Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Apa itu Duck Syndrome: Fenomena Mental yang Terlihat Tenang di Luar tapi Bergolak di Dalam

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 9 Mei 2025 | 00:17 WIB
Mengenal apa itu duck syndrome yang sering dialami tanpa disadari.
Mengenal apa itu duck syndrome yang sering dialami tanpa disadari.

RADARTUBAN - Fenomena duck syndrome atau sindrom bebek mengambang menjadi salah satu persoalan psikologis yang sering kali tak disadari.

Banyak orang mungkin belum akrab dengan istilah ini, tetapi bukan tak mungkin pernah atau sedang mengalaminya.

Duck syndrome merujuk pada gambaran seekor bebek yang tampak tenang mengapung di permukaan air.

Namun sesungguhnya sedang mendayung dengan panik di bawah permukaan.

Istilah ini menjadi metafora kondisi psikologis seseorang yang tampak tenang di luar, tapi sesungguhnya sedang berjuang keras mengatasi tekanan dan kecemasan dalam dirinya.

Dalam jurnal Komunikasi Asertif Pada Mahasiswa Duck Syndrome di Mojokerto karya Dewi, R. Z. (2021), dijelaskan bahwa individu dengan duck syndrome cenderung menyembunyikan kesulitannya dan berpura-pura baik-baik saja.

Mereka terus berusaha menjaga citra tenang, meski di dalam merasa sangat terbebani.

Gejala duck syndrome tak jarang disertai rasa cemas berlebihan. Bila dibiarkan, hal ini bisa memengaruhi produktivitas dalam belajar maupun bekerja, serta menurunkan kualitas hidup seseorang.

Universitas Cambridge dalam artikelnya The Floating Duck Syndrome: Biased Social Learning Leads to Effort-Reward Imbalances menyebutkan bahwa ketidakseimbangan antara tampilan luar dan kenyataan batin dapat menyebabkan kelelahan, stres berkepanjangan, bahkan gangguan kesehatan.

Fenomena ini semakin memburuk di era media sosial.

Di balik unggahan pencapaian yang terlihat cemerlang, tersimpan proses panjang yang jarang ditampilkan.

Akibatnya, muncul bias persepsi yang membuat orang membandingkan diri dengan pencapaian orang lain tanpa mengetahui perjuangan di baliknya.

Individu dengan duck syndrome sering kali terlihat sukses secara akademis, memiliki pekerjaan bonafide, dan tampak hidupnya sempurna.

Namun, di dalam, mereka mungkin merasa tertekan, cemas, dan kesulitan mengatasi tekanan.

Beberapa penyebab duck syndrome antara lain tekanan dan ekspektasi sosial yang tinggi.

Selain itu, perbandingan sosial akibat media sosial, ketidakmampuan mengelola stres secara sehat, perfeksionisme yang membuat seseorang menetapkan standar terlalu tinggi, dan ketakutan akan penilaian atau penolakan dari orang lain.

Untuk mengatasi duck syndrome, langkah awal yang bisa dilakukan adalah menerima bahwa stres dan kecemasan adalah bagian dari kehidupan.

Selanjutnya, penting untuk mengelola stres dengan cara-cara yang sehat seperti olahraga, meditasi, atau aktivitas relaksasi lainnya.

Belajar mencintai dan menerima diri sendiri juga menjadi kunci penting, disertai dengan mengubah pola pikir menjadi lebih positif dan realistis.

Bila merasa kewalahan secara mental, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.

Duck syndrome mengingatkan kita bahwa ketenangan di permukaan tidak selalu mencerminkan kedamaian di dalam.

Penting untuk tidak hanya peduli pada tampilan luar seseorang, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental yang tersembunyi di balik senyuman. (saf/yud)

Baca Juga: Hewan Ternyata Bisa Gangguan Mental, Begini Kata Ilmuwan Terkait Perilaku Aneh Para Hewan

PENYEBAB DUCK SYNDROME

Tekanan dan ekspetasi sosial yang tinggi
Seseorang seringkali perlu menjaga cintra yang sempurna dan menyembunyikan stres dan kecemasannya.

- Akibat media sosial
Melihat pencapaian orang lain tanpa mengetahui perjuangannya bisa membuat seseorang merasa gagal dan memicu sindrom ini.

- Ketidakmampuan mengatasi tekanan
Beberapa orang yang tidak memiliki keterampilan atau dukungan yang cukup untuk mengatasi stres cenderung akan menyimpan perasaannya sendiri daripada mencari bantuan.

- Perfeksionisme
Sifat ini membuat seseorang menetapkan standar yang tinggi bagi dirinya sendiri. Sehingga seringkali mereka merasa gagal dan menyembunyikan perjuangan mereka.

- Ketakutan terhadap penolakan
Seseorang bisa saja takut akan penilaian negatif dari orang lain, sehingga mereka lebih memilih untuk menyembunyikan kelemahan dan perjuangan mereka.

CARA MENGELOLA DUCK SYNDROME:

• Luangkan waktu untuk istirahat dan relaksasi tanpa merasa bersalah.

• Kurangi waktu konsumsi media sosial jika membuat merasa tertekan atau membandingkan diri secara berlebihan.

• Ceritakan perasaan kepada orang terdekat yang dipercaya, atau tulis dalam jurnal pribadi untuk mengelola emosi.

• Fokus pada proses, bukan hanya hasil. Hargai setiap usaha yang telah dilakukan.

• Tetapkan batasan pribadi dan jangan takut mengatakan “tidak” jika merasa kewalahan.

• Cari kegiatan yang memberikan rasa damai dan bahagia, seperti hobi, olahraga ringan, atau kegiatan spiritual. 

BUTUH DUKUNGAN LINGKUNGAN SEKITAR

• Tunjukkan empati dan kepedulian
Dengarkan tanpa menghakimi. Sering kali mereka hanya butuh didengar dan dipahami tanpa harus diberi solusi instan.

• Bangun komunikasi yang aman dan terbuka
Berikan ruang bagi mereka untuk menceritakan perasaan dan tekanan yang sedang dihadapi tanpa takut dinilai.

• Jangan terpaku pada tampilan luar
Ingatkan bahwa tidak semua hal harus terlihat sempurna, dan bahwa kesulitan merupakan bagian wajar dalam hidup.

• Ajak mereka melakukan aktivitas yang menenangkan
Bisa berupa olahraga ringan, berjalan-jalan, menulis jurnal, atau melakukan hobi yang menyenangkan dan membangun rasa damai.

• Dorong mencari bantuan profesional
Jika gejala kecemasan atau tekanan sudah mengganggu fungsi sehari-hari, bantu mereka mendapatkan akses ke psikolog atau konselor.

• Berikan dukungan jangka panjang
Duck syndrome bukan sesuatu yang bisa "sembuh" dalam semalam. Dukungan konsisten dari orang terdekat akan sangat berarti.

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#bebek #Tekanan #duck syndrome #psikologis #kecemasan #Universitas Cambridge #panik #mental