Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Susahnya Memenuhi Standar Kecantikan Masyarakat, Inilah yang Harus Dipenuhi Wanita di Berbagai Negara Agar Bisa Disebut Good Looking

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 9 Mei 2025 | 00:30 WIB
Standar kecantikan di berbagai negara yang berbeda-beda.
Standar kecantikan di berbagai negara yang berbeda-beda.

RADARTUBAN - Kecantikan selalu menjadi topik yang sangat lekat dengan perempuan.

Namun, apa yang sering kali tidak disadari adalah bagaimana standar kecantikan ini berkembang menjadi sebuah stereotip yang membentuk pandangan masyarakat terhadap perempuan.

Seiring berjalannya waktu, kecantikan seakan menjadi sebuah tolak ukur yang mengharuskan perempuan untuk memiliki kulit putih, rambut lurus, tubuh tinggi, serta proporsi badan yang ideal.

Kriteria-kriteria ini sering kali dianggap sebagai syarat untuk menjadi cantik dan dianggap sempurna oleh masyarakat.

Kebiasaan sosial ini tidak datang begitu saja, tetapi melalui pengaruh berbagai faktor, salah satunya adalah media sosial.

Platform-platform digital ini, yang digunakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, sering kali memberikan gambaran yang sangat kuat tentang siapa yang layak disebut cantik dan siapa yang tidak.

Media sosial seolah menjadi ruang di mana perempuan dinilai berdasarkan penampilan fisik semata, tanpa memperhatikan keberagaman bentuk dan latar belakang mereka.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Basir dan rekan-rekan pada tahun 2022 dalam jurnal Persepsi Wanita dalam Menentukan Standar Kecantikan di Tiktok dan Instagram, pengaruh media sosial menjadi salah satu faktor utama terbentuknya standar kecantikan ini.

Di media sosial, manusia cenderung meniru apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal penampilan fisik.

Banyaknya influencer yang memiliki tubuh tinggi, kulit putih, dan wajah tirus, turut memperkuat citra bahwa inilah kecantikan yang ideal.

Perempuan yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut sering kali menerima hujatan dan kritik tajam di dunia maya.

Namun, di balik semua itu, kecantikan sejatinya bukan hanya soal penampilan fisik. Setiap perempuan memiliki keunikannya masing-masing, yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti suku, ras, dan latar belakang budaya.

Kecantikan seharusnya tidak diukur hanya berdasarkan tampilan fisik semata, karena setiap individu memiliki keindahan yang berbeda, sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.

Hal ini ditekankan dalam penelitian yang dilakukan oleh Chinta dan koleganya pada tahun 2023 dalam jurnal Dampak Standar Kecantikan bagi Perempuan di Indonesia.

Penelitian ini menyebutkan bahwa penerapan standar kecantikan yang berkembang menjadi sebuah stereotip justru menimbulkan dampak psikologis yang merugikan bagi perempuan.

Tekanan dari media sosial, iklan produk pemutih, dan berbagai elemen luar lainnya, memperburuk dampak tersebut, menyebabkan banyak perempuan merasa tidak cukup baik atau tidak sesuai dengan gambaran kecantikan yang ada.

Bahkan, ini bisa memicu diskriminasi sosial terhadap mereka yang tidak memenuhi standar kecantikan yang telah terbentuk.

Dalam dampaknya, standar kecantikan ini menyebabkan banyak perempuan merasa tertekan, mengalami berbagai masalah psikologis, dan bahkan merasa tidak puas dengan diri mereka sendiri.

Akibat dari standar kecantikan, banyak perempuan yang merasa insecure karena standar yang menetapkan bahwa kulit putih dan tubuh ideal adalah bentuk kecantikan yang sempurna.

Perasaan tidak aman ini sering muncul ketika mereka merasa tubuh mereka tidak memenuhi kriteria tersebut.

Tak jarang, perasaan ini berlanjut menjadi ketidakpuasan dengan diri sendiri.

Mereka mulai membandingkan diri mereka dengan perempuan lain yang dianggap lebih cantik, yang pada akhirnya hanya memperburuk perasaan mereka.

Selain itu, tekanan untuk memenuhi standar kecantikan ini berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. Perempuan yang merasa tidak sesuai dengan standar ini sering kali takut akan pandangan orang lain terhadap mereka.

Mereka merasa terisolasi dan tidak dihargai, hanya karena penampilan fisik mereka tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh masyarakat.

Lebih jauh lagi, stigma negatif terhadap perempuan yang tidak memenuhi standar kecantikan ini menjadi hal yang tak terhindarkan. Masyarakat cenderung menganggap mereka yang tidak memenuhi kriteria tersebut sebagai kurang cantik, dan stigma ini terus berlanjut tanpa henti.

Hal ini menciptakan ketidakadilan sosial yang menyebabkan diskriminasi terhadap perempuan yang tidak sesuai dengan gambaran kecantikan yang sudah dibentuk dalam masyarakat.

Dalam kenyataannya, standar kecantikan ini tidak hanya merugikan perempuan secara fisik dan mental, tetapi juga menciptakan ketimpangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Mereka yang dianggap cantik menurut kriteria yang ada lebih diutamakan dalam berbagai kesempatan, sementara mereka yang tidak memenuhi standar ini sering kali terpinggirkan.

Secara keseluruhan, pembentukan standar kecantikan yang kaku dan menjadi stereotip dalam masyarakat ini merugikan banyak pihak, terutama perempuan.

Tak hanya menekan mereka secara fisik, standar ini juga menimbulkan masalah psikologis yang cukup serius, serta diskriminasi sosial yang semakin memperburuk keadaan.

Kecantikan, pada akhirnya, seharusnya menjadi sesuatu yang lebih eksklusif. Dengan menghargai keberagaman dan keunikan setiap individu, bukan sekadar berdasarkan ukuran atau penampilan fisik yang sempit. (saf/yud)

Standar Kecantikan di Berbagai Negara 

1. Korea Selatan
• Kulit putih mulus: Kulit yang sangat cerah dianggap sebagai lambang kemurnian dan kecantikan.
• Wajah kecil dengan dagu runcing (V-shape): Banyak wanita menjalani operasi plastik untuk mendapatkan bentuk wajah ini.
• Mata besar dan kelopak mata ganda: Operasi lipatan mata sangat populer.
• Tubuh ramping dan tinggi: Berat badan ideal sering kali dianggap penting dalam standar kecantikan.
• Gaya feminin dan imut (aegyo): Penampilan manis, polos, dan muda sangat dihargai.

2. Jepang
• Kulit putih dan bersih: Mirip dengan Korea, kulit cerah dianggap cantik.
• Wajah mungil dan senyuman manis: Wajah kecil dengan ekspresi manis dianggap menarik.
• Gigi gingsul (yaeba): Beberapa orang Jepang menganggap gigi yang sedikit berantakan justru terlihat imut.
• Kesopanan dan kelembutan: Sifat lemah lembut dan feminin dianggap bagian dari pesona perempuan.
• Gaya kawaii (imut): Gaya berpakaian dan bersikap yang lucu dan menggemaskan populer di kalangan wanita muda.

3. Indonesia
• Kulit kuning langsat atau cerah: Iklan produk pemutih masih sangat mendominasi.
• Rambut lurus dan hitam: Sering dianggap lebih rapi dan sesuai dengan standar kecantikan arus utama.
• Tubuh ramping tapi berisi (proporsional): Perempuan dianggap ideal jika tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk.
• Wajah bersih dan feminin: Makeup natural dengan alis rapi, bibir merah muda sering dianggap cantik.
• Busana sopan: Penampilan dianggap lebih cantik jika sesuai norma sosial dan budaya, terutama di wilayah konservatif.

4. Amerika Serikat
• Kulit tan atau berwarna cokelat keemasan: Banyak perempuan memilih berjemur atau memakai spray tan untuk mendapatkan warna ini.
• Tubuh fit dan sehat: Tubuh berotot ringan dan berlekuk (seperti jam pasir) sering menjadi standar.
• Individualitas: Cantik dianggap berasal dari ekspresi diri dan keunikan, tidak harus mengikuti satu tipe.
• Wajah simetris dan fitur tegas: Hidung mancung, rahang tegas, dan bibir penuh sering dianggap menarik.
• Kebebasan gaya: Makeup bold dan busana yang menonjolkan karakter pribadi lebih dihargai.

5. China
• Kulit putih pucat: Dianggap sebagai simbol status sosial tinggi, karena menunjukkan tidak bekerja di luar ruangan.
• Wajah mungil dan lembut: Ciri wajah kecil, hidung kecil, dan mata besar menjadi idaman.
• Tubuh sangat kurus dan ramping: Berat badan sangat rendah sering dianggap ideal.
• Kecantikan anggun dan tenang: Wanita yang tidak terlalu mencolok, terlihat tenang dan “halus” secara visual dianggap menarik.
• Rambut panjang dan lurus: Simbol femininitas dan kelembutan.

6. Arab Saudi
• Mata indah dan ekspresif: Karena sebagian besar tubuh tertutup, mata menjadi pusat perhatian dan dianggap sangat penting dalam kecantikan.
• Kulit bersih dan terawat: Warna kulit bisa beragam, namun yang utama adalah kulit sehat dan glowing.
• Rambut panjang dan tebal: Meski sering tertutup, rambut tetap dirawat dan dianggap aset kecantikan.
• Makeup dramatis: Riasan mata bold, seperti eyeliner tebal dan eyeshadow mencolok, sangat populer.
• Busana elegan dan mahal: Kecantikan juga diukur dari cara berpakaian yang mewah namun tetap sopan.


Akibat Standar Kecantikan:

1. Rasa Insecure
Standar yang menetapkan perempuan berkulit putih dengan tubuh ideal sebagai tolok ukur kecantikan menyebabkan perempuan yang tidak memenuhi standar tersebut merasa insecure dan muncul perasaan tidak aman tentang diri mereka.

2. Tidak Puas dengan Diri Sendiri
Keinginan untuk terus membandingkan diri dengan perempuan lain sering kali menyebabkan perasaan tidak puas. Perbandingan ini muncul karena adanya persepsi tentang tampilan fisik yang cantik menurut standar masyarakat.

3. Gangguan Kesehatan Mental
Penerapan standar kecantikan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan masalah psikologis seperti depresi dan kecemasan. Perempuan merasa takut akan pandangan orang lain terhadap mereka yang tidak memenuhi kriteria kecantikan tersebut.

4. Stigma Negatif yang Kekal
Stigma bahwa orang yang tidak memenuhi kriteria kecantikan akan terus berlanjut dan membuat banyak orang menganggap hal itu tidak sesuai dengan norma kecantikan yang berlaku. Stigma ini menyebabkan seseorang terjebak hanya pada standar kecantikan yang sudah terbentuk.

5. Diskriminasi Sosial
Standar kecantikan dapat berujung pada diskriminasi sosial yang merugikan. Masyarakat cenderung lebih mengutamakan perempuan yang memenuhi standar kecantikan daripada mereka yang tidak, dalam berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan dan kehidupan sosial.

Editor : Yudha Satria Aditama
#amerika #sosial #standar kecantikan #digital #tolak ukur #korea selatan #China #Arab Saudi #Indonesia