RADARTUBAN - Arak Bali telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya Bali selama berabad-abad.
Minuman tradisional ini terbuat dari nira pohon kelapa yang difermentasi, dicampur dengan biji-bijian dan buah.
Setelah itu, disuling hingga menghasilkan minuman beralkohol dengan kadar yang bisa mencapai 60 persen.
Sebagai salah satu minuman khas Bali, arak dikenal karena rasanya yang kuat dan penggunaannya dalam berbagai acara, baik sosial maupun keagamaan.
Arak Bali bukan hanya sekadar minuman beralkohol, tapi juga merupakan simbol budaya yang telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit (1293-1527).
Namun, meskipun Arak memiliki sejarah panjang dan mendalam, ada risiko kesehatan yang terkait dengan konsumsi minuman ini.
Terutama, kualitas Arak yang diproduksi di pasar gelap yang tidak terstandarisasi, yang dapat mengandung metanol berbahaya.
Metanol ini bisa menyebabkan keracunan serius dengan gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, hingga kesulitan bernapas. Menghindari Arak yang tidak teruji atau tidak terstandarisasi sangat penting demi keselamatan.
Pada 2020, Gubernur Bali melegalkan Arak sebagai minuman beralkohol resmi, yang mengarah pada penetapan Hari Arak Bali pada tanggal 29 Januari setiap tahunnya.
Salah satu acara besar yang menonjol adalah perayaan G20, di mana Arak Bali disajikan sebagai simbol budaya Indonesia kepada para tamu internasional.
Arak Bali memiliki variasi kualitas yang sangat mencolok. Merek yang terpercaya seperti Arak Bali Dewi Sri, pertama kali diproduksi pada 1968, dikenal dengan kadar alkohol sekitar 40 persen dan sering dijadikan pilihan di hotel atau bar.
Sementara merek premium seperti IWAK Perkebunan dan Karusotju menawarkan Arak yang lebih halus, berkat proses distilasi ganda, dengan kadar alkohol berkisar antara 40-50%.
Namun, karena Arak yang baik biasanya lebih mahal, banyak wisatawan memilih untuk membeli dari sumber terjangkau, yang sering kali berisiko lebih tinggi.
Meskipun banyak yang menikmati Arak sebagai bagian dari pengalaman budaya Bali, konsumsi yang bertanggung jawab dan kesadaran akan kualitas minuman yang dipilih sangat penting. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama