Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Inside Out 2: Gambaran Jika Perasaan Memiliki Perasaan

Hardiyati Budi Anggraeni • Jumat, 12 Juli 2024 | 15:00 WIB

Photo
Photo

Pixar Animation Studios, rumah produksi yang identik dengan “memanusiakan benda mati” kembali sukses merilis film animasinya. Kali ini, film berjudul Inside Out 2 menceritakan tentang: bagaimana jika perasaan dikemas layaknya manusia yang memiliki perasaan? Berikut ulasannya. 

RILEY Andersen se­­­­orang gadis yang ceria dan penuh semangat. Dia me­miliki cita-cita menjadi pemain hoki yang handal.

Di dalam dirinya, ada 5 emo­si dasar yang mengendalikan pada console perasaan. Emo­si tersebut meliputi senang, takut, jijik, marah, sedih.

Masing-masing perasaan itu digambarkan layaknya manusia yang saling be­kerja sama dalam tubuh untuk membuat Riley menjadi pri­badi yang lebih baik.

Pada masa puber­tasnya, emosi baru muncul dalam diri Riley. Emosi baru tersebut meliputi ce­mas, iri, bosan, dan malu.

Emosi tersebut memiliki maksud yang berbeda-beda. Di mana mereka ingin mem­bentuk pribadi yang baru dalam diri Riley.

Tujuannya agar Riley dapat beradaptasi dengan kehidupan remaja­nya saat ini.

Sayangnya, hal itu tidak sejalan dengan apa yang su­dah dilakukan oleh emosi sebelumnya. Merasa jika hal itu adalah hambatan.

Anxiety sebagai pemimpin emosi baru mengurung emo­si lama dalam sebuah toples. Agar nantinya, dia dapat mengam­bil alih con­sole pikiran Riley.

Meski terkurung dalam se­buah toples, kelima emosi tersebut tak tinggal diam. Sehingga membuat Riley—si pemilik emosi—berubah men­jadi pribadi yang mudah cemas.

Dia selalu mence­maskan segala hal yang ada dalam hidup­nya. Sehingga Joy (si pera­saan se­nang) sebagai pe­mim­pin emosi lama, beru­saha untuk me­ngembalikan keceriaan Riley sebelumnya.

Film ini merupakan sekuel dari film pertama di tahun 2015 dengan judul yang sama. Disutradarai Kelsey Mann dengan naskah yang ditulis Meg LeFauve, Dave Holstein.

Film ini diproduseri oleh Mark Nielsen dan Pixar Animation Studio sebagai rumah produksi.

Rasa cemas menjadi se­buah perasaan mendominasi di film ini. Penggambaran pera­saan cemas yang di­alami oleh Riley, sangat relate dengan ke­hidupan saat ini.

Lantaran, perasaan ter­sebut tak hanya dirasakan oleh mereka yang sedang mengalami pubertas saja.

Meski animasi, namun film ini cocok menjadi ton­tonan untuk segala umur.

Film ini mengajarkan untuk jangan pernah merasa sen­dirian.

Merasakan cemas pa­da hal baru itu sesuatu yang wajar. Maka, rasa cemas bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi sesuatu.

Selain itu, pesan lain yang diajarkan yakni membahagiakan diri sendiri adalah hal yang wajib. Mau sekecil atau sebesar apapun perbuatan yang dilakukan. (gi/yud)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#cita cita #perasaan #gadis #emosi #pribadi #film