RADARTUBAN- Beberapa hari lalu, kabar duka datang dari dunia musik indie. Gusti Irwan Wibowo atau yang lebih dikenal sebagai Gustiwiw meninggal dunia di usia yang sangat muda, 25 tahun.
Dia menghembuskan napas terakhir setelah terjatuh di kamar mandi. Banyak yang mengenalnya sebagai pribadi baik, lembut, ramah, dan nyeni.
Maka tak heran, linimasa Twitter dan Instagram pun penuh ucapan kehilangan dan testimoni kebaikan tentang blio.
Lalu, muncul pertanyaan kladari banyak netizen, sik muncul dan kembali viral: Kenapa ya, orang baik itu seringnya cepet meninggal? Sedangkan orang jahat, sehat-sehat saja, bahkan panjang umur?
Sungguh, ini pertanyaan yang selalu muncul tiap kali tokoh baik hati, artis sederhana, atau orang biasa yang penuh kasih sayang mendadak berpulang.
Sementara itu, orang-orang yang selama ini dianggap merusak lingkungan, menyengsarakan rakyat, atau korupsi uang negara entah kenapa kok ya segar bugar.
Bahkan seakan selalu kebal dari sakit hati dan pilek batin.
Contohnya? Coba tengok kasus tambang di Raja Ampat. Eksploitasi itu merusak kawasan konservasi yang harusnya dijaga, bukan digali.
Tapi ya gitu, yang merusak itu kayaknya sehat-sehat aja. Nggak ada berita mereka masuk rumah sakit karena kecapekan mikir dosa.
Bahkan kayaknya malah tambah kaya dan glowing.
Atau kasus korupsi Pertamina yang merugikan negara sampai Rp193,7 triliun. Itu jumlah yang bahkan Tuhan pun kalau dimintai pertanggungjawabannya pasti bakal minta auditor dulu.
Tapi pelakunya? Masih wara-wiri, sehat secara jasmani dan rohani. Kadang cuma dijadikan headline, tapi nggak ada kabar tindak lanjutnya.
Belum lagi kalau kita bahas Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel. Orang yang bertanggung jawab atas banyak serangan terhadap rakyat Palestina ini juga terlihat sehat, tampil di forum internasional dengan senyum santai.
Padahal, kalau hati nurani masih jalan, harusnya tiap malam dihantui oleh tangisan anak-anak Gaza.
Apakah ini semua kebetulan? Apakah ada "jatah hidup" yang cuma berlaku pada orang baik? Atau memang dunia ini sejak lama sudah tak adil?
Bisa jadi. Tapi bisa juga (kalau kata sebagian orang bijak) Tuhan memang memanggil orang baik lebih cepat karena dunia ini terlalu kejam untuk mereka.
Sementara orang jahat dibiarkan hidup lebih lama, supaya dosanya makin lengkap dan hisabnya makin mahal.
Atau ya mungkin, Tuhan memang sedang bercanda dengan hukum sebab-akibat di dunia ini.
Kadang kita terlalu ingin semua masuk akal, padahal kenyataannya dunia tidak selalu seperti cerita sinetron yang pelakunya langsung ketiban tangga begitu berbuat jahat.
Yang jelas, kehilangan orang baik selalu menyakitkan. Tapi semoga kepergian mereka tidak sia-sia.
Barangkali lewat duka ini, kita bisa diingatkan untuk terus waras, terus peduli, dan terus mempertanyakan ketimpangan yang terlalu sering dianggap biasa.
Selamat jalan, Gusti Irwan Wibowo. Dunia boleh kehilanganmu, tapi karya-karyamu tidak akan mudah dilupakan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni