Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengapa Scroll TikTok Bisa Berjam-jam, Tapi Baca Buku 10 Menit Ngantuk?

M. Afiqul Adib • Kamis, 31 Juli 2025 | 03:05 WIB
Kebiasaan scroll TikTok bikin otak sulit fokus saat membaca buku
Kebiasaan scroll TikTok bikin otak sulit fokus saat membaca buku

RADARTUBAN- Fenomena ini bukan cuma soal malas baca, tapi berkaitan erat dengan cara kerja otak dan kebiasaan konsumsi konten harian.

TikTok, dengan durasi video super pendek dan algoritma personal yang sangat tajam, menyajikan hiburan instan yang terus memberi stimulus baru setiap beberapa detik.

Setiap kali kita swipe, otak menerima semburan dopamin—zat kimia yang bikin kita merasa senang. Tanpa sadar, kita terjebak dalam pola scroll tanpa henti.

Sebaliknya, membaca buku menuntut fokus, imajinasi aktif, dan proses yang lambat. Tidak ada punchline kilat atau visual dramatis.

Otak dipaksa bekerja lebih dalam, dan bagi mereka yang sudah terbiasa dengan konten cepat, membaca bisa terasa seperti “kerja berat”. Maka, tak heran jika baru lima halaman dibuka, mata sudah berat.

Istilah ‘brainrot’ sering muncul di kalangan Gen Z sebagai ungkapan satir untuk menggambarkan kondisi ketika otak terasa ‘rusak’ atau ‘meleleh’ akibat terlalu lama mengonsumsi konten digital.

Brainrot ini bukan sekadar bercanda. Studi psikologi menunjukkan bahwa konsumsi konten instan secara berlebihan bisa mengganggu fokus, mengurangi rentang perhatian, bahkan memengaruhi kemampuan berpikir kritis.

Ada pula efek psikologis yang disebut Zeigarnik Effect, di mana otak secara aktif mencari lanjutan dari hal yang belum selesai.

Ini menjelaskan kenapa kita langsung kepo saat ada tulisan “lanjut di part 2”. Efeknya, kita tidak bisa berhenti dan terus menelusuri video demi video, seolah tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat.

Bandingkan dengan buku, yang tidak memiliki notifikasi, transisi cepat, atau stimulasi suara.

Butuh ketenangan dan kemauan untuk tetap berada dalam satu narasi dalam waktu lama. Tantangannya bukan hanya memulai, tapi bertahan di dalam proses membaca itu sendiri.

Namun semua ini bukan berarti membaca buku kalah dari TikTok. Yang diperlukan adalah pelatihan ulang terhadap cara kita menikmati informasi.

Mulai dari membaca artikel pendek, mendengarkan audiobook, atau menetapkan waktu khusus membaca tanpa distraksi.

Bukan salah platformnya, melainkan bagaimana kita mengatur ritme konsumsi harian.

Dalam dunia yang makin cepat, buku menawarkan pelambatan yang relevan. Dan di era brainrot digital seperti sekarang, kemampuan untuk fokus bisa jadi bentuk “kekuatan baru”.

TikTok boleh tetap dinikmati, tapi sesekali, biarkan otak kita beristirahat dan tenggelam dalam halaman buku, meski secara pelan-pelan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Brain Rot #malas baca #Membaca Buku #scroll tiktok #dopamin #tiktok