RADARTUBAN-Meski baru pertama kali bertemu, seseorang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dilansir dari doktersehat.com, ternyata ada teori yang bisa menjelaskannya.
Berikut ini beberapa alasan mengapa seseorang jatuh cinta, meskipun baru pertama kali bertemu:
1. Tertarik secara fisik
Mengacu penelitian yang dirilis Journal of Neuroscience, seseorang bisa langsung memutuskan apakah orang lain menarik atau tidak dalam waktu singkat.
Fenomena cinta pada pandangan pertama tidak bisa terjadi tanpa adanya ketertarikan awal tersebut.
2. Ada reaksi kimia pada otak
Saat merasa jatuh cinta, otak akan melepas hormon dopamin dan serotonin.
Dopamin adalah hormon yang mengatur motivasi dan keinginan seseorang.
Sementara hormon serotonin dikenal sebagai hormon kebahagiaan.
Seperti dopamin, serotonin dapat memengaruhi suasana hati dan emosi seseorang.
Karena reaksi kimia tersebut, sangat mungkin merasakan ketertarikan secara instan kepada seseorang.
Selama otak merasa bahwa mereka juga merasakan hal yang sama, senyawa tersebut tetap aktif.
3. Efek halo
Melansir Simply Psychology, efek ini terkait kesan karakteristik atau sifat terhadap seseorang, perusahaan, atau produk.
Kesan ini memengaruhi persepsi terhadap sesuatu.
4. Terbuka terhadap segala kemungkinan
Menurut antropolog perilaku, Helen Fisher, ketika Anda terbuka untuk cinta dan bersedia untuk terlibat dalam hubungan cinta, maka ruang untuk cinta pada pandangan pertama akan tercipta dengan sendirinya.
6. Menyalahartikan hasrat sebagai cinta
Saat merasa tertarik kepada seseorang pada pandangan pertama, bisa saja seseorang salah mengira antara cinta atau hanya hasrat belaka.
Ketertarikan yang intens tanpa mengetahui orang tersebut dengan baik bisa saja hanya berlandaskan nafsu semata.
Melansir Men’s Health, hasrat ini biasanya muncul pada awal hubungan atau dalam fase kasmaran.
Apakah hasrat bisa berkembang menjadi cinta? Meski sulit mengetahui kapan hal ini terjadi, tetap saja memungkinkan.
Menurut psikologi, Anda bisa saja merasa jatuh cinta pada seseorang pada pandangan pertama.
Menurut penelitian University of Groningen, cinta pada pandangan pertama sebenarnya bisa menjadi ilusi positif.
Ini artinya, Anda dan dia bisa saja berpikir kalian sedang jatuh cinta karena perasaan satu sama lain beberapa bulan atau tahun kemudian.
Selain itu, studi ini juga mengungkapkan kebanyakan orang yang mengalami cinta pada pandangan pertama berakhir dalam hubungan jangka panjang dengan orang tersebut.
Karena itu, para peneliti percaya bahwa cinta pada pandangan pertama adalah bias memori dan bukan merupakan jenis cinta yang unik.
Di sisi lain, Psychology Today memaparkan cinta pada pandangan pertama bukan benar-benar cinta.
Itu karena beberapa aspek yang merefleksikan cinta, yakni keintiman, gairah, dan komitmen, tidak tampak kuat.
Sementara menurut laporan, orang yang sedang berpacaran merasakan keintiman, komitmen, dan gairah yang jauh lebih besar terhadap pasangan mereka, ketimbang dengan mereka yang berpikir sedang mengalami cinta pada pandangan pertama.
Jadi, cinta pada pandangan pertama hanyalah daya tarik atau ketertarikan yang kuat terhadap orang lain.
Hal ini akan membuat seseorang sangat terbuka terhadap kemungkinan suatu hubungan.
Meski tidak selalu berakhir pada hubungan jangka panjang, nyatanya cinta pada pandangan pertama juga berpotensi pada hubungan yang berkelanjutan.(ds)
Editor : Kifani Amalija Putri