RADARTUBAN- Kita hidup di era di mana sibuk dianggap keren, dan istirahat sering kali dicap sebagai kemalasan.
Bangun pagi buru-buru, makan sambil kerja, tidur pun masih mikirin to-do list.
Tapi di tengah semua itu, muncul satu fenomena yang diam-diam banyak dialami: Sindrom Jam Tangan Kosong—terlihat sibuk, tapi sebenarnya nggak tahu sedang mengejar apa.
Hustle culture adalah gaya hidup yang menempatkan produktivitas sebagai tolok ukur utama keberhasilan.
Generasi muda, terutama Gen Z, hidup di bawah bayang-bayang performa dan validasi sosial.
Mereka merasa bersalah jika bersantai, takut tertinggal, dan akhirnya memaksakan diri untuk terus aktif—meski tanpa arah yang jelas.
Sindrom jam tangan kosong muncul dari tekanan ini. Kita merasa harus terus bergerak, tapi lupa bertanya: “Sebenarnya, aku sedang menuju ke mana?”
Fenomena ini bukan sekadar keresahan generasi digital. Tim Kreider dalam esainya The ‘Busy’ Trap menyebut bahwa kesibukan sering kali jadi pelarian dari kekosongan eksistensial.
Kita sibuk bukan karena banyak hal yang harus dilakukan, tapi karena takut menghadapi diri sendiri.
Philip Zimbardo lewat Time Perspective Theory juga menjelaskan bahwa orientasi waktu yang terlalu fokus pada masa depan bisa membuat kita kehilangan makna saat ini. Kita jadi reaktif, bukan reflektif. Sibuk, tapi kosong.
Mengutip website UNAIR, hustle culture berpotensi memicu toxic productivity dan burnout.
Kita merasa harus terus produktif, bahkan saat tubuh dan pikiran sudah lelah.
Ironisnya, semakin sibuk kita, semakin jauh kita dari kesejahteraan.
Jam tangan kosong jadi simbol dari waktu yang terus berjalan, tapi tidak pernah benar-benar kita isi dengan makna.
Kita mengejar sesuatu yang tidak kita pahami, dan ketika sampai di ujung hari, kita cuma merasa... capek.
Sindrom jam tangan kosong adalah alarm bahwa kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk bertanya ulang: “Apa yang sebenarnya penting?” Karena dalam dunia yang terlalu cepat, melambat bisa jadi bentuk keberanian.
Dan dalam budaya hustle yang memuja sibuk, memilih tenang adalah bentuk perlawanan paling elegan.
Jadi, kalau kamu merasa sibuk tapi hampa, mungkin bukan waktunya tambah kerjaan.
Mungkin waktunya lihat jam tanganmu, dan tanya: “Sudahkah aku benar-benar hadir dalam waktuku sendiri?” (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni