Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sejarah Cincin Tunangan: Dari Simbol Kepatuhan hingga Lambang Cinta Abadi

Nadia Nafifin • Kamis, 3 Juli 2025 | 01:01 WIB
Ilustrasi mahar pernikahan berupa cincin.
Ilustrasi mahar pernikahan berupa cincin.

RADARTUBAN - Cincin tunangan dianggap sebagai simbol cinta abadi dan komitmen seumur hidup sebelum pernikahan, namun ternyata memiliki sejarah kelam di masa lalu.

Menurut para sejarawan, cincin tunangan pertama kali muncul di Romawi Kuno sekitar 200 SM, bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai tanda perjanjian hukum atau ketaatan.

Pada masa itu, wanita di Romawi Kuno memakai cincin tunangan yang terbuat dari bahan seperti batu api, tulang, gading, perunggu, atau besi, tanpa kilau berlian yang menghias jari mereka.

Menurut Gemological Institute of America (GIA), cincin tunangan pada masa Romawi Kuno digunakan sebagai tanda kontrak bisnis atau untuk menunjukkan cinta dan kepatuhan wanita kepada pria.

Uniknya, desain cincin ini terinspirasi dari cincin Firaun Mesir yang mencerminkan bentuk matahari dan bulan, dua elemen yang dihormati dalam budaya Mesir.

Makna cincin tunangan berubah pada tahun 850 M, saat Paus Nicholas I menetapkan bahwa cincin tersebut melambangkan niat seorang pria untuk menikahi pasangannya.

Pada abad ke-16, wanita yang telah menikah sering memakai cincin gimmel, yaitu cincin yang terdiri dari dua atau lebih lingkaran yang bisa disatukan.

Saat bertunangan, masing-masing pasangan mengenakan satu lingkaran, dan pada upacara pertunangan, lingkaran-lingkaran tersebut digabungkan menjadi satu cincin yang dikenakan oleh pengantin wanita sebagai simbol pernikahan.

Menurut Cape Town Diamond Museum, catatan pertama cincin tunangan berlian muncul pada tahun 1477, ketika Archduke Maximilian dari Austria melamar Mary of Burgundy dengan cincin berlian.

Meski momen ini dianggap sebagai awal mula cincin tunangan berlian, tradisi ini baru menjadi tren luas di masyarakat setelah beberapa abad berlalu.

Pada pertengahan abad ke-17, kaum Puritan di Inggris menolak penggunaan cincin tunangan karena menganggapnya sebagai simbol keterikatan pada gereja atau bahkan tidak religius, serta menganggap perhiasan sebagai dosa.

Pandangan ini dibawa ke Amerika selama masa kolonisasi. Sebagai ganti cincin tunangan atau kawin, mereka menggunakan thimble (pelindung jari untuk menjahit).

Setelah menikah, pengantin wanita memotong bagian bawah thimble dan memakainya sebagai cincin kawin.

Cincin tunangan kembali populer berkat Ratu Victoria dari Inggris.

Meskipun sempat meredup pada akhir milenium, pada tahun 1839, Pangeran Albert dari Saxe-Coburg dan Gotha menghadiahkan Ratu Victoria cincin tunangan berbentuk ular yang istimewa.

Terbuat dari emas 18 karat, dengan mata dari batu ruby, zamrud hijau besar di tengah (sesuai batu kelahiran sang ratu), dan mulut dihiasi berlian.

Cincin 'ular' ini berhasil memikat hati Ratu Victoria dan masyarakat, sehingga memicu kebangkitan popularitas cincin tunangan sebagai simbol cinta sejati hingga kini. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#simbol cinta #romawi kuno #firaun mesir #pernikahan #cincin