RADARTUBAN - Musik kini mudah diakses anak-anak, namun banyak dari mereka lebih sering mendengarkan lagu bertema dewasa dibanding lagu anak-anak.
Psikolog anak Rahmani Widingrum M.P. menjelaskan, lagu dewasa yang belum sesuai usia dapat memengaruhi perkembangan emosi, pola pikir, dan nilai anak sejak dini.
Otak anak yang seperti spons mudah menyerap informasi, sehingga paparan lagu dewasa bisa berdampak negatif pada cara berpikir dan perilaku mereka.
Anak yang sering mendengar lagu dewasa cenderung emosinya mudah terpengaruh karena lagu tersebut biasanya berisi kegalauan, kemarahan, dan kesedihan yang belum tentu bisa mereka pahami dengan baik.
Selain itu, lagu dewasa juga dapat mengganggu persepsi anak tentang cinta dan hubungan sosial, bahkan memicu anak menjadi dewasa lebih cepat sebelum waktunya.
Lagu dengan lirik yang mengandung tema seksual, kekerasan, atau perselingkuhan bisa membingungkan anak dan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.
6 Cara Mengatasi Anak yang Sering Mendengar Lagu Dewasa
1. Kenalkan Kembali Lagu Anak yang Relevan
Orang tua dapat memperkenalkan lagu anak yang sesuai usia agar anak lebih tertarik dan mendapatkan pesan positif.
2. Ajak Anak Bernyanyi dan Menari Bersama
Kegiatan ini bisa mempererat hubungan orang tua dan anak sekaligus mengalihkan perhatian dari lagu dewasa.
3. Buat Playlist Lagu Ramah Anak di Rumah
Menyiapkan daftar lagu khusus anak membantu membatasi akses anak ke lagu yang tidak sesuai.
4. Batasi Waktu Penggunaan Gadget dan Media Sosial
Karena paparan lagu dewasa sering melalui media sosial, pengurangan screen time sangat penting.
5. Berikan Penjelasan tentang Lagu yang Tidak Sesuai
Jika anak mendengar lagu dewasa, orang tua perlu mendiskusikan makna lagu tersebut dan mengapa tidak cocok untuk mereka.
6. Konsultasi dengan Profesional jika Perlu
Jika ada perubahan perilaku akibat paparan lagu dewasa, segera konsultasikan dengan psikolog anak untuk penanganan lebih lanjut.
Peran orang tua sangat krusial dalam menyaring dan mendampingi anak dalam memilih lagu yang didengarkan agar tumbuh kembang psikologis anak tetap sehat dan sesuai usia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni