RADARTUBAN - Di era modernisasi yang serba terbuka, berbagai ekspresi, reaksi, hingga permasalahan sosial individu dengan mudah tersebar melalui berbagai platform media sosial.
Salah satu fenomena yang mencuri perhatian adalah maraknya konten prank yang bertujuan untuk hiburan semata.
Sayangnya, tanpa disadari, konten semacam ini seringkali merugikan orang lain—baik secara langsung maupun tidak langsung.
Fenomena ini disebut dengan istilah schadenfreude. Secara sederhana, schadenfreude menggambarkan perasaan senang atau puas saat melihat orang lain mengalami kesusahan.
Berasal dari bahasa Jerman—schaden berarti malapetaka, dan freude berarti kegembiraan. Jika digabungkan, schadenfreude merujuk pada kebahagiaan yang muncul dari penderitaan orang lain.
Istilah ini pertama kali muncul dalam karya tulis Christian Heinrich Spiess berjudul Biographies of Suicides pada tahun 1739.
Sejak itu, schadenfreude banyak dikaji dalam psikologi, terutama dalam konteks interaksi sosial dan media.
Menurut jurnal karya Wulandari & Susilarini (2023) berjudul Hubungan Harga Diri dan Empati dengan Perilaku Schadenfreude pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X Angkatan 2018, schadenfreude merupakan bentuk respons emosional yang menyimpang terhadap penderitaan orang lain.
Misalnya, tertawa saat melihat orang lain terjatuh, kalah, terlibat skandal, atau mendapat nilai buruk. Hal ini bisa muncul karena adanya kepuasan emosional tersendiri dari pengalaman tersebut.
Dalam jurnal lain karya Lestari & Setiowati (2021) berjudul Tertawa Di Atas Penderitaan Orang Lain, Normalkah? (Schadenfreude pada Mahasiswa Universitas X Semarang Ditinjau dari Harga Diri dan Konformitas).
Disebutkan bahwa individu yang terlalu sering menunjukkan respons schadenfreude memiliki kecenderungan kepribadian seperti narsisme, psikopati, dan Machiavellianisme—yakni sikap manipulatif, egois, dan cenderung menggunakan cara licik demi mencapai tujuan.
Jika perilaku ini terus dibiarkan tanpa kontrol, bukan hanya korban yang akan terdampak, tetapi juga individu yang merasakan kepuasan dari penderitaan orang lain.
Dalam jangka panjang, schadenfreude bisa merusak empati, memperparah hubungan sosial, dan menciptakan budaya yang tidak sehat di masyarakat. (saf/yud)
Apa Itu Schadenfreude?
Schadenfreude adalah istilah dalam bahasa Jerman yang berasal dari gabungan dua kata:
- Schaden berarti “kerugian” atau “penderitaan”
- Freude berarti “kegembiraan” atau “kesenangan”
Jadi secara harfiah, schadenfreude bermakna kesenangan yang dirasakan saat melihat orang lain mengalami penderitaan atau kegagalan.
Asal Usul Istilah Schadenfreude
- Istilah ini pertama kali muncul pada abad ke-18 dalam karya sastra Jerman.
- Salah satu referensi awalnya terdapat dalam karya Christian Heinrich Spiess pada tahun 1735.
- Dalam psikologi modern, schadenfreude digunakan untuk menggambarkan fenomena emosional yang berkaitan dengan rasa puas atas kesialan atau kemalangan orang lain.
Kenapa Orang Bisa Merasakan Schadenfreude?
Secara psikologis, ada beberapa penyebab umum seseorang merasakan schadenfreude:
- Perbandingan Sosial
- Ketika melihat seseorang yang dianggap lebih unggul mengalami kegagalan, seseorang mungkin merasa "lega" atau bahkan senang karena hierarki sosial seakan kembali seimbang.
- Rasa Iri atau Kompetisi
- Iri hati atau persaingan dapat menumbuhkan perasaan senang saat melihat “rival” mengalami kesusahan.
- Rasa Ketidakadilan
- Kadang, orang merasa senang ketika seseorang yang dianggap "tidak pantas" atau "kurang layak" mendapatkan kegagalan atau hukuman.
- Harga Diri Rendah
- Orang dengan harga diri rendah cenderung mencari pembenaran atas perasaan tidak puas terhadap diri sendiri dengan menertawakan kesialan orang lain.
- Kurangnya Empati
- Kurangnya kemampuan untuk merasakan atau memahami perasaan orang lain membuat individu lebih mudah menikmati penderitaan orang lain.
Contoh Schadenfreude dalam Kehidupan Sehari-Hari
- Tertawa saat melihat seseorang terpeleset (meskipun tidak terluka parah).
- Merasa puas saat seorang figur publik yang tidak disukai tersandung skandal.
- Senang melihat rival kerja gagal mendapatkan promosi.
Dampak Schadenfreude
Dampak Negatif
- Menciptakan budaya yang tidak sehat dalam lingkungan sosial.
- Mengurangi empati dan memperburuk hubungan interpersonal.
- Jika terus dibiarkan, bisa menjadi cikal bakal bullying, hate speech, atau bahkan perilaku agresif pasif.
Dampak Positif (dalam konteks terbatas)
- Dalam beberapa situasi, schadenfreude bisa memberi rasa keadilan psikologis, misalnya ketika pelaku kejahatan dihukum setimpal.
- Membantu individu melepaskan emosi negatif—meski tetap harus dikendalikan.