RADARTUBAN – Lupa bukan hanya milik orang tua.
Banyak orang di usia muda hingga dewasa awal kini sering mengalami hal serupa: lupa di mana menyimpan kunci, lupa nama orang yang baru dikenalnya, atau bahkan lupa janji penting yang baru saja dibuat.
Fenomena ini ternyata bukan hal sepele. Berdasarkan data dari Alodokter dan Halodoc, sifat pelupa bisa menyerang siapa saja, tak peduli usia.
Ada banyak faktor pemicu yang diam-diam merusak daya ingat seseorang, bahkan tanpa disadari.
1. Stres dan Beban Pikiran
Beban mental menjadi pemicu utama.
Dalam artikel Halodoc dijelaskan bahwa stres berat bisa mengganggu cara otak menyimpan dan mengambil informasi.
Ketika seseorang berada dalam tekanan yang tinggi, fungsi memori dapat menjadi terhambat.
Tidak heran jika terdapat kasus di mana mahasiswa yang sedang menghadapi tugas akhir atau karyawan yang dikejar deadline cenderung menjadi pelupa sesaat.
Ini bukan karena mereka tidak perhatian, tapi otak mereka terlalu sibuk memproses banyak hal sekaligus.
2. Kurang Tidur
Jangan remehkan waktu istirahat.
Kurang tidur bukan hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga menurunkan kemampuan otak untuk menyimpan memori jangka pendek maupun jangka panjang.
Alodokter menegaskan bahwa tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk kesehatan kognitif.
3. Pola Makan Buruk dan Kurang Nutrisi
Otak membutuhkan asupan nutrisi seperti vitamin B12, omega-3, dan antioksidan agar bisa bekerja optimal.
Pola makan yang buruk membuat suplai nutrisi terganggu, yang berdampak langsung pada fungsi otak.
4. Efek Obat atau Konsumsi Alkohol
Beberapa jenis obat penenang, antidepresan, atau obat tidur diketahui dapat memengaruhi kemampuan otak untuk membentuk memori baru.
Begitu juga dengan konsumsi alkohol dalam jangka panjang yang dapat merusak jaringan otak secara perlahan.
Lupa Bukan Selalu Alzheimer
Meski sering dikaitkan dengan Alzheimer, faktanya banyak kasus lupa tidak ada hubungannya dengan penyakit degeneratif tersebut.
Selama lupa tidak disertai disorientasi berat atau perubahan perilaku drastis, biasanya kondisi ini bersifat sementara.
Kuncinya ada pada gaya hidup sehat: tidur cukup, asupan nutrisi yang baik, manajemen stres, serta mengurangi paparan multitasking digital yang berlebihan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama