Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Orang Desa Tidak Pakai IHSG

Yudha Satria Aditama • Kamis, 21 Mei 2026 | 09:00 WIB
Opini ditulis oleh: Yudha Satria Aditama (Manager Digital Jawa Pos Radar Tuban)
Opini ditulis oleh: Yudha Satria Aditama (Manager Digital Jawa Pos Radar Tuban)

RADARTUBAN - Ada bunyi yang tak terdengar di jalanan ketika angka-angka di layar bursa efek Indonesia mulai memerah. Tidak ada sirene. Tidak ada kepulan asap. Orang-orang tetap berangkat kerja, warung tetap buka, kopi tetap diseduh seperti biasa. Namun, di balik ketenangan itu, pasar sedang mengirim pesan: ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Ketika IHSG jatuh, sebagian buzer itu sering buru-buru berkata bahwa pasar saham bukan cerminan kondisi rakyat. Memang benar.

Tidak semua warga memiliki saham, tidak semua pedagang kecil memantau grafik candlestick, dan tidak semua petani memahami istilah kapitalisasi pasar. Tetapi menganggap kejatuhan IHSG tidak penting sama saja seperti mengabaikan termometer hanya karena dia tidak bisa menjelaskan seluruh penyakit tubuh.

Termometer memang bukan alat diagnosis menyeluruh. Alat pengukur suhu tubuh ini tidak memberi tahu organ mana yang rusak, virus apa yang menyerang, atau seberapa parah infeksi yang terjadi.

Namun ketika suhu tubuh mendadak tinggi, orang waras tidak akan berkata: Ah, itu cuma angka. Melainkan, dia akan mulai bertanya: ada apa dengan tubuh ini?

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Rontok Usai Pidato Prabowo, Pasar Cium Risiko Kebijakan Agresif Baru

IHSG bekerja dengan logika yang sama. Dia adalah suhu psikologis ekonomi. Ketika indeks terus melemah, investor asing keluar, nilai tukar terguncang, dan pasar kehilangan kepercayaan, itu merupakan alarm awal bahwa fondasi ekonomi sedang diganggu oleh sesuatu yang lebih dalam: ketidakpastian.

Masalah terbesar ekonomi hari ini bukan sekadar soal angka pertumbuhan yang dipamerkan di podium konferensi pers. Masalah terbesar adalah hilangnya rasa percaya.

Kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam ekonomi modern. Negara bisa memiliki sumber daya alam melimpah, bonus demografi besar, bahkan proyek-proyek raksasa bernilai triliunan rupiah. Tetapi tanpa kepercayaan, semuanya hanya tampak seperti bangunan megah di atas tanah retak.

Pasar selalu bergerak lebih cepat daripada pidato Prabowo. Bursa efek membaca kecemasan bahkan sebelum pemerintah mengakuinya. Investor tidak hanya menghitung laba, mereka menghitung stabilitas.

Mereka memperhatikan arah kebijakan, kualitas pengelolaan fiskal, kepastian hukum, hingga cara negara merespons kritik. Dan ketika terlalu banyak ketidakjelasan muncul bersamaan, modal mulai mencari pintu keluar.

Ironisnya, di tengah gejala yang semakin terlihat, kita justru sering sibuk menciptakan ilusi optimisme. Kritik dianggap pesimisme. Kekhawatiran dianggap ancaman terhadap semangat nasional.

Padahal ekonomi bukan mantra yang bisa membaik hanya dengan narasi positif. Pasar tidak bisa dibujuk dengan slogan. Bergerak berdasarkan keyakinan bahwa sebuah negara tahu ke mana akan berjalan.

Kepercayaan publik hari ini perlahan terkikis oleh banyak hal: utang yang terus membesar, daya beli masyarakat yang melemah, lapangan kerja formal yang tidak tumbuh secepat kebutuhan, serta kebijakan yang sering terasa reaktif ketimbang terencana. Di sisi lain, rakyat dipaksa hidup dalam paradoks. Statistik resmi berbicara tentang pertumbuhan, tetapi meja makan banyak keluarga justru semakin sunyi dari lauk yang layak.

IHSG yang jatuh bukan akhir dunia. Namun sejarah ekonomi menunjukkan bahwa pasar sering kali menjadi makhluk pertama yang merasakan badai sebelum awan gelap benar-benar terlihat oleh semua orang.

Baca Juga: Hari Kebangkitan Nasional: Sejarah, Fakta, dan Semangat Persatuan Bangsa

Seperti burung yang terbang rendah sebelum hujan besar datang. Mengabaikannya hanya karena belum semua sektor runtuh adalah bentuk kelalaian yang mahal.

Yang lebih berbahaya dari indeks merah adalah sikap menyangkal. Sebab negara tidak pernah runtuh dalam semalam. Seakan melemah perlahan: dimulai dari hilangnya kepercayaan, disusul keluarnya modal, menurunnya investasi, melemahnya konsumsi, lalu meningkatnya kecemasan sosial. Semua terjadi setahap demi setahap, tapi sering kali ditutupi dengan bungkus pidato penuh optimisme.

Indonesia tentu bukan negara gagal. Kita masih memiliki potensi besar, sumber daya melimpah, dan generasi muda yang kreatif. Namun potensi tidak otomatis berubah menjadi kekuatan apabila pengelolaan ekonomi kehilangan arah dan sensitivitas terhadap realitas.

Karena itu, kejatuhan IHSG seharusnya tidak direspons dengan kemarahan kepada pasar, melainkan dengan keberanian untuk bercermin. Alarm tidak diciptakan untuk ditakuti, melainkan untuk didengar.

Dan bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah mendapat peringatan, melainkan bangsa yang mau memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#bursa efek #saham #ihsg