RADARTUBAN- Sekitar 70 persen warga Indonesia dilaporkan tidak memiliki tabungan. Trend ini menggambarkan, permasalahan mendalam tentang kebiasaan finansial dan kondisi ekonomi yang dihadapi banyak orang di negara ini.
Beberapa faktor berkontribusi pada rendahnya angka tabungan masyarakat, di mana dua alasan utama yang sering diangkat adalah sifat impulsif dalam pengeluaran serta rendahnya tingkat gaji.
Sifat Impulsif dalam Pengeluaran menjadi salah satu penyebab utama rendahnya tingkat tabungan. Masyarakat cenderung berbelanja secara impulsif tanpa perencanaan. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan sesaat.
Fenomena ini sering terjadi, terutama di tengah berbagai promosi dan diskon menggoda. Masyarakat terdorong untuk membeli barang atau layanan yang sebenarnya tidak diperlukan. Akibatnya, kemampuan mereka untuk menyisihkan uang untuk tabungan menjadi berkurang.
Terlebih, kemudahan akses belanja online juga memperburuk keadaan ini. Dengan hanya beberapa klik, orang dapat membeli barang impian tanpa mempertimbangkan dampaknya pada kondisi keuangan jangka panjang.
Selain sifat implusif, faktor lainnya adalah tingginya proporsi warga Indonesia yang menerima gaji kecil. Di banyak sektor, terutama di kalangan pekerja informal atau buruh, upah yang diterima sering kali sangat terbatas.
Upah yang didapatkan juga terkadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, menyisihkan uang untuk tabungan menjadi sangat sulit.
Banyak pekerja lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan hidup jangka pendek seperti makanan, transportasi, dan tempat tinggal, tanpa ada ruang untuk menabung. Ketika penghasilan terbatas, prioritas utama pun menjadi bertahan hidup, bukan merencanakan masa depan secara finansial.
Selain aspek ekonomi, kebiasaan sosial dan budaya di Indonesia juga memengaruhi rendahnya tingkat tabungan. Di kalangan masyarakat kelas menengah bawah, misalnya, terdapat kecenderungan untuk menjaga citra sosial dengan mengonsumsi barang-barang yang dianggap prestisius. Meski hal itu tidak mendukung kesejahteraan finansial jangka panjang.
Pengaruh budaya gotong royong juga berperan, di mana individu merasa terpaksa untuk berbagi atau membantu orang lain, sehingga sebagian pengeluaran lebih difokuskan pada kegiatan sosial atau keluarga dibandingkan menabung.
Untuk mengatasi rendahnya tingkat tabungan, diperlukan perubahan pola pikir masyarakat serta perbaikan dalam struktur ekonomi negara. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan angka tabungan di Indonesia antara lain:
1. Peningkatan literasi keuangan
2. Program tabungan otomatis
3. Peningkatan upah yang layak
4. Insentif untuk program tabungan dan investasi
5. Mengubah kebiasaan konsumtif
Dengan kesadaran yang lebih tinggi akan pentingnya tabungan dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan jumlah masyarakat Indonesia yang tidak memiliki tabungan dapat berkurang.
Melalui langkah-langkah yang lebih terarah, kita dapat merencanakan kehidupan yang lebih stabil dan aman secara finansial, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni