Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Slow Living yang Makin Hits Dikalangan Anak Muda, Gaya Hidup Anti Grasa-Grusu

Siska Yudianti • Rabu, 25 Juni 2025 | 16:23 WIB
slow living jadi gaya hidup favorit yang menekankan kesadaran dan self-love di zaman serba cepat.
slow living jadi gaya hidup favorit yang menekankan kesadaran dan self-love di zaman serba cepat.

RADARTUBAN- Saat dunia bergerak semakin cepat dan penuh tuntutan, tren gaya hidup slow living justru kian menguat, khususnya di kalangan generasi muda Indonesia.

Tak hanya viral di media sosial seperti TikTok dan Instagram, gaya hidup ini telah menjadi pilihan sadar banyak orang untuk hidup tenang, bermakna, dan selaras dengan kebutuhan pribadi.

Slow living bukan tentang bermalas-malasan atau menghindari tanggung jawab.

Sebaliknya, filosofi ini menekankan pentingnya menjalani hidup dengan lebih sadar, menikmati proses, dan memperlambat langkah untuk menemukan kembali makna dari aktivitas sehari-hari.

Rutinitas seperti bangun tanpa alarm, membuat kopi pelan-pelan, hingga menikmati suasana pagi menjadi simbol dari gaya hidup ini.

Menurut Ayu (29), mantan profesional startup yang kini menetap di Bali.

“Dulu saya kejar target tanpa henti, sekarang saya tetap bekerja tapi dalam ritme yang lebih manusiawi.”

Banyak dari generasi Z dan milenial mulai menjauh dari budaya hustle dan kehidupan kota besar yang penuh tekanan.

Mereka lebih memilih hidup di kota kecil, bekerja secara daring, mengelola waktu dengan fleksibel, serta mengisi hari dengan aktivitas reflektif seperti meditasi, membaca, atau memasak sendiri.

Di media sosial, tagar seperti #slowliving dan #livinginthemoment telah ditonton ratusan juta kali, menunjukkan antusiasme global terhadap gaya hidup yang lebih pelan tapi mendalam.

Psikolog klinis Dr. Lidia Mawarti menyebut slow living sebagai ekspresi cinta diri yang lebih bermakna.

“Bukan sekadar merawat tubuh dari luar, tapi juga mendesain hidup agar sesuai dengan nilai pribadi, bukan sekadar ikut arus sosial.”

Self-love dalam konteks ini berarti menolak tekanan eksternal yang melelahkan, dan mulai mengatur ulang prioritas untuk mencapai keseimbangan emosional dan mental.

Masa pandemi menjadi pemantik besar tren slow living. Ketika aktivitas fisik dan sosial melambat, banyak orang merasakan manfaat dari hidup yang lebih tenang.

Kini, pasca pandemi, slow living bukan lagi sekadar gaya hidup alternatif, tetapi telah menjadi gerakan global—dari tren digital detox, hobi bercocok tanam, hingga menjamurnya bisnis kecil berbasis rumah.

Di tengah dunia yang dipenuhi distraksi digital dan tekanan untuk selalu produktif, slow living hadir sebagai bentuk resistensi tenang.

Ia mengajak kita untuk menyadari: hidup tak harus selalu cepat untuk terasa berarti.

Mungkin, lewat pelan-pelan dan penuh kesadaran, kita bisa benar-benar merasakan arti dari sebuah hidup yang utuh. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Milenial #hidup tenang #gaya hidup #Slow Living #generasi Z