[irp posts="13380" ]
Kepada Jawa Pos Radar Tuban, Zuhri, sapaan akrabnya, mengungkapkan, sejumlah pasien HIV AIDS yang ditemukan statusnya sudah beristri. Tak sedikit yang ingin bertobat dan kembali ke kodrat manusia untuk menyukai lawan jenis.
Dokter spesialis kandungan itu menjelaskan, pemicu seorang pria menjadi gay rata-rata karena tiga hal.
Terbanyak karena trauma masa kecil. Sebagian gay di Tuban mengaku terpaksa menyukai sesama jenis karena pernah menjadi korban pelecehan seksual saat masih kecil. Pelakunya orang dewasa di lingkungannya.
‘’Sebagian besar LSL (lelaki seks lelaki) adalah korban sodomi saat masih kecil, lalu mereka keterusan sampai dewasa,’’ tuturnya.
Pemicu terbanyak kedua, kata Zuhri, adalah sakit hati dengan perempuan. Dokter lulusan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mengatakan, sebagian gay mengaku trauma dengan kisah percintaan masa lalu.
Tak sedikit dari mereka pernah jatuh cinta dengan wanita. Namun, sang wanita yang sangat dicintai justru menjadi pemicu sakit hati terbesarnya.
‘’Pria ini justru menemukan kenyamanan pada temannya yang laki-laki. Akhirnya jatuh cinta hingga menjadi LSL,’’ ujarnya.
Masih kata Zuhri, pemicu ketiga adalah iseng. Tidak sedikit dari mereka mengaku menjadi gay hanya karena coba-coba.
Awalnya, dia tertarik mempelajari seluk beluk gay dari teman-temannya. Namun, pada akhirnya, pria tersebut benar-benar tertarik menjadi penyuka sesama jenis.
‘’Bisa disimpulkan para LGBT ini sebagian besar mengalami trauma di masa lalu yang mendalam. Lebih ke persoalan psikologis atau mental,’’ jelas dokter yang bertugas di RSUD dr R. Koesma Tuban itu.
Apakah benar jumlah gay di Tuban mencapai ribuan? Zuhri mengatakan, gay yang terdata saat ini hanya yang menjadi pasien HIV AIDS. Selebihnya, belum ada angka valid yang merujuk jumlah pasien gay di Bumi Ronggolawe.
Kepada wartawan koran ini, dia membenarkan ada aplikasi atau medsos yang menjadi tempat gay cari pasangan atau sekadar menambah relasi.
‘’Beberapa pasien saya pernah menunjukkan aplikasi khusus tersebut,’’ terang dokter kelahiran Lamongan itu.
Dia melanjutkan, saat aplikasi dinyalakan di Sleko, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, platform pencari gay tersebut mendeteksi sekitar sepuluh orang gay yang sedang mencari pasangan di radius 1 kilometer.
Dengan sampel tersebut, bukan tidak mungkin jumlah lelaki penyuka sesama jenis di Tuban jumlahnya cukup besar.
‘’Sebagian dari mereka sudah beristri atau bisa dibilang bisexual,’’ ungkapnya.
Dokter senior di Tuban itu juga meyakini LGBT adalah permasalahan mental. Artinya, mereka bisa disembuhkan jika memiliki niat yang besar, meski hal itu tidak mudah.
Zuhri yakin setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah ke arah yang lebih baik. Hal tersebut tergantung niat dan persoalan psikologis setiap orang.
‘’Jika ada orang normal yang bisa berubah menjadi penyuka sesama jenis, artinya ada kemungkinan penyuka sesama jenis juga berubah menjadi orang normal,’’ kata dia.(yud/ds)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Amin Fauzie