RADARTUBAN- Di era digital, pamer itu bukan lagi soal baju baru atau liburan ke Bali. Sekarang, pamer gaya hidup sehat pun bisa—lewat aplikasi seperti Strava.
Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk merekam aktivitas olahraga, terutama lari dan sepeda. Setelah itu? Tinggal unggah. Beres.
Tapi seperti biasa, di mana ada data, di situ ada cara buat ngibul. Maka lahirlah fenomena joki Strava—orang yang dibayar (atau diminta tolong) untuk berlari atau bersepeda atas nama orang lain.
Aktivitasnya diunggah, seolah-olah itu dia yang melakukannya. Lucu? Ya. Aneh? Sedikit. Tapi mari kita tahan dulu tuduhan “pamer” atau “haus validasi.” Bisa jadi, alasan orang pakai joki Strava lebih kompleks dari itu.
Kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa semua orang yang pamer pace 5:00 itu hanya ingin tampil keren. Bahwa unggahan 10 kilometer dalam 45 menit adalah sekadar konten untuk mendulang pujian.
Padahal, seperti bir yang bisa jadi simbol perayaan atau pelarian, unggahan olahraga juga bisa punya lapisan makna yang lebih dalam.
Bisa jadi, si pengguna Strava ini sedang berusaha menutupi sesuatu. Misalnya:
“Pamitnya lari, padahal sejam-dua jam ke tempat lain.”
Kok bisa? Ya bisa. Di kota-kota besar, durasi lari sejauh 10 kilometer bisa memakan waktu lebih dari satu jam.
Selama itu, seseorang bisa ke mana saja—dari selingkuh sampai sekadar healing dari rumah yang sumpek. Dan Strava jadi alibi yang tampak sehat.
Lagipula, siapa yang curiga kalau seseorang rajin lari tiap pagi? Niat hidup sehat itu biasanya justru dipuji. Padahal siapa tahu, peluh yang keluar itu bukan karena sprint, tapi karena panik waktu hampir ketahuan.
Fenomena joki Strava juga bisa terjadi karena tekanan sosial. Teman-teman komunitas lari makin rajin unggah progres. Kalau kamu absen seminggu saja, mulai muncul sindiran halus.
Jadi, untuk mempertahankan “eksistensi digital,” orang bisa saja pakai jalan pintas. Ya, joki itu tadi.
Apalagi buat yang gabung di challenge tertentu, misal “lari 100 km sebulan.” Kalau sudah akhir bulan tapi masih kurang 40 km, dan lutut sudah minta ampun, maka opsi joki mendadak terdengar masuk akal.
Tentu, ini bukan pembenaran. Tapi kita jadi paham bahwa hidup sehat pun bisa jadi tekanan. Dan di balik unggahan Strava yang terlihat keren, bisa jadi ada napas tersengal, kaki pegal, dan kadang… bukan kaki sendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni