RADARTUBAN - Tahukah kamu? Ternyata pada masa Jawa kuna ada sebuah tradisi unik di mana sebelum menikah, pria dititipkan kepada wanita. Tradisi ini dinamakan 'Gowok'.
Tradisi ini tujuannya untuk mengedukasi pihak laki-laki mengenai kehidupan rumah tangga sebelum ia menikah. Akan tetapi, praktiknya dianggap cukup kontroversial.
Tradisi Gowok bisa disebut juga tradisi pendidikan pranikah yang berlangsung mulai abad ke - 15 hingga awal abad ke - 20.
Laki-laki akan diajarkan bagaimana cara mengelola keluarga hingga hubungan antara suami dan istri.
Pendidikan ini diberikan oleh seorang wanita yang disebut Gowok, dia bertindak layaknya istri sementara.
Yang menjadi Gowok bukanlah wanita sembarangan. Biasanya mereka berusia sekitar 20 hingga 40 tahun, berpengalaman luas tentang kehidupan rumah tangga, memiliki pengetahuan mendalam tentang adat Jawa, sabar dalam mendidik, serta berpenampilan menarik dan bersih.
Hal ini penting karena mereka dipercaya sebagai seorang guru yang akan membimbing calon suami.
Tradisi Gowok muncul sebagai solusi atas kekhawatiran para orang tua jika anak laki-laki mereka kesulitan saat menjalani kehidupan pernikahan.
Sementara itu, di masa lalu pendidikan seksual dan kehidupan rumah tangga dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka.
Melalui tradisi ini, laki-laki akan diajarkan bagaimana menjadi suami yang baik sebelum benar-benar menikah.
Jika keluarga laki-laki ingin mengikuti tradisi ini, maka mereka harus membayar mahar kepada Gowok.
Jumlah maharnya pun setara dengan mahar yang akan diberikan kepada calon pengantin wanita.
Setelah itu, anak laki-laki mereka akan tinggal di Rumah pergowokan selama beberapa waktu.
Hal ini bertujuan agar dia belajar berbagai aspek kehidupan rumah tangga, seperti cara mengelola keuangan, berkomunikasi dengan pasangan dan keluarga besar, serta cara menjaga keharmonisan rumah tangga.
Dengan demikian, laki-laki tersebut lebih siap dalam menghadapi kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.
Selain mahar, ada pula imbalan yang diberikan oleh keluarga laki-laki kepada Gowok.
Imbalan ini disebut Babungan, yang menjadi simbol penghormatan atas jasa Gowok karena telah mendidik anak laki-laki mereka yang akan menikah.
Seiring waktu nilai-nilai sosial mulai berubah. Pada abad ke - 20, tradisi ini akhirnya memudar karena tidak sesuai dengan norma moral yang berkembang pada masa itu.
Dalam bahasa Jawa, Gowok memiliki arti lubang di pohon kayu tempat burung bersarang.
Istilah ini secara simbolis menggambarkan peran seorang Gowok sebagai tempat berlindung dan belajar bagi laki-laki sebelum benar-benar menjalankan rumah tangga sendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni