RADARTUBAN - Pernahkah tiba-tiba merasa sedih, hampa, atau ingin menangis, padahal tidak sedang mengalami peristiwa menyakitkan atau kehilangan besar?
Jika iya, kamu tidak sendiri. Banyak orang, khususnya anak muda, pernah mengalami hal serupa.
Bahkan tidak sedikit yang kemudian mempertanyakannya sendiri: Aku kenapa sih, kok bisa nangis gini aja?
Fenomena ini sering kali dianggap sepele, bahkan dijadikan bahan candaan di media sosial sebagai "drama malam hari" atau "fase mellow menjelang tidur."
Padahal, ini bisa jadi merupakan sinyal dari tubuh dan pikiran bahwa ada emosi yang terpendam dan belum sempat kita urai.
Dalam buku Agnosthesia karya Maria Frani, dijelaskan bahwa semakin dewasa seseorang, semakin sulit ia menyadari emosi yang dirasakan.
Ini terjadi karena ada semacam tekanan sosial untuk selalu terlihat tenang dan kuat. Kita diajarkan untuk tidak mudah menunjukkan emosi, seolah itu tanda kelemahan.
Akibatnya, perasaan sedih, kecewa, atau marah pun sering kali kita tekan dalam-dalam.
Masalahnya, emosi yang ditekan tidak hilang begitu saja.
Dia mengendap dalam diri dan bisa muncul kapan saja dalam bentuk rasa hampa, gelisah, atau tangis tanpa sebab. Inilah yang membuat seseorang sering merasa ada yang "tidak beres" dalam dirinya, namun sulit menjelaskan apa penyebabnya.
Kondisi ini diperparah oleh ritme hidup modern yang serba cepat. Tuntutan pekerjaan, tekanan sosial media, hingga dorongan untuk selalu produktif membuat kita lupa mengambil jeda.
Kita sibuk mengejar pencapaian luar, tapi sering abai terhadap kondisi dalam diri sendiri. Padahal, tubuh dan jiwa kita sama-sama butuh perhatian.
Maria Frani juga menekankan pentingnya memberi ruang pada setiap bentuk emosi. Entah itu rasa takut, kesepian, kemarahan, atau kesedihan—semuanya valid dan berhak diakui keberadaannya.
Mengabaikan emosi justru akan membuat kita makin tidak peka terhadap diri sendiri, hingga akhirnya kita merasa lelah secara emosional tanpa tahu penyebab pastinya.
Menangis tanpa sebab bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal dari dalam diri yang patut didengar.
Barangkali itu cara tubuh mengajak kita untuk berhenti sejenak, mengenali perasaan yang selama ini dikubur rapat-rapat, dan memberi ruang bagi pemulihan yang lebih utuh.
Maka dari itu, jangan ragu untuk jujur pada diri sendiri. Jika merasa sedih, terimalah. Jika merasa ingin menangis, menangislah.
Luangkan waktu untuk mendengarkan suara hati, karena dari sanalah kita bisa mulai memahami siapa diri kita sebenarnya—dengan segala emosi yang menyertainya.
Ingat, menjadi manusia berarti juga membuka ruang untuk rasa. Dan itu bukan kelemahan. Itu justru kekuatan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama