RADARTUBAN- Ada satu kutipan menarik dari film 3 Hari untuk Selamanya: “Di usia 27, kamu akan mengambil keputusan penting yang akan mengubah hidupmu.”
Kalimat ini mungkin terdengar dramatis, tapi ternyata cukup banyak yang merasa relate.
Usia 27 memang sering disebut sebagai masa pergolakan, masa di mana hidup terasa seperti roller coaster—naik turun, penuh kejutan, dan kadang bikin mual.
Menurut Dr. Oliver Robinson, peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, Quarter Life Crisis (QLC) biasanya terjadi antara usia 25 hingga 35 tahun, dengan puncaknya di usia 30.
Artinya, usia 27 adalah titik panas—masa di mana banyak orang mulai mempertanyakan arah hidupnya.
Di usia ini, kamu mulai sadar bahwa waktu berjalan cepat. Rasanya baru kemarin lulus kuliah, eh sekarang teman-teman sudah pada lamaran, menikah, bahkan punya anak.
Sementara kamu masih sibuk bertanya-tanya: “Aku ini sebenarnya mau ke mana, sih?”
Dan ya, survei bahkan menyebutkan bahwa usia 27 adalah usia paling stres, terutama bagi perempuan.
Ironisnya, mereka justru akan terlihat paling menarik di usia 31. Jadi, kalau sekarang kamu merasa hidupmu berantakan, tenang, mungkin kamu cuma sedang berada di fase “menuju glow up.”
Usia 27 sering kali jadi momen di mana seseorang mengambil keputusan besar: pindah kerja, putus dari hubungan yang nggak sehat, mulai hidup sehat, atau bahkan memutuskan untuk menikah.
Tapi keputusan-keputusan ini nggak selalu datang dari tempat yang tenang. Kadang, mereka lahir dari kegelisahan, tekanan sosial, atau rasa takut tertinggal.
Di usia ini juga, kamu mulai menyadari bahwa “regenerasi” bukan cuma istilah di dunia olahraga.
Teman-temanmu mulai memanggilmu “Om” atau “Tante” karena anak mereka sudah bisa bicara.
Teman dekat jadi asing, mantan jadi kenangan, dan hidup terasa seperti sedang di-reset.
Menariknya, usia 27 juga dikenal dalam dunia hiburan sebagai usia “keramat”.
Ada istilah “27 Club”, yaitu sebutan untuk sederet musisi legendaris yang meninggal di usia 27 tahun.
Nama-nama seperti Kurt Cobain, Amy Winehouse, Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Jim Morrison masuk dalam daftar ini.
Banyak yang mengaitkan fenomena ini dengan tekanan karier, ketenaran, dan kesehatan mental yang tak tertangani.
Meski sebagian menganggapnya kebetulan, tak sedikit pula yang percaya ada semacam “kutukan” di balik angka 27.
Tentu tidak. Usia 27 bukan kutukan, tapi cermin. Di usia ini, kamu mulai benar-benar melihat siapa dirimu, apa yang kamu inginkan, dan ke mana kamu ingin melangkah.
Mungkin terasa berat, tapi justru di sinilah kamu mulai membentuk versi terbaik dari dirimu sendiri.
Kalau sekarang kamu sedang merasa bingung, gelisah, atau bahkan sedih tanpa sebab, itu wajar. Kamu sedang tumbuh.
Dan seperti semua proses pertumbuhan, kadang memang terasa menyakitkan. Tapi percayalah, kamu nggak sendiri.
Karena pada akhirnya, usia 27 bukan tentang akhir—tapi tentang awal yang lebih sadar, lebih jujur, dan (semoga) lebih bahagia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni