Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Merasa Stres dan Jauh dari Pasangan? Pelukan dan Sentuhan Bisa Picu Oksitosin, Hormon Pemulih Relasi

Favian Fadlurahman • Jumat, 18 Juli 2025 | 23:10 WIB
Pelukan dan tawa bersama bisa menjadi pemicu alami hadirnya rasa bahagia
Pelukan dan tawa bersama bisa menjadi pemicu alami hadirnya rasa bahagia

RADARTUBAN – ketika seseorang memanggul bayi, memberi pelukan hangat, atau sekadar tersenyum tulus, mungkin itulah saat hormon oksitosin bekerja. Hormon ini bukan sekadar biokimia, tetapi juga bahasa kemanusiaan.

Dikenal luas sebagai “hormon cinta”, oksitosin ternyata menyimpan peran yang jauh lebih dalam daripada yang kita kira.

Menurut sumber dari Alodokter, oksitosin diproduksi oleh hipotalamus dan dilepaskan dari kelenjar pituitari.

Hormon ini sering muncul dalam konteks persalinan dan menyusui, karena memicu kontraksi rahim serta membantu aliran ASI pada ibu.

Namun oksitosin bukan hanya untuk ibu, pria pun juga dapat memproduksi oksitosin, dan ia sangat aktif saat interaksi emosional terjadi.

Catatan dari para peneliti menemukan bahwa sentuhan sederhana seperti pelukan, ciuman, atau berpegangan tangan bisa meningkatkan kadar oksitosin. Ini dapat memperkuat rasa kepercayaan dan empati antara individu.

Dikutip dari Halodoc, hormon oksitosin juga efektif dalam mengurangi stres, kecemasan, bahkan tekanan darah.

Maka dari itulah hormon oksitosin sering disebut sebagai “hormon cinta” sekaligus “hormon kebahagiaan”.

Oksitosin juga berperan dalam memperdalam ikatan antara ibu dan bayi. Sesaat sang bayi menyusu, tubuh ibu memproduksi hormon ini, menciptakan perasaan nyaman dan tenang, tidak hanya bagi ibu tetapi juga sang anak.

Sementara untuk pasangan, efeknya juga nyata. Studi menunjukkan bahwa kadar oksitosin yang meningkat saat bercumbu bukan hanya membantu orgasme, tetapi juga dapat memperkuat rasa kesetiaan dan keterikatan satu sama lain.

Terdapat sederet langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk “mengundang” hormon ini muncul.

Pelukan hangat, pijatan lembut, berbagi tawa, hingga aktivitas sosial seperti bernyanyi bersama atau sekadar berbagi cerita, semua itu mampu merangsang pelepasan hormon cinta ini

Oksitosin bukan sekadar hormon yang berkutat pada aspek fisik. Hormon ini juga merupakan jembatan nilai sosial yang memberi sinyal “aku peduli”, “aku percaya”, dan “aku ada untukmu”.

Ini dapat menjadi pengingat ketika hidup terasa kosong atau hubungan mulai hambar, mungkin yang dibutuhkan bukan obat, namun sebuah pelukan. Karena di ujung rangkaian hormon biokimia itu, ternyata tersimpan kemurnian cinta yang sederhana. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#hormon cinta #manfaat pelukan #stres #oksitosin #hormon kebahagiaan #pelukan