RADARTUBAN – Semua orang dapat menunjukan ekspresi ceria, tersenyum, tertawa, dan terlihat prima di hadapan publik.
Namun, hal iut tidak selalu mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Di balik senyum yang hangat, terdapat dari mereka yang menyimpan beban emosional berat.
Hal ini disebut sebagai depresi fungsional atau istilah populernya, high-functioning depression.
Menurut situs kesehatan dari Alodokter Indonesia, tanda-tanda seseorang depresi sering tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari.
Wajah terlihat datar atau minim emosi, mata sembab tapi tertawa, dan kulit tampak kusam.
Gejala ini dapat tak terdeteksi karena penderita sendiri tetap menjalani hidup seperti biasa — bekerja, bersosialisasi, dan terlihat “baik-baik saja”.
Sementara itu, dari portal Verywell Mind menyebut kondisi ini sebagai “functional depression”, yaitu keadaan di mana seseorang sebenarnya mengalami gejala depresi.
Seperti rasa lelah, putus asa, serta gangguan tidur—namun masih bisa menjalankan tugas sehari-hari tanpa terlihat kesulitan.
Bayangkan seseorang yang pulang kerja tertawa bersama teman, namun saat tiba di rumah langsung berlarut dalam kesedihan.
Hal ini dapat menguras energi, namun senyum tetap dipertahankan.
Depresi fungsional ini bukan sekedar pura-pura bahagia. Ini adalah cara bertahan karena berpikir agar tidak membebani orang lain, atau agar tidak dianggap lemah.
Masalah yang terjadi adalah ketika bentuk depresinya dianggap ringan atau tidak nyata.
Hal ini sering disebut “layar hitam” dalam kapasitas emosional, di mana penderita merasa tidak berdaya, namun juga tidak punya ruang untuk berhenti.
Wujud dari ketidakberdayaan tersebut seperti rasa letih yang konstan, kehilangan gairah terhadap hal-hal yang dulu mereka sukai, atau tekanan batin yang mendesak dan tidak kunjung hilang.
Akibat gejala yang tidak begitu kentara, beberapa atau banyak dari mereka yang mengalami depresi ini justru membiarkan dan enggan mencari bantuan.
Tak jarang dari mereka mengaku baik-baik saja meski hatinya remuk.
Padahal, terdapat bahaya besar ketika pikiran negatif itu terus dikubur, hingga mendorong ke situasi yang lebih berbahaya, seperti pikiran untuk mengakhiri hidup.
Pesan untuk Kita Semua
Depresi tidak selalu tampak lewat linangan air mata atau penampilan muram. Namun, terkadang mereka menyelinap diam-diam di balik senyum.
Jika kamu melihat teman atau orang terdekat yang tampak prima, namun lelah emosional, cobalah ajak bicara.
Terkadang, satu pertanyaan seperti “Apa kamu baik-baik?” bisa membuka cerita yang tak pernah mereka ungkapkan.
Depresi fungsional membuat kita terbiasa bertahan, namun bukan berarti harus dibiarkan.
Mari membuka ruang untuk bicara, mendengarkan dengan empati, dan berikan dukungan.
Karena terkadang, keberanian diri untuk menunjukkan bahwa kita tidak baik-baik saja adalah awal dari penyembuhan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama