RADARTUBAN - Di tengah ramainya perdebatan musik di linimasa X (Twitter), muncul satu unpopular opinion yang cukup menarik perhatian: album Taifun milik Barasuara adalah pelopor dari gelombang musik Indonesia yang membahas kesehatan mental.
Meski bukan satu-satunya album yang menyentuh tema ini, banyak yang percaya Taifun adalah fondasi awal dari lahirnya tren baru di ranah musik lokal—yang kini dikenal dengan sebutan “pengobatan alternatif” untuk penderita mental.
Kenapa album ini penting dan bisa dibilang revolusioner? Mari kita mundur ke tahun 2015.
Barasuara, Taifun, dan Ledakan Pertama
Album Taifun merupakan debut penuh Barasuara, dirilis pada tahun 2015.
Grup ini berisi nama-nama yang kini sudah dikenal luas, seperti Iga Massardi, Gerald Situmorang, Marco Steffiano, TJ Kusuma, Asteriska, dan Puti Chitara. Taifun langsung mendapat sambutan hangat.
Jalurindie.com bahkan menobatkannya sebagai salah satu dari 10 album indie terbaik 2015.
Dengan lagu-lagu seperti Bahas Bahasa, Sendu Melagu, Hagia, dan Nyala Suara, album ini membawa nuansa baru yang jarang disentuh oleh musisi saat itu: kegelisahan, pencarian makna hidup, dan kegundahan batin—semuanya dibungkus dalam aransemen yang megah dan lirik puitis.
Lagu-lagunya terasa seperti puisi panjang yang dibalut distorsi gitar dan vokal berlapis, seolah sedang mendengarkan suara isi kepala sendiri.
Membuka Pintu untuk yang Lain
Banyak yang berpendapat, tanpa Taifun, tidak akan ada Mantra-Mantra (Kunto Aji, 2018), Menari dengan Bayangan (Hindia, 2019), dan Selamat Ulang Tahun (Nadin Amizah, 2020).
Album-album ini dikenal luas sebagai karya yang secara eksplisit membicarakan isu kesehatan mental, keresahan pribadi, overthinking, burnout, hingga luka masa kecil.
Tentu, ketiganya punya gaya dan pendekatannya sendiri.
Namun, Taifun bisa dibilang membuka jalur itu—memberikan contoh bahwa musik bisa jadi ruang aman untuk membicarakan hal-hal yang sulit diucapkan.
Dia menjadi pintu pertama yang mendorong musisi generasi selanjutnya untuk tidak takut menyentuh tema personal dan emosional.
Genre "Pengobatan Alternatif"?
Saking banyaknya musisi yang kemudian membahas isi kepala dan beban hidup lewat musik, muncul istilah bercanda dari netizen: genre "pengobatan alternatif".
Musik-musik ini, katanya, cocok didengarkan sambil rebahan, sambil mengobati luka batin, atau saat merasa dunia terlalu berat.
Genre ini bukan genre resmi, tentu saja. Tapi ia menggambarkan betapa musik kini bukan cuma hiburan, melainkan alat refleksi dan penyembuhan emosional. Dan kalau kita telusuri, banyak orang yang merasakan manfaatnya.
Mereka merasa tidak sendirian. Mereka menemukan kata-kata untuk perasaan yang selama ini susah dijelaskan.
Bahkan, beberapa orang mengaku musik seperti ini lebih membantu dibanding curhat ke teman.
Taifun Lebih dari Sekadar Album Debut
Kini, hampir satu dekade sejak Taifun dirilis, jejaknya masih terasa. Bukan hanya di genre musik, tapi juga di cara kita memaknai lagu.
Dia mengubah cara banyak orang dalam mendengarkan: dari sekadar menikmati melodi, menjadi memahami isi hati.
Barasuara mungkin tidak pernah secara eksplisit menyebut bahwa album mereka tentang kesehatan mental.
Namun, nuansa yang dibawa Taifun membuka ruang diskusi yang lebih luas.
Dia jadi landasan emosional bagi generasi muda yang mulai berani bicara tentang isi kepala mereka sendiri—lewat musik, tentu saja. (*)
Coba dengarkan lagi Taifun, siapa tahu kamu jadi tahu: ternyata, perasaanmu selama ini juga pernah ada dalam lagu. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama