Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menangis di Timeline: Crying Selfie dan Identitas Gen Z

M. Afiqul Adib • Senin, 28 Juli 2025 | 21:05 WIB
Crying selfie menjadi cara Gen Z melawan tekanan tampil sempurna.
Crying selfie menjadi cara Gen Z melawan tekanan tampil sempurna.

RADARTUBAN - Gen Z tumbuh di era di mana kamera tidak pernah benar-benar mati. Setiap momen bisa direkam, setiap ekspresi bisa dibagikan.

Di tengah budaya digital yang serba visual, muncul satu fenomena yang cukup unik sekaligus kontroversial: crying selfie.

Yaitu foto atau video diri saat menangis, tampak rapuh, atau sedang emosional—yang kemudian diunggah ke media sosial.

Buat generasi sebelumnya, menangis adalah urusan privat. Tapi bagi Gen Z, kerentanan adalah bagian dari identitas digital.

Mereka tidak hanya membagikan momen bahagia, tapi juga luka, kecewa, dan hancur. Bukan untuk mencari simpati, tapi untuk menunjukkan bahwa mereka manusia.

Identitas Digital: Antara Ekspresi dan Validasi

Menurut Creativestation, media sosial bagi Gen Z bukan sekadar alat komunikasi, tapi panggung tempat identitas dibentuk dan dipertontonkan.

Crying selfie menjadi bagian dari narasi itu—sebuah bentuk ekspresi diri yang jujur, meski kadang dianggap “berlebihan” oleh generasi lain.

Fenomena ini juga berkaitan dengan krisis identitas digital yang dialami Gen Z. Di tengah tekanan untuk selalu tampil sempurna, crying selfie justru menjadi bentuk perlawanan.

Mereka menunjukkan sisi yang tidak diedit, tidak difilter, dan tidak selalu kuat. Karena bagi Gen Z, kejujuran emosional adalah bentuk keberanian.

Antara Terapi dan Performa

Tentu saja, crying selfie bukan tanpa kritik. Ada yang menyebutnya sebagai bentuk performatif—menangis untuk konten, bukan untuk pemulihan.

Tapi di sisi lain, banyak yang merasa bahwa membagikan momen rapuh bisa jadi bentuk terapi.

Menunjukkan kesedihan secara publik bisa membantu mengurangi rasa kesepian, dan membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental.

Menurut Hallodoc, paparan digital sejak dini bisa memengaruhi perkembangan emosional.

Gen Alpha bahkan sudah bisa skip iklan YouTube sebelum bisa bicara.

Maka, bagi Gen Z yang tumbuh bersama algoritma, crying selfie adalah cara mereka bicara—dengan visual, bukan kata-kata.

Menangis di Depan Kamera Bukan Tanda Lemah

Crying selfie bukan sekadar tren, tapi cerminan dari cara Gen Z memahami diri dan dunia.

Mereka tidak takut terlihat rapuh, karena tahu bahwa kerentanan adalah bagian dari kekuatan.

Di era digital yang penuh pencitraan, menangis di depan kamera bisa jadi bentuk kejujuran paling radikal.

Dan mungkin, kita semua bisa belajar dari mereka—bahwa tidak apa-apa untuk terlihat hancur.

Karena kadang, yang paling kuat adalah mereka yang berani menunjukkan bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. (*)
___
Sumber: https://creativestation.id/identitas-digital/
Photo by Sinitta Leunen on Unsplash

Editor : Yudha Satria Aditama
#timeline #Privat #Gen Z #menangis #digital #validasi #ekspresi