Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Remaja Rentan Overstimulasi Akibat Media Sosial, Ini Cara Cegah Dampak Negatif bagi Kesehatan Mental

Muhammad Rizqi Mustofa Kamal • Kamis, 12 Juni 2025 | 15:47 WIB

Ilustrasi Media sosial picu overstimulasi pada otak remaja
Ilustrasi Media sosial picu overstimulasi pada otak remaja

RADARTUBAN - Remaja masa kini hampir selalu terhubung dengan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dalam aktivitas sehari-hari.

Meskipun platform ini menawarkan hiburan dan informasi, penggunaan berlebihan dapat memicu overstimulasi pada otak, yang berdampak negatif terhadap kondisi mental dan perilaku mereka.

Menurut Ayoe Sutomo, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga dari Tigagenerasi dan Citra Ardhita Psy Services, otak remaja secara neurologis belum sepenuhnya siap menerima arus informasi yang deras dari media sosial.

Akibatnya, mereka lebih mudah mengalami overstimulasi kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu singkat, seperti notifikasi, video singkat, komentar, atau konten viral.

Hal ini dapat memunculkan gejala seperti rasa gelisah, kesulitan berkonsentrasi, hingga kecemasan yang memengaruhi perilaku.

Untuk membantu remaja menghadapi kondisi ini, Ayoe menyarankan beberapa langkah berikut:

1. Mengatur Durasi Penggunaan Media Sosial

Remaja dianjurkan untuk membatasi waktu akses media sosial, idealnya hanya 1–2 jam per hari di luar jam belajar.

Penggunaan fitur pembatas waktu di ponsel bisa membantu mengontrol kebiasaan penggunaan yang berlebihan.

2. Melakukan Digital Detox secara Rutin

Menjauh dari media sosial di waktu tertentu, seperti akhir pekan atau malam hari, bisa memberi kesempatan otak untuk beristirahat dari paparan konten yang terus-menerus.

3. Mengenali dan Mengelola FOMO

FOMO atau Fear of Missing Out sering membuat remaja merasa tertinggal dari teman-temannya dan cenderung membandingkan diri.

Ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan memicu stres. Orang tua dan guru perlu memberikan pemahaman bahwa media sosial tidak selalu merefleksikan kehidupan nyata.

4. Mengalihkan ke Aktivitas Dunia Nyata

Remaja sebaiknya diarahkan untuk mengikuti kegiatan fisik atau sosial, seperti olahraga, seni, atau komunitas.

Aktivitas-aktivitas ini membantu menyeimbangkan stimulasi otak dan memperkuat interaksi langsung.

5. Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital

Penting bagi remaja untuk memahami cara memilah informasi yang mereka temui secara daring.

Literasi digital membantu mereka mengenali konten palsu, berbahaya, atau tidak sehat, serta mengasah kemampuan berpikir kritis.

Baca Juga: TikTok Blokir Tagar #SkinnyTok karena Dianggap Promosikan Diet Ekstrem dan Bahayakan Kesehatan Remaja

6. Membangun Hubungan Emosional yang Kuat di Rumah

Suasana rumah yang hangat dan terbuka sangat penting untuk keseimbangan emosi remaja.

Orang tua perlu aktif mendengarkan dan membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk berbagi perasaan, sehingga mereka tidak hanya mengandalkan media sosial untuk menyalurkan emosi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#otak #Overstimulasi #remaja #kesehatan mental #media sosial