Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Makin Stres Makin Rajin Beres-Beres? Bisa Jadi Itu Tanda Coping Mechanism

M. Afiqul Adib • Selasa, 22 Juli 2025 | 04:30 WIB

 

Ketika hidup terasa kacau, menyapu atau merapikan meja bisa jadi terapi emosional.
Ketika hidup terasa kacau, menyapu atau merapikan meja bisa jadi terapi emosional.

RADARTUBAN - Ada satu fenomena yang diam-diam banyak dialami orang, tapi jarang dibahas secara serius: makin stres, makin suka beres-beres.

Entah kenapa, saat hidup terasa kacau, tangan ini justru gatal ingin menyapu, mengepel, atau merapikan rak buku yang biasanya dibiarkan berantakan.

Bahkan, kamar kos yang biasanya seperti kapal pecah bisa mendadak rapi jali saat penghuninya sedang sedih.

Aneh? Nggak juga. Ini adalah bentuk coping mechanism yang nyata dan cukup umum.

Apa Itu Coping Mechanism?

Dalam psikologi, coping mechanism adalah cara seseorang menghadapi tekanan atau stres. Bentuknya bisa macam-macam: ada yang curhat, ada yang nonton film, ada yang makan es krim satu liter, dan ada juga yang... beres-beres.

Tujuannya sama: mencari ketenangan, mengalihkan pikiran, dan mengembalikan rasa kontrol atas hidup yang terasa berantakan.

Mengutip Popbela, beres-beres bisa memberikan efek psikologis yang signifikan.

Aktivitas ini membantu mengurangi kecemasan, meningkatkan suasana hati, dan memberi rasa pencapaian instan.

Bahkan, beberapa studi menyebut bahwa membersihkan rumah bisa memicu pelepasan endorfin, hormon yang bikin kita merasa lebih bahagia.

Kenapa Harus Beres-Beres?

Saat stres, otak kita cenderung mencari hal-hal yang bisa dikendalikan. Dan lingkungan fisik adalah salah satu yang paling mudah diatur.

Dengan menyapu lantai atau merapikan meja, kita merasa punya kendali atas sesuatu—meski kecil.

Ini penting, karena stres sering kali muncul dari perasaan tak berdaya terhadap situasi yang lebih besar.

Selain itu, beres-beres juga bisa jadi bentuk meditasi aktif. Gerakan berulang seperti menyapu atau melipat baju membuat kita fokus pada momen sekarang, mengalihkan pikiran dari kekacauan emosional.

Aktivitas ini disebut sebagai rage cleaning—bukan karena marah, tapi karena ingin menenangkan diri lewat tindakan fisik.

Kenapa Bukan Coping Lain?

Setiap orang punya cara berbeda untuk menghadapi stres.

Tapi beres-beres punya keunggulan: hasilnya langsung terlihat. Kamar yang tadinya berantakan jadi rapi. Lantai yang tadinya kotor jadi bersih.

Ada rasa puas dan pencapaian yang muncul, meski hanya dari hal sederhana. Ini berbeda dengan coping lain seperti belanja impulsif atau binge-watching, yang kadang justru menambah rasa bersalah setelahnya.

Selain itu, beres-beres juga minim risiko. Nggak bikin kantong jebol, nggak bikin badan lemas, dan nggak bikin drama.

Justru bisa bikin suasana hati lebih stabil dan pikiran lebih jernih.

Kamar Rapi, Hati Lebih Tenang

Jadi, kalau kamu mendadak rajin beres-beres saat lagi sedih, itu bukan hal aneh.

Itu adalah bentuk coping mechanism yang sehat dan produktif. Kamar kos yang rapi bisa jadi cerminan dari usaha kamu untuk merapikan isi kepala yang sedang kusut.

Dan kalau ada yang bilang, “Lagi stres kok malah nyikat kamar mandi?” Jawab aja santai, “Biar hati nggak ikut kotor.” (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#coping mechanism #psikologis #fenomena #kacau