Pixar Animation Studios, rumah produksi yang identik dengan “memanusiakan benda mati” kembali sukses merilis film animasinya. Kali ini, film berjudul Inside Out 2 menceritakan tentang: bagaimana jika perasaan dikemas layaknya manusia yang memiliki perasaan? Berikut ulasannya.
RILEY Andersen seorang gadis yang ceria dan penuh semangat. Dia memiliki cita-cita menjadi pemain hoki yang handal.
Di dalam dirinya, ada 5 emosi dasar yang mengendalikan pada console perasaan. Emosi tersebut meliputi senang, takut, jijik, marah, sedih.
Masing-masing perasaan itu digambarkan layaknya manusia yang saling bekerja sama dalam tubuh untuk membuat Riley menjadi pribadi yang lebih baik.
Pada masa pubertasnya, emosi baru muncul dalam diri Riley. Emosi baru tersebut meliputi cemas, iri, bosan, dan malu.
Emosi tersebut memiliki maksud yang berbeda-beda. Di mana mereka ingin membentuk pribadi yang baru dalam diri Riley.
Tujuannya agar Riley dapat beradaptasi dengan kehidupan remajanya saat ini.
Sayangnya, hal itu tidak sejalan dengan apa yang sudah dilakukan oleh emosi sebelumnya. Merasa jika hal itu adalah hambatan.
Anxiety sebagai pemimpin emosi baru mengurung emosi lama dalam sebuah toples. Agar nantinya, dia dapat mengambil alih console pikiran Riley.
Meski terkurung dalam sebuah toples, kelima emosi tersebut tak tinggal diam. Sehingga membuat Riley—si pemilik emosi—berubah menjadi pribadi yang mudah cemas.
Dia selalu mencemaskan segala hal yang ada dalam hidupnya. Sehingga Joy (si perasaan senang) sebagai pemimpin emosi lama, berusaha untuk mengembalikan keceriaan Riley sebelumnya.
Film ini merupakan sekuel dari film pertama di tahun 2015 dengan judul yang sama. Disutradarai Kelsey Mann dengan naskah yang ditulis Meg LeFauve, Dave Holstein.
Film ini diproduseri oleh Mark Nielsen dan Pixar Animation Studio sebagai rumah produksi.
Rasa cemas menjadi sebuah perasaan mendominasi di film ini. Penggambaran perasaan cemas yang dialami oleh Riley, sangat relate dengan kehidupan saat ini.
Lantaran, perasaan tersebut tak hanya dirasakan oleh mereka yang sedang mengalami pubertas saja.
Meski animasi, namun film ini cocok menjadi tontonan untuk segala umur.
Film ini mengajarkan untuk jangan pernah merasa sendirian.
Merasakan cemas pada hal baru itu sesuatu yang wajar. Maka, rasa cemas bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi sesuatu.
Selain itu, pesan lain yang diajarkan yakni membahagiakan diri sendiri adalah hal yang wajib. Mau sekecil atau sebesar apapun perbuatan yang dilakukan. (gi/yud)
Editor : Muhammad Azlan Syah