RADARTUBAN - OnlyFans Ltd., platform streaming video yang terkenal mendukung pekerja seks, telah membayar lebih dari US$20 miliar (setara R p311 triliun) kepada lebih dari 4 juta kreator konten sejak peluncurannya pada 2016.
Dalam sebuah wawancara di konferensi Screentime di Los Angeles, CEO Keily Blair menyatakan bahwa OnlyFans tidak menggunakan iklan atau melacak pelanggan.
Melainkan bergantung pada langganan, konten pay-per-view (PPV), dan tip dari pengguna untuk mendukung para kreatornya.
Blair mengungkapkan bahwa lebih dari 400 juta pelanggan memilih sendiri konten yang ingin mereka nikmati.
Selain itu, lebih dari setengah pendapatan platform berasal dari mikro-transaksi, bukan dari langganan berulang.
Alasan Pelanggan Membayar
Blair menekankan bahwa meskipun ada pornografi gratis di internet, pengguna tetap bersedia membayar di OnlyFans untuk berinteraksi langsung dengan kreator dan memesan konten spesifik.
"Orang-orang ingin memiliki pengalaman yang dipersonalisasi dengan kreator tertentu," ujarnya. Blair menambahkan bahwa sistem pembayaran saat pendaftaran memudahkan transaksi pengguna dan dianggap lebih efektif dibandingkan paywall pada konten gratis.
Diversifikasi Konten dan Perubahan Arah
Pada 2021, OnlyFans mulai menawarkan hibah kepada musisi sebagai upaya memperluas konten di luar pornografi.
Keily Blair, yang sebelumnya bekerja di bidang hukum dan privasi data, diangkat sebagai CEO pada 2023 untuk mengarahkan perusahaan menuju hiburan yang lebih mainstream.
"Platform media sosial lain kesulitan menerapkan model langganan seperti ini," tambah Blair, mengisyaratkan fokus OnlyFans untuk tetap unik di tengah persaingan platform digital. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama