RADARTUBAN - Di tengah gemuruh knalpot dan lalu lintas yang riuh, kadang terdengar sesuatu yang unik: seseorang bernyanyi lantang di atas motornya.
Tanpa pendengar. Tanpa penonton. Dia tak sedang tampil, tapi mengekspresikan diri. Spontan dan apa adanya.
Mungkin kita pernah tertawa kecil melihatnya. Tapi menurut berbagai literatur psikologi, seperti buku The Psychology of Music karya Diana Deutsch, atau Flow dari Mihaly Csikszentmihalyi, tindakan ini jauh dari sekadar kebiasaan lucu.
Dia mencerminkan dunia batin yang sedang bekerja.
Motor bukan hanya alat transportasi.
Bagi sebagian orang, ia menjadi ruang privat yang unik—bergerak, terbuka, tapi tetap personal.
Dalam Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us, Daniel H. Pink menjelaskan bahwa manusia butuh otonomi dan ruang personal untuk mengatur emosinya.
Menyanyi di atas motor memberi keduanya.
"Itu seperti mobil terbang buat emosi. Saya bisa jadi diri sendiri di atas motor," kata banyak orang yang hobi menyanyi di atas kendaraannya.
Katarsis dan Emosi yang Dilepas
Menurut Emotion and Adaptation oleh Richard S. Lazarus, menyanyi bisa berfungsi sebagai bentuk katarsis—melepaskan emosi dengan aman.
Ketika seseorang menyanyikan lagu tertentu, apalagi yang memiliki ikatan emosional kuat, dia sedang memproses pengalaman batinnya.
Psikolog klinis menjelaskan bahwa menyanyi adalah bentuk self-regulation yang ampuh.
Seseorang menyanyi di motor biasanya sedang mengatur ulang mood-nya. Ini sehat secara emosional, dan dapat mencegah akumulasi stres kronis.
Musik sebagai Stimulus Dopamin
Buku This Is Your Brain on Music oleh Daniel J. Levitin menunjukkan bagaimana musik—termasuk menyanyi sendiri—merangsang sistem limbik di otak, pusat emosi dan penghargaan.
Saat kita menyanyi, terutama lagu favorit, tubuh melepas dopamin, hormon kebahagiaan.
Orang dengan hormon kebahagiaan ini cenderung suka menikmati kesendiriannya. Tidak suka merepotkan orang lain, tapi juga tidak bisa menolak saat orang lain meminta tolong kepada dirinya.
Kesendirian yang Bermakna
Banyak yang takut kesendirian. Tapi bagi sebagian orang, kesendirian di atas motor justru menjadi ruang kontemplasi.
Dalam Solitude: A Return to the Self, Anthony Storr menekankan pentingnya waktu sendiri untuk pertumbuhan psikologis. Menyanyi menjadi medium untuk menyelami pikiran.
"Kadang saya nyanyi keras-keras cuma buat ngeluarin rasa capek. Habis itu lebih lega," kata banyak orang yang suka menikmati fase ini.
Ekspresi Otentik di Tengah Dunia Penuh Topeng
Menariknya, menyanyi saat mengendarai motor sering dilakukan tanpa rencana. Tidak untuk disaksikan, tidak untuk dinilai.
Hal ini beresonansi dengan konsep "flow" dari Csikszentmihalyi—keadaan di mana seseorang larut dalam aktivitas yang dia nikmati. Menyanyi bisa jadi cara mencapai momen itu.
Jadi, ketika kita melihat seseorang menyanyi sambil menyusuri jalan dengan motornya, barangkali kita sedang menyaksikan momen paling jujur dari keseharian yang lelah.
Momen kecil yang menunjukkan bahwa manusia, di tengah tuntutan hidup, selalu mencari ruang untuk merasa utuh kembali.
Dan motor, dengan semua kebisingannya, justru bisa jadi tempat paling sunyi untuk berdamai dengan diri sendiri. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama