Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Industri Sepatu Rumahan Indonesia Berkembang Pesat, Potensi Ekspor dan Ekonomi Lokal Tinggi

M. Afiqul Adib • Rabu, 9 Juli 2025 | 00:05 WIB
Perajin sepatu lokal dari berbagai kota raih pasar internasional
Perajin sepatu lokal dari berbagai kota raih pasar internasional

RADARTUBAN- Kalau kamu pikir sepatu lokal cuma jadi pelengkap etalase di pasar tradisional, coba deh jalan-jalan ke Solo, Mojokerto, Depok, atau bahkan sudut-sudut Jakarta.

Di sana, kamu akan menemukan kenyataan yang bikin kamu tercengang: Indonesia punya banyak banget produsen sepatu rumahan yang kualitasnya nggak kalah dari brand luar negeri.

Bahkan, beberapa di antaranya sudah punya penggemar setia dan rutin ekspor ke luar negeri.

Sebut saja Aerostreet dari Solo. Brand ini lahir dari semangat produksi rumahan, tapi sekarang sudah jadi primadona anak muda yang pengin tampil keren tanpa bikin dompet megap-megap.

Di Mojokerto, ada banyak pengrajin sepatu kulit yang produknya sering dikira buatan Italia.

Di Depok dan Jakarta, bengkel-bengkel kecil terus hidup dan berkembang, memproduksi sepatu dengan tangan-tangan terampil yang sudah turun-temurun.

Tapi sayangnya, potensi besar ini belum dimaksimalkan. Kita masih sering silau sama merek luar, padahal sepatu lokal juga punya gaya, kualitas, dan cerita yang nggak kalah keren.

Memang sih, sekarang sudah jauh lebih baik dibanding dulu.

Kampanye “local pride” mulai menggema, dan anak-anak muda mulai bangga pakai produk dalam negeri. Tapi tetap saja, ruang untuk tumbuh masih sangat luas.

Menurut Yoseph Billie Dosiwoda, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), industri alas kaki Indonesia diperkirakan akan tumbuh antara 12% hingga 17% pada tahun 2025.

Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya permintaan di pasar domestik dan ekspor.

Artinya, produksi sepatu rumahan bisa jadi tulang punggung ekonomi lokal kalau dikelola dengan serius.

Coba tengok Cibaduyut di Bandung. Kawasan ini dulunya cuma kumpulan pengrajin kecil, tapi sekarang dikenal sebagai sentra sepatu terbesar di Asia Tenggara.

Mereka bisa bertahan karena terus berinovasi, memanfaatkan media sosial, dan berani tampil beda.

Bahkan, banyak brand dari Cibaduyut yang sekarang punya toko online sendiri dan rutin ikut pameran internasional.

Hal serupa juga terjadi di Tamansari, Bogor. Hampir 80% warganya bekerja sebagai perajin sepatu.

Mereka memproduksi sepatu custom yang bisa dipesan sesuai selera, dari bahan, model, sampai ukuran. Produksinya masih manual, tapi justru itu yang bikin tiap pasang sepatu terasa personal dan eksklusif.

Yang menarik, industri sepatu rumahan ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal identitas.

Setiap pasang sepatu punya cerita: tentang keluarga yang mewariskan keahlian, tentang komunitas yang saling bantu, dan tentang mimpi kecil yang terus dijaga.

Kalau kita mau jujur, sepatu lokal itu bukan cuma alas kaki, tapi juga simbol perlawanan terhadap dominasi merek luar yang kadang cuma menang di branding.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Gampang. Mulailah dari langkah kecil: beli sepatu lokal, pakai dengan bangga, dan ceritakan ke orang lain.

Kalau kamu punya usaha, kolaborasilah dengan pengrajin lokal. Kalau kamu influencer, bantu promosikan brand lokal.

Dan kalau kamu pemerintah, tolong dong, kasih dukungan nyata—bukan cuma seremoni dan janji manis.

Karena siapa tahu, dari bengkel kecil di gang sempit, lahir merek sepatu yang suatu hari bisa bersaing di Paris Fashion Week.

Dan saat itu tiba, kita bisa bilang dengan bangga: “Itu buatan Indonesia, Bro. Dari kampung, tapi kelas dunia.” (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Pasar Tradisional #produsen sepatu rumahan #produksi rumahan #solo #Cibaduyut