RADARTUBAN- Sejarah boleh ditulis oleh para pemenang, tapi kejujuran tak akan pernah lekang. Gus Dur dan Jenderal Hoegeng adalah dua dari sekian perwujudan integritas yang melembaga dalam ingatan.
Tanpa bermaksud menegasikan tokoh lain yang juga berlaku jujur. Namun, humor Gus Dur tentang kejujuran di negeri ini yang paling mudah kita ingat adalah guyonan satire tiga polisi jujur. Dalam guyonannya, Gus Dur mengatakan, di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur yang tidak bisa disuap. Pertama, mantan Kepala Polri almarhum Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Kedua, patung polisi, dan ketiga adalah polisi tidur.
Sepintas, guyonan ini terkesan menghakimi. Namun, jika ditelaah lebih dalam, bukan soal institusi yang dimaksud oleh Gus Dur. Apalagi menertawakan profesi. Terlalu jauh. Sebab, dari sekian ratus ribu polisi, tentu bukan hanya Jenderal Hoegeng yang jujur. Dan Gus Dur tahu itu.
Dalam konteks ini, Gus Dur sedang mendidik kita tentang kejujuran dan integritas. Kebetulan, contoh paling dekat yang mudah dipahami adalah kisah tentang Jenderal Hoegeng. Dan seperti halnya kaidah tasawuf: La ya'riful wali illal wali (hanya wali yang tahu kewalian orang).
Pun demikian dalam konteks ini, hanya orang yang memiliki kejujuran tinggi yang mengetahui kejujuran orang. Gus Dur dan Jenderal Hoegeng adalah dua tokoh bangsa yang memiliki level kejujuran yang sama.
Bagi Gus Dur, Jenderal Hoegeng adalah simbol kejujuran. Sosok polisi yang menolak suap, menolak hidup dalam kemewahan, dan memilih keadilan sebagai prinsip hidup.
Dan seperti takdir yang selalu menemukan jalannya. Kendati integritasnya dalam menjalankan tugas berakhir pada pemecatan dirinya sebagai Kapolri, namun kejujurannya terus melembaga hingga sekarang.
Dalam artikelnya berjudul: Hoegeng, Polisi Teladan yang terbit di Harian Kompas pada 1 Juli 2024, Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam mengenang Hoegeng sebagai sosok polisi yang patut diteladani.
Cerita tentang Hoegeng diawali pada 1956. Waktu itu, Hoegeng ditugaskan sebagai Kepala Reserse Kriminal di Sumatera Utara. Tugas yang sangat berat karena wilayah tersebut dikenal sebagai daerah penyelundupan.
Karena mungkin dianggap sama seperti polisi-polisi sebelumnya, kedatangan Hoegeng langsung disambut para cukong judi dengan fasilitas rumah dan mobil pribadi. Namun, oleh Hoegeng langsung ditolak. Termasuk seluruh perabot rumah tangga yang dikirim ke rumahnya. Kaget dengan adanya polisi sejujur Hoegeng, Kota Medan langsung gempar.
Cerita lain, ketika Presiden Soekarno menunjuk dirinya menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi, sehari sebelum pelantikan, Hoegeng meminta kepada sang istri untuk menutup usaha toko kembangnya. Alasannya sederhana, khawatir akan banyak orang yang memesan ucapan karangan bunga di tempat usaha istrinya.
Selama bertugas, Hoegeng selalu merasa cukup. Ketika hendak diberikan fasilitas mobil baru selalu ditolak. Pun ketika diminta pindah di rumah dinas yang baru, juga tidak pernah mengiyakan. Alasannya pun selalu sederhana: sudah cukup.
Selama menjadi Kapolri, Hoegeng tidak pernah meminta ajudan untuk membawakan tasnya. Bahkan masih sering ikut mengatur lalu lintas ketika melihat kemacetan. Tak ada setitik pun jabatan yang disombongkan.
Pun ketika anaknya hendak melamar menjadi taruna TNI AU, Hoegeng enggan memberikan izin. Satu hal yang dikhawatirkan, adalah anggapan memuluskan putranya menjadi taruna.
Saking jujur dan berintegritasnya dalam menjalankan tugas, satu-satunya penghasilan untuk menopang hidupnya setelah purna menjadi Kapolri hanya uang pensiunan. Bahkan, pernah hendak menjual sepatu yang dimiliki karena saking tidak adanya uang yang tersisa. Itu pun tidak laku, karena sepatunya tidak bermerek. Dan masih banyak lagi kisah kejujuran dan kesederhanaan Hoegeng yang hampir tidak mungkin kita temukan pada pejabat hari ini.
Namun, ketika membaca ulang sejarah polisi di Indonesia, sejatinya tugas seorang polisi adalah penjaga moral. Catatan itu bisa kita baca ulang dari Proklamasi Polisi Indonesia oleh Tokubetsu Keisatsu Tai, Kepolisian Istimewa bentukan Jepang di Hindia Belanda pada 21 Agustus 1945, atau empat hari setelah kemerdekaan.
Lantas, apa yang membuat polisi hari ini jauh dari teladan Hoegeng dan sejarah awal pembentukan polisi di Indonesia sebagai penjaga moral, bahkan tidak sedikit polisi yang amoral, korupsi, hingga membekingi praktik-praktik ilegal dan kejahatan di negeri ini? Jawabannya adalah, karena hilangnya kejujuran dan kesederhanaan.
Di Tuban, ada polisi yang diduga turut membekingi penambangan ilegal. Namun, juga masih banyak yang baik, meskipun tidak sejujur dan sesederhana Jenderal Hoegeng. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni