RADARTUBAN - Di era digital saat ini, kebiasaan mindless scrolling atau menggulir media sosial tanpa tujuan menjadi fenomena yang sulit dihindari.
Mulai dari remaja hingga orang dewasa, banyak yang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, hanya untuk terus menggulir konten-konten yang muncul di linimasa mereka.
Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai hiburan ringan sering kali berujung pada hilangnya produktivitas.
Aktivitas ini bukan sekadar perilaku pasif. Mindless scrolling juga memengaruhi pola pikir dan cara seseorang berinteraksi dalam kehidupan sosial.
Algoritma media sosial yang menyajikan konten sesuai preferensi pengguna membuat seseorang terus tertarik, terjebak dalam arus informasi yang tak berkesudahan.
Dalam jurnal penelitian berjudul Perancangan Kampanye Pentingnya Mindful Scrolling (Rudi & Isnaini, 2024), dijelaskan bahwa kebiasaan ini telah menjadi bagian yang dinormalisasi oleh masyarakat.
Penelitian tersebut menyebut mindless scrolling sebagai pengalaman disosiatif, di mana perhatian seseorang sepenuhnya terserap oleh konten yang digulir, terlebih karena adanya sistem rekomendasi personal yang tertanam dalam algoritma media sosial.
Tak jarang perilaku ini dikaitkan dengan kecanduan media sosial.
Mekanismenya mirip dengan kecanduan berjudi, di mana pengguna terus mencari kepuasan instan yang sifatnya sementara.
Walau tak selalu mendapatkan konten yang benar-benar memuaskan, rasa penasaran dan potensi kesenangan membuat mereka terus kembali.
Perlu dibedakan antara mindless scrolling dan doomscrolling. Keduanya memang serupa dalam bentuk, namun berbeda dari segi motivasi dan dampaknya.
Mindless scrolling terjadi saat seseorang membuka media sosial tanpa tujuan, sekadar untuk mengisi waktu luang.
Sementara doomscrolling lebih spesifik pada kebiasaan mencari berita-berita negatif yang cenderung menimbulkan rasa cemas atau takut.
Dampak dari kebiasaan ini tidak bisa dianggap remeh. Banyak orang mengalami penurunan kualitas tidur, kesulitan fokus, bahkan peningkatan kecemasan akibat paparan konten yang tidak informatif.
Tanpa disadari, tubuh dan pikiran pun merasa lelah karena menyerap terlalu banyak informasi yang tak bermakna.
Meski begitu, mindless scrolling tidak sepenuhnya buruk. Dalam batas tertentu, aktivitas ini bisa menjadi cara untuk bersantai dan tetap terhubung dengan orang lain.
Kuncinya adalah kesadaran dan kendali diri.
Menentukan tujuan saat membuka media sosial, membatasi waktu penggunaan, serta meminimalisasi notifikasi yang tidak penting dapat menjadi langkah awal untuk menghindari jebakan ini.
Mengalihkan perhatian ke aktivitas yang lebih produktif juga menjadi strategi efektif untuk menjaga keseimbangan antara hiburan dan kesehatan mental. (saf/yud)
Baca Juga: Stop Ngemil Sambil Scroll Smartphone! Berat Badanmu Tanpa Terasa Bisa Naik
Perilaku Mindless Scrolling:
• Membuka artikel atau video yang tampak menarik, namun tidak disimak hingga selesai.
• Menggulir feed media sosial berulang kali tanpa tujuan yang jelas.
• Membuka platform belanja atau marketplace tanpa ada niat membeli.
• Mengikuti tren viral tanpa memahami konteks atau makna di baliknya.
• Melihat daftar konten trending hanya untuk melihat-lihat, tanpa menyerap informasi yang ditampilkan.
Cara Mengatasi Mindless Scrolling:
• Tetapkan batas waktu dalam penggunaan media sosial setiap harinya.
• Nonaktifkan notifikasi dari aplikasi yang tidak penting agar tidak mudah terdistraksi.
• Tentukan tujuan yang jelas sebelum membuka media sosial atau platform digital lainnya.
• Alihkan perhatian ke kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku, berolahraga, atau bersosialisasi langsung.
• Kurangi konsumsi konten yang hanya bersifat hiburan semata dan tidak memberikan nilai tambah.
Dampak Mindless Scrolling:
• Produktivitas menurun akibat waktu yang terbuang untuk aktivitas yang tidak terarah.
• Fokus menjadi terganggu, terutama saat menjalankan tugas atau pekerjaan.
• Gangguan tidur akibat paparan layar dan informasi yang berlebihan.
• Waktu berharga terlewat begitu saja tanpa disadari.
• Meningkatnya tingkat stres dan kecemasan karena terus-menerus terpapar konten negatif atau tidak relevan.
Editor : Yudha Satria Aditama