Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Alasan Kenapa Kita Sedih Kalau Postingan Media Sosial Sepi Interaksi

M. Afiqul Adib • Kamis, 10 Juli 2025 | 20:10 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN - Kita semua pernah ada di fase itu. Sudah capek-capek bikin konten, edit pakai filter terbaik, caption dipikirin matang-matang, bahkan sempat mikir, “Wah, ini bakal viral sih.”

Tapi kenyataannya? Reels cuma ditonton 4 orang. Like cuma 5. Komentar? Nggak ada.

Yang nonton pun kayaknya cuma kamu sendiri, dua akun fake, dan satu orang yang nggak sengaja ke-swipe.

Dan anehnya, meskipun kita tahu itu cuma angka, tetap saja rasanya sedih.

Kenapa Bisa Begitu?

Jawabannya ternyata nggak sesederhana “baper”. Ada penjelasan psikologis dan sosial yang cukup dalam.

Salah satunya adalah kecemasan sosial, atau dalam istilah medisnya disebut social anxiety disorder.

Ini adalah ketakutan berlebihan terhadap penilaian orang lain dalam situasi sosial.

Dan di era digital, media sosial adalah panggung sosial paling besar.

Ketika kita mengunggah sesuatu, secara tidak sadar kita sedang “menampilkan diri” ke publik.

Kita berharap ada yang melihat, menyukai, bahkan memuji.

Tapi ketika responsnya sepi, kita merasa invisible.

Seolah-olah eksistensi kita tidak dianggap.

Efek Algoritma dan Harga Diri Digital

Masalahnya makin rumit karena algoritma media sosial juga nggak ramah-ramah amat.

Algoritma hanya akan memprioritaskan konten yang langsung dapat interaksi tinggi dalam waktu singkat.

Jadi kalau postinganmu nggak langsung rame, ya siap-siap tenggelam di lautan konten lain.

Dan di sinilah muncul yang disebut harga diri digital. Kita mulai mengukur nilai diri dari jumlah like, view, dan follower.

Padahal, itu semua bisa dimanipulasi. Tapi tetap saja, ketika angka-angka itu kecil, kita merasa gagal.

Reminiscence Bump dan Efek Nostalgia

Lucunya, kita juga sering membandingkan diri dengan masa lalu.

“Dulu waktu masih SMA, postingan gue rame banget," gumam mereka.

Nah, itu karena kamu dulu punya lebih banyak waktu buat interaksi, dan algoritma belum sekejam sekarang. Sekarang? Kamu sibuk kerja, ngurus hidup, dan algoritma makin pilih kasih.

Hidup Itu Nggak Harus Viral

Tapi tenang, kamu nggak sendiri. Banyak orang mengalami hal yang sama. Dan mungkin ini saatnya kita berdamai dengan kenyataan bahwa hidup itu nggak harus viral.

Nggak semua hal harus dibagikan. Nggak semua momen harus dikomentari. Kadang, cukup dinikmati sendiri.

Karena pada akhirnya, eksistensi kita nggak ditentukan oleh jumlah like, tapi oleh seberapa jujur kita menjalani hidup.

Kalau kamu tetap ingin posting, ya silakan.

Tapi jangan jadikan interaksi sebagai tolok ukur kebahagiaan. Karena seperti kata pepatah digital: “Yang penting bukan siapa yang melihat, tapi kenapa kamu membagikannya.”

Dan kalau kamu butuh validasi, ingat: bahkan reels dengan 4 viewer pun bisa menyelamatkan satu orang dari hari yang buruk. Termasuk kamu sendiri. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#sosial #konten #anxiety #digital #interaksi #Algoritma