memiliki kepentingan.
Dijelaskan, tujuan dari kelompok atas adalah mempertahankan posisi mereka yang tinggi. Sedangkan tujuan kelompok menengah adalah bertukar tempat dengan kelompok atas. Adapun tujuan kelompok bawah cukup sederhana, menghapus perbedaan dan berharap masyarakat yang setara. Hanya saja, kelompok bawah selalu menjadi korban—dimanfaatkan oleh kelompok tengah yang ingin mengambil alih posisi kelompok atas.
Dalam konteks sekarang, tiga kelompok ini adalah penguasa, aktivis, dan rakyat biasa. Sepanjang sejarah manusia, siklus dari tiga kelompok manusia ini selalu terulang. Golongan atas selalu berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan segala kemampuan yang dimiliki. Namun, lambat laun bakal digantikan oleh kelompok tengah, baik karena sudah kehilangan cara untuk mempertahankan kekuasaannya maupun digulingkan oleh kelompok tengah.
Jamaknya, sepanjang sejarah, dalam menggulingkan kelompok atas, kelompok menengah merekrut kelompok bawah dengan berpura-pura memperjuangan kemerdekaan dan keadilan. Namun, setelah tujuan mereka tercapai, kelompok bawah selalu dicampakkan.
Dari ketiga kelompok ini, hanya kelompok bawah yang tidak pernah berhasil mencapai tujuannya. Sebab, dari sudut pandang kelompok yang berhasil merebut kekuasaan, kesetaraan dan keadilan bukan cita-cita yang harus diperjuangakan. Tapi sebaliknya, kesetaraan dan keadilan yang dicita-citakan kelompok bawah adalah bahaya yang harus dihindari oleh kelompok atas.
Pembagian manusia dalam tiga kelompok oleh George Orwell adalah gambaran kejujuran Kanda Bahlil. Bagi seorang aktivis yang berhasil naik ke podium kekuasaan, idealisme—memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi kelompok bahwa adalah fosil dari sebuah fase yang telah dilewati. Hingga akhirnya mereka akan berkata, “Dinda, sudah saatnya kita kaya…” (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni