RADARTUBAN.COM-Literasi juga dikenal di dunia kosmetik. Salah satu kemampuan memahami dan mengolah informasi seputar feminisme tersebut adalah mengenal kosmetik aman.
Salah satu pembuat konten kecantikan yang terkenal dengan kampanyenya #TeamSawoMatang, Christy Raina Septiningrum Mamesah mengatakan, hal yang dikampanyekan kepada pengikutnya selaras dengan tujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Dalam kampanyenya, dia memberikan pencerahan bahwa pemilik kulit sawo matang seharusnya merasa cantik dengan warna kulitnya.
Christy mengungkapkan, pasar produk kecantikan di Indonesia tidak lepas dari pencarian terbesar terhadap produk pemutih yang instan tercemar merkuri dan hidrokuinon.
“Makanya aku disini ingin stand for it (berdiri untuk hal tersebut), karena ini masih jadi problematika orang pakai skin care ingin putih. Jadi sesuai dengan BPOM yang melarang merkuri dan produk yang instan. Ini selaras dengan program BPOM agar sebagai audiens kita lebih waspada dan cerdas dalam memilih produk kecantikan,” ujarnya pada acara Membangun Literasi Masyarakat terkait Kosmetik Aman di Jakarta, Rabu (20/9).
Kegiatan yang digelar BPOM tersebut berkolaborasi dengan penggemar kecantikan.
Dikutip dari ANTARA, Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, kegiatan untuk menimplementasi peluncuran Program Inspirasi atau mengintensifkan peningkatan literasi. Tujuannya untuk pemahaman kosmetik aman.
Penny mengatakan, acara yang menghadirkan Forum Peningkatan Literasi Kosmetik Aman tersebut sekaligus untuk menjawab fenomena tingginya minat masyarakat terhadap produk kosmetik yang sekitar 50 persen didominasi izin BPOM.
“Biasanya kita bilang produk kosmetik yang paling berisiko rendah dari yang semuanya. Tapi bukan berarti tidak berbahaya untuk aspek kesehatan dan estetika ya, dan yang akan menambah kepercayaan diri kita tentunya. Untuk itulah BPOM sangat peduli bahwa masyarakat itu mendapatkan, dimulai dari produksinya, distribusinya, sampai dengan saat diiklankan, dipromosikan, dan dikonsumsi, dibeli dari riteler, itu betul-betul produk yang aman, berkualitas, dan bermanfaat,” ujar Penny.
Untuk membangun literasi masyarakat terkait kosmetik aman, kata dia, BPOM mengundang penggemar kecantikan dari berbagai latar belakang.
Di antaranya, perias wajah, pemilik media kecantikan, pembuat konten kecantikan di media sosial, pemilik merek kosmetik, hingga dokter kecantikan dan spesialis kulit kelamin.
Dengan literasi kosmetik aman, BPOM berharap dapat melakukan pengawasan sekaligus mendapat laporan jika terjadi permasalahan dari sejumlah produk yang dicurigai berbahaya.
Dari kolaborasi tersebut, Penny juga berharap menjadi sarana edukasi dan promosi tentang pemahaman ilmiah, regulasi, dan etika kosmetik aman.
“Sekarang akses ke internet masyarakat Indonesia begitu melimpah sehingga itu memang ruang yang harus kita cermati. Pengawasan BPOM itu di ruang-ruangan internet itu semakin intensif, termasuk terhadap iklan-iklan yang disiarkan atau dikomunikasikan melalui jalur-jalur online,” tutur Penny.
(ds)