Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Bahaya Toxic Relationship, Cinta Beracun di Balik Hubungan

Shafa Dina Hayuning Mentari • Kamis, 10 Juli 2025 | 17:30 WIB
Pelajari ciri dan dampak toxic relationship agar dapat menjaga kesehatan mental
Pelajari ciri dan dampak toxic relationship agar dapat menjaga kesehatan mental

RADARTUBAN – Cinta seharusnya menjadi tempat aman: ruang untuk tumbuh bersama, saling menerima, dan berbagi rasa. Namun, kenyataan tak selalu seindah harapan.

Banyak hubungan yang pada permukaan terlihat mesra dan harmonis, tapi di balik layar, menyimpan luka batin yang mendalam.

Inilah wajah dari toxic relationship—racun yang disamarkan dengan pelukan, perhatian, dan janji manis.

Hubungan semacam ini kerap menjerat pelan-pelan. Bukan dengan kekerasan fisik, melainkan melalui kontrol berlebihan, manipulasi halus, dan tekanan emosional yang sulit dikenali.

Semua tampak biasa saja, bahkan terasa seperti cinta. Namun di dalamnya, salah satu pihak mulai kehilangan dirinya sendiri, pelan-pelan dirampas harga dirinya, hingga tanpa sadar ia terjebak dalam lingkaran yang menyakitkan.

Penelitian Triayani dkk. (2024) yang berjudul Persepsi dan Pengalaman Individu dalam Hubungan Toxic Relationship di Kalangan Remaja mencatat, racun ini kerap muncul dalam hubungan yang telah berlangsung lama.

Tanda-tandanya bahkan bisa dikenali sejak masa awal pacaran, meski kerap diabaikan karena dibungkus kenangan indah dan harapan akan masa depan bersama.

Yang membuat hubungan toksik begitu rumit adalah wajah ganda pelakunya. Di media sosial, pasangan ini bisa tampil romantis dan kompak.

Tapi di balik layar, salah satu dari mereka mungkin sedang berjuang melawan rasa hampa, takut, bahkan trauma.

Ironisnya, banyak korban justru menyangkal kenyataan. Mereka percaya semua ini hanya fase, sesuatu yang akan membaik seiring waktu. Padahal, luka terus menganga.

Keluar dari hubungan seperti ini tidak mudah. Dibutuhkan keberanian besar untuk menyadari bahwa cinta tidak seharusnya menyakitkan.

Bahwa bertahan bukanlah bentuk kesetiaan, tapi bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri.

Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat sangat penting, untuk membangunkan kesadaran bahwa cinta sehat dimulai dari diri yang sehat.

Serly Anggraeni, salah seorang Gen Z, menegaskan pentingnya keberanian untuk memutus rantai racun sejak awal. Sebab, hubungan toxic ini sering kali menimbulkan kerugian di pihak perempuan.

“Sekali ada tanda-tanda menyakiti, lebih baik langsung sudahi. Kalau dibiarkan sampai menikah, justru makin banyak yang dikorbankan,” ujarnya.

Senada, Aisyah Nur Fitria mengingatkan agar tidak lagi mengutamakan cinta semata jika sudah ada kekerasan dalam hubungan. Sebab, hubungan yang diawali tidak sehat akan selalu berakhir buruk.

“Harus berani keluar secepatnya. Kalau sudah menyakiti, semua alasan sayang itu tidak ada artinya,” tegasnya. (saf/yud)

Ciri-Ciri:

Tidak Sehat dan Tidak Setara: Salah satu pihak cenderung mendominasi, mengontrol, atau merendahkan pihak lain.

Dipenuhi Manipulasi dan Drama: Komunikasi seringkali penuh tekanan, kebohongan, atau permainan emosi (gaslighting, silent treatment, dsb).

Menurunkan Kesehatan Mental: Sering merasa cemas, lelah emosional, tidak berdaya, bahkan kehilangan jati diri.

Ketergantungan Emosional: Meski disakiti, korban sering merasa tidak bisa pergi karena sudah terlalu tergantung atau takut ditinggal.

Siklus Berulang: Hubungan toxic biasanya berulang antara fase ‘bulan madu’ (manis sementara), konflik, dan permintaan maaf palsu.

Kurangnya Dukungan: Pasangan tidak mendukung pertumbuhan pribadi atau justru menghalangi pencapaian dan relasi sosial korban.

Cemburu dan Kontrol Berlebihan: Seringkali dibungkus dengan dalih “sayang”, padahal sebenarnya adalah bentuk kepemilikan dan pengawasan ekstrem.

Cara Menghindari:

Kenali dan hargai diri sendiri: Pahami batasan, nilai, dan kebutuhan emosionalmu. Orang yang mengenal dirinya lebih kecil kemungkinannya terjebak dalam hubungan merugikan.

Jangan abaikan red flags: Sikap seperti mudah marah, terlalu posesif, tidak menghargai pendapat, atau sering memanipulasi sejak awal harus menjadi alarm bahaya.

Bangun komunikasi sehat: Pilih pasangan yang bisa berdiskusi secara terbuka, tanpa saling menyalahkan atau menyudutkan.

Perhatikan bagaimana mereka memperlakukan orang lain: Seringkali cara seseorang memperlakukan keluarga, teman, atau pelayan mencerminkan sikap aslinya.

Jangan buru-buru dalam hubungan: Nikmati proses mengenal satu sama lain tanpa tekanan. Hubungan yang sehat tidak dibangun dari rasa takut atau keterpaksaan.

Tetap punya ruang pribadi: Pertahankan hobi, pertemanan, dan kehidupan sosial di luar hubungan. Hubungan sehat tak membuatmu terisolasi.

Berani bilang tidak: Pasangan yang baik akan menghargai batasanmu, bukan memaksakan kehendaknya atas nama cinta.

Konsultasi atau curhat pada orang terpercaya: Dapatkan sudut pandang dari luar, terutama jika kamu mulai merasa tidak nyaman dalam hubungan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#cara menghindari toxic relationship #trauma #kesehatan mental #toxic relationship #hubungan asmara #Emosional #kekerasan fisik #hubungan toxic