RADARTUBAN - Sempat merajai penjualan baju menjelang Lebaran bulan lalu, kini baju shimmer langsung meredup.
Baju dengan ciri khas kain berkilau itu sudah tak banyak diminati oleh masyarakat.
Supervisor salah satu butik di Jalan Pramuka, Defi Navian mengatakan, baju shimmer yang sempat menghebohkan media sosial (medsos) perlahan mulai kehilangan peminatnya.
‘’Masih ada yang beli, tapi tidak sebanyak saat viral,” ujarnya saat diwawancarai oleh Jawa Pos Radar Tuban.
Defi sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa peminat baju shimmer tak lagi seperti awal kemunculan ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Memasuki musim menikah seperti sekarang ini, menjadikan baju shimmer tak banyak diburu. Apalagi, sekarang ini bersamaan dengan hari besar nasional seperti hari Kartini dan juga Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Dia mengatakan, tren saat ini lebih cepat berubah. Dari shimmer yang baru ngetren, belum genap satu bulan, gaun panjang dengan kain brokat mengisi banyak etalase butik dan toko pakaian. ‘’Terutama untuk gamis, itu paling banyak dicari,” ungkap Defi.
Lebih lanjut Defi menyampaikan bahwa peminat baju brokat semakin meluas. Tak hanya disukai oleh orang tua, namun juga dari kalangan remaja.
Hal itu dipicu karena baju brokat menyajikan banyak model yang bisa dinikmati oleh segala usia.
Fenomena shimmer yang jadi tren singkat itu dirasakan oleh Marita, salah satu pengusaha baju yang berada di Jalan Basuki Rahmat.
Dia mengatakan, saat ini brokat menjadi produk terlaris di tokonya. ‘’Hampir 60 persen (dari stok) baju brokat di sini sudah terjual,” katanya
Menurut dia, bulan syawal atau pasca IduL Fitri, menjadi momentum banyak orang untuk menikah.
Model baju brokat dengan pita dan juga rompi masih menjadi pilihan yang paling sering dibeli oleh pelanggannya, terutama di kalangan anak muda.
‘’Motif pita dan rompi itu memang masih banyak peminat, karena modelnya sekarang seperti itu,” imbuhnya. (gi/yud)
Editor : Muhammad Azlan Syah