RADARTUBAN - Remaja masa kini hampir selalu terhubung dengan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dalam aktivitas sehari-hari.
Meskipun platform ini menawarkan hiburan dan informasi, penggunaan berlebihan dapat memicu overstimulasi pada otak, yang berdampak negatif terhadap kondisi mental dan perilaku mereka.
Menurut Ayoe Sutomo, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga dari Tigagenerasi dan Citra Ardhita Psy Services, otak remaja secara neurologis belum sepenuhnya siap menerima arus informasi yang deras dari media sosial.
Akibatnya, mereka lebih mudah mengalami overstimulasi kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu singkat, seperti notifikasi, video singkat, komentar, atau konten viral.
Hal ini dapat memunculkan gejala seperti rasa gelisah, kesulitan berkonsentrasi, hingga kecemasan yang memengaruhi perilaku.
Untuk membantu remaja menghadapi kondisi ini, Ayoe menyarankan beberapa langkah berikut:
1. Mengatur Durasi Penggunaan Media Sosial
Remaja dianjurkan untuk membatasi waktu akses media sosial, idealnya hanya 1–2 jam per hari di luar jam belajar.
Penggunaan fitur pembatas waktu di ponsel bisa membantu mengontrol kebiasaan penggunaan yang berlebihan.
2. Melakukan Digital Detox secara Rutin
Menjauh dari media sosial di waktu tertentu, seperti akhir pekan atau malam hari, bisa memberi kesempatan otak untuk beristirahat dari paparan konten yang terus-menerus.
3. Mengenali dan Mengelola FOMO
FOMO atau Fear of Missing Out sering membuat remaja merasa tertinggal dari teman-temannya dan cenderung membandingkan diri.
Ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan memicu stres. Orang tua dan guru perlu memberikan pemahaman bahwa media sosial tidak selalu merefleksikan kehidupan nyata.
4. Mengalihkan ke Aktivitas Dunia Nyata
Remaja sebaiknya diarahkan untuk mengikuti kegiatan fisik atau sosial, seperti olahraga, seni, atau komunitas.
Aktivitas-aktivitas ini membantu menyeimbangkan stimulasi otak dan memperkuat interaksi langsung.
5. Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital
Penting bagi remaja untuk memahami cara memilah informasi yang mereka temui secara daring.
Literasi digital membantu mereka mengenali konten palsu, berbahaya, atau tidak sehat, serta mengasah kemampuan berpikir kritis.
6. Membangun Hubungan Emosional yang Kuat di Rumah
Suasana rumah yang hangat dan terbuka sangat penting untuk keseimbangan emosi remaja.
Orang tua perlu aktif mendengarkan dan membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk berbagi perasaan, sehingga mereka tidak hanya mengandalkan media sosial untuk menyalurkan emosi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni