Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kenapa Kita Nggak Pernah Diajarkan Cara Menghibur Diri Sendiri?

M. Afiqul Adib • Rabu, 23 Juli 2025 | 19:30 WIB
Menghibur diri bukan tanda lemah, tapi cara bertahan, artikel ini bahas kenapa kita perlu belajar merawat diri secara emosional.
Menghibur diri bukan tanda lemah, tapi cara bertahan, artikel ini bahas kenapa kita perlu belajar merawat diri secara emosional.

RADARTUBAN - Di tengah gempuran hidup yang makin absurd, satu pertanyaan sederhana tapi penting sering terabaikan: kenapa kita nggak pernah diajarkan cara menghibur diri sendiri?

Banyak orang bingung harus ngapain saat sedih.

Mau nangis, takut dikira lemah. Mau cerita, takut dibilang drama. Akhirnya, kita cuma diam, menyimpan semua rasa di kepala, berharap hilang sendiri.

Kurikulum Penuh Rumus, Minim Ruang Emosi

Sejak kecil, kita diajarkan rumus luas bangun datar, tabel periodik, dan cara menghitung bunga majemuk.

Tapi tidak pernah ada pelajaran tentang cara menghadapi rasa gagal, ditolak, atau ditinggal. Tidak ada sesi “apa yang harus dilakukan saat kamu merasa hampa?” atau “bagaimana cara berdamai dengan kecewa?”

Padahal, itu semua adalah bagian dari hidup yang nyata.

Lebih nyata daripada soal matematika yang bahkan kalkulator pun bisa kerjakan.

Coping Mechanism Dewasa yang Kadang Aneh

Karena nggak pernah diajarkan, akhirnya kita belajar otodidak. Dan coping mechanism orang dewasa pun jadi beragam: kadang sehat, kadang impulsif.

Ada yang belanja tanpa mikir, nonton video random tiga jam tanpa tahu apa yang ditonton, atau tidur 14 jam demi kabur dari kenyataan.

Bukan karena malas, tapi karena nggak tahu harus ngapain lagi. Kita cuma pengin tenang, tapi nggak tahu caranya.

Kita cuma pengin merasa cukup, tapi nggak tahu di mana mulainya. Akhirnya cuma bisa “lari” dari kehidupan.

Ruang Aman: Tempat untuk Jujur Tanpa Diadili

Yang kita butuhkan sebenarnya sederhana: ruang aman untuk jujur bahwa kita sedang lelah.

Tempat di mana kita bisa bilang, “Aku nggak baik-baik aja,” tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Tempat di mana kita bisa menangis, tertawa, atau diam, dan tetap dianggap manusia.

Sayangnya, ruang seperti itu masih langka. Bahkan di rumah sendiri, kadang kita harus pura-pura kuat.

Di kantor, harus tetap produktif. Di media sosial, harus tetap terlihat bahagia.

Hiburan Bukan Pelarian, Tapi Bagian dari Bertahan

Menghibur diri bukan berarti lari dari masalah. Justru sebaliknya, itu adalah bagian dari bertahan.

Menonton film favorit, makan makanan kesukaan, atau sekadar duduk di taman sambil minum es teh.

Kalau mengutip Rintik Sedu, menghibur diri bisa dilakukan lewat hal-hal sederhana: menyendiri, mendengarkan musik, membaca, atau sekadar curhat.

Yang penting, kita memberi waktu dan perhatian pada diri sendiri. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Sudah Waktunya Kita Belajar Menghibur Diri

Mungkin sekolah nggak pernah mengajarkan. Tapi hidup akan terus memaksa kita untuk belajar.

Dan pelajaran paling penting bukan soal rumus, tapi soal bagaimana kita merawat diri saat dunia terasa berat.

Jadi, kalau kamu sedang sedih dan bingung harus ngapain, ingat: kamu nggak salah. Kamu cuma belum diajarkan.

Tapi sekarang, kamu bisa mulai belajar. Pelan-pelan, dengan cara yang kamu suka. Karena menghibur diri bukan kemewahan, tapi kebutuhan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#coping mechanism #Rumus #video #emosi #otodidak #menghibur diri