RADARTUBAN - Bahasa Jawa memiliki cara unik untuk menyebut angka, terutama angka-angka seperti 11 (sewelas), 21 (selikur), 25 (selawe), 50 (seket), dan 60 (sewidak).
Di balik penyebutannya, tersimpan filosofi kehidupan yang penuh makna. Pola ini tidak hanya menggambarkan bilangan, tetapi juga melambangkan fase penting dalam hidup manusia.
Yuk, kita ulas lebih dalam mengenai makna filosofis angka-angka ini, biar makin paham tentang kearifan lokal budaya Jawa!
11 atau Sewelas: Ndue Roso Welas
Dalam Bahasa Jawa, angka 11 disebut "sewelas," yang memiliki filosofi ndue roso welas atau "memiliki rasa kasih sayang." Fase ini erat kaitannya dengan usia 11-19 tahun, di mana seseorang mulai mengenal kasih sayang, terutama kepada lawan jenis.
Pada usia ini, biasanya manusia mulai memahami arti hubungan emosional, baik dengan keluarga, teman, maupun hubungan yang lebih personal. Dalam budaya Jawa, masa ini dianggap penting untuk pembentukan karakter seseorang.
Kasih sayang di sini bukan hanya dalam konteks romantis, tetapi juga empati kepada sesama. Filosofi angka ini mengajarkan kita untuk menjadi individu yang peka terhadap perasaan orang lain.
“Sewelas” mengingatkan bahwa perjalanan hidup dimulai dengan memahami rasa kasih, sebagai dasar kehidupan yang harmonis.
21 atau Selikur: Seneng Linggih Kursi
Angka 21 dalam Bahasa Jawa disebut "selikur," yang diartikan sebagai seneng linggih kursi atau "senang duduk di kursi." Filosofi ini melambangkan fase kehidupan di usia 20-an, di mana manusia mulai memasuki dunia kerja dan mendapatkan kedudukan dalam masyarakat.
Di usia ini, seseorang mulai mencapai kemandirian, memiliki tanggung jawab, dan menentukan arah hidupnya. Kursi dalam hal ini bukan sekadar benda, tetapi simbol kehormatan, posisi, dan pencapaian.
Filosofi ini relevan banget untuk anak muda zaman sekarang yang lagi hustle mengejar karier dan posisi yang lebih baik. Namun, di balik itu, budaya Jawa mengingatkan bahwa kedudukan adalah amanah yang harus dijaga dengan baik.
25 atau Selawe: Seneng-senenge Lanang lan Wedok
Penyebutan angka 25 sebagai "selawe" memiliki filosofi seneng-senenge lanang lan wedok, yang artinya "kesenangan antara pria dan wanita." Ini merujuk pada usia yang ideal untuk menikah atau membangun rumah tangga.
Pada fase ini, manusia mencapai puncak kebahagiaan karena menemukan pasangan hidup dan memulai keluarga. Filosofi ini menyoroti pentingnya hubungan yang seimbang antara pria dan wanita untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan.
Budaya Jawa sangat menjunjung tinggi nilai pernikahan sebagai ikatan yang sakral. Oleh karena itu, usia 25 sering dianggap sebagai momen terbaik untuk memulai lembaran baru dalam hidup.
50 atau Seket: Seneng Ketunan
Angka 50 dalam Bahasa Jawa disebut "seket," yang memiliki filosofi seneng ketunan atau "senang dengan keturunan." Di usia ini, manusia biasanya telah memiliki anak-anak yang dewasa, bahkan mungkin sudah menjadi kakek atau nenek.
Filosofi ini menekankan kebahagiaan seorang manusia saat melihat keturunan mereka tumbuh dan berkembang. Tidak hanya itu, pada usia ini, manusia juga mulai lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang duniawi.
Budaya Jawa mengajarkan bahwa usia 50 adalah waktu untuk menjadi panutan, baik bagi keluarga maupun masyarakat.
60 atau Sewidak: Sejatining Wis Wayahe Tindak
Ketika usia mencapai 60 tahun, angka "sewidak" dalam Bahasa Jawa memiliki filosofi sejatining wis wayahe tindak atau "sudah saatnya pergi." Filosofi ini bukan tentang kematian yang menakutkan, tetapi lebih kepada kesadaran bahwa manusia semakin tua dan waktu hidup semakin terbatas.
Usia ini menjadi pengingat untuk lebih fokus kepada ibadah dan mempersiapkan diri menghadap Sang Pencipta. Dalam budaya Jawa, konsep ini diterima dengan lapang dada karena hidup adalah perjalanan yang akan kembali kepada asalnya.
Filosofi angka 60 juga mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan penuh kesyukuran dan kesadaran akan akhirat.
Mengapa Filosofi Angka Jawa Penting?
Penyebutan angka-angka dalam Bahasa Jawa bukan sekadar cara untuk menghitung, tetapi juga pengingat akan siklus kehidupan manusia. Setiap angka mengajarkan nilai-nilai yang relevan dengan fase kehidupan tertentu, menghubungkan manusia dengan budaya, spiritualitas, dan realitas hidup.
"Makna Penyebutan Angka Jawa" bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang pelajaran hidup yang bisa diaplikasikan oleh semua generasi.
Filosofi angka dalam Bahasa Jawa mengajarkan kita untuk lebih memahami hidup dari perspektif budaya. Mulai dari 11 (sewelas) yang mengajarkan kasih sayang, hingga 60 (sewidak) yang mengingatkan pentingnya persiapan menuju akhirat, semuanya memberikan pelajaran berharga.
Semoga kita bisa terus menghormati kearifan lokal dan menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Setuju, kan? (*)
Editor : Yudha Satria Aditama