Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Berikut 4 Tindakan Pencegahan Hadapi Trust Issue yang Kini Lagi Marak di Kalangan Gen Z

Fitri Nur Asih Wijayanti • Rabu, 18 Oktober 2023 | 23:27 WIB

Photo
Photo

Belakangan ini, istilah trust issue menjadi fenomena baru di kalangan remaja yang sedang patah hati. Khususnya Gen Z (kelahiran 1996-2010). Karena itu, Hari Trauma Sedunia atau World Trauma Day yang diperingati Senin (16/10) menjadi refleksi bagi Gen Z.

 

APA yang harus dilakukan dan bagaimana cara menangani ketika mengalami trust issue? Psikolog Indartik memberikan pemaparan secara detail.

Dijelaskan Iin—sapaan akrabnya, secara psikologis trauma merupakan respon emosional individu terhadap peristiwa menakutkan, termasuk juga pada peristiwa yang menimbulkan keterkejutan.

‘’Keja dian mengejitkan ini disebut traumatik,’’ jelasnya.

Photo
Photo

Iin mengungkapkan, ada banyak macam penyebab trauma. Diantaranya, trauma  akibat perundungan, bencana alam, kekerasan fisik, dan putus cinta—yang biasanya dialami para remaja.

‘’Ada juga yang menggolongkan menjadi tiga, yaitu trauma akut karena kejadian membahayakan, kronis akibat kejadian buruk, dan kompleks akibat beberapa kali kejadian traumatis,’’ ungkapnya.

Psikolog tinggal di Kecamatan Kerek itu mengaku sering menangani pasien dengan kasus trust issue.

‘’Terkait putus cinta beragam penyebab yang saya tangani, ada yang dikhianati oleh pasangan, bahkan karena putus cinta berkali-kali,’’ paparnya.

Terkait fenomena trust issue yang disebabkan putus cinta, yang saat ini marak   terjadi di kalangan Gen Z, alumnus Universitas Negeri Semarang itu mengungkapkan bahwa trust issue merupakan wajar sebagai hubungan sebab akibat.

‘’Tidak masalah jika seiring waktu bisa pulih, tetapi kalau semakin buruk bisa menyebabkan post traumatic stress disorder (PTSD), obsessive compulsive disorder (OCD), atau gangguan psikologis berat lainnya,’’ ungkapnya.

Disampaikan Iin, dampak dari trust issue dalam putus cinta umumnya dapat menyebabkan sesorang takut menjalin hubungan kembali.

Beberapa dampak lainnya, yakni menarik diri, loneliness, mudah cemas terhadap hal-hal kecil, bahkan mudah berpikiran negatif terhadap orang lain.

Lulusan pascasarjana Psikologi Universitas Airlangga itu mengungkapkan, tindakan pencegahan trust issue berbeda-beda.

Tergantung kasusnya. Untuk kasus patah hati yang marak dikalangan Gen Z, ada lima tindakan pencegahan yang bisa dilakukan.

Yakni, memahami bahwa segala hal memiliki risiko, belajar percaya, menerima dan menghadapi rasa takut, mengenali diri sendiri, dan yang terakhir ke profesional psikolog klinis atau psikiater.

Iin menjelaskan, ketika seseorang memutuskan untuk menjalin hubungan maka harus memahami bahwa akan ada risiko patah hati, bertengkar, dihianati, bahkan dijauhi teman.

Kedua, belajar percaya dengan cara belajar untuk membuka hati kembali.

Ketiga, me nerima rasa takut dan menghadapinya dengan pengalaman yang didapat.

Keempat, mengenali kelemahan dan kelebihan diri sendiri, pahami tidak ada orang yang sempurna.

‘’Tetaplah percaya diri dan tetap membuka diri terhadap orang lain. Dengan demikian rasa takut kita terhadap seseorang tidak berkembang menjadi trust issue,’’ pesannya. (fit/tok)

Editor : Amin Fauzie
#trust issue #Gen Z #psikologis #Hari Trauma Sedunia #16 oktober