Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Empat Ciri Pencitraan Palsu yang Sering Tak Disadari di Dunia Maya

Alifah Nurlias Tanti • Selasa, 15 Juli 2025 | 14:23 WIB

Pencitraan diri di media sosial bisa menipu publik, tapi tidak bisa menipu diri sendiri.
Pencitraan diri di media sosial bisa menipu publik, tapi tidak bisa menipu diri sendiri.

RADARTUBAN – Di era digital dan media sosial yang serba cepat, banyak orang justru lebih fokus membentuk citra diri dibanding mencari makna hidup yang sebenarnya.

Fenomena ini mendorong munculnya tren pencitraan—di mana seseorang berusaha keras menampilkan kesan sukses dan bahagia demi mendapatkan pengakuan sosial, meski di balik itu mereka mungkin merasa hampa.

Demi terlihat ideal di mata publik, tak sedikit yang rela meninggalkan jati diri dan menggantinya dengan persona palsu yang dirancang sedemikian rupa.

Mereka membangun “versi sempurna” dari diri sendiri yang bisa tampil memukau di layar ponsel, namun belum tentu mencerminkan kenyataan.

Baca Juga: Citra Pemimpin Runtuh Oleh Uang: Ironi Kasus Mbak Ita

Berikut ini empat ciri umum pencitraan diri yang sering dilakukan demi membangun ilusi kesuksesan dan kebahagiaan, sebagaimana dirangkum dari laman Income Realty:

1. Mengejar Pengakuan Lewat Media Sosial

Seseorang terus-menerus membagikan gaya hidup mewah, pencapaian, hingga barang-barang mahal hanya untuk meraih pujian dan validasi dari warganet.

Bukan karena ingin berbagi inspirasi, melainkan demi sanjungan semu.

2. Memamerkan Status Materi

Rumah megah, mobil mahal, dan liburan ke luar negeri sering dijadikan tolak ukur kesuksesan.

Namun bagi sebagian orang, hal ini lebih merupakan ajang pamer daripada refleksi kesejahteraan batin.

3. Karier sebagai Alat Gengsi

Tak sedikit orang yang mengejar karier dan jabatan tinggi bukan karena passion atau keinginan berkontribusi, melainkan demi prestise dan pengakuan.

Tujuan bekerja menjadi kabur, tergantikan oleh ambisi untuk sekadar “terlihat berhasil”.

4. Masuk Lingkaran Sosial Demi Prestise

Bergabung dengan kelompok eksklusif atau komunitas elite kadang dilakukan bukan karena keinginan tulus untuk berjejaring, tetapi karena hasrat menaikkan status sosial.

Semakin dikenal, semakin dianggap “berharga”.

Fenomena pencitraan ini seolah menjadi paradoks kehidupan modern.

Di balik segala kemewahan yang ditampilkan, bisa jadi tersembunyi kekosongan makna yang belum tersentuh.

Penting untuk diingat: menjadi autentik dan menerima diri apa adanya jauh lebih bernilai daripada sekadar menjadi “tampak sempurna” di mata orang lain.

Sebab, pencitraan mungkin bisa mengelabui publik, tapi tidak bisa mengelabui diri sendiri. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#sosial #pencitraan #materi #karier #citra diri #media sosial