RADARTUBAN – Definisi kesuksesan terus bergeser seiring perubahan zaman.
Bagi generasi Baby Boomer, sukses biasanya identik dengan rumah besar, jabatan mapan, dan keluarga harmonis.
Namun, generasi muda seperti Milenial dan Gen Z punya sudut pandang berbeda.
Di era digital yang dinamis dan penuh tantangan ini, banyak tolok ukur klasik yang dianggap tidak lagi sejalan dengan kenyataan masa kini.
Berikut ini 9 standar sukses versi generasi Boomer yang kini mulai dianggap kurang relevan oleh generasi muda , lengkap dengan penjelasan mengapa hal itu berubah:
1. Memiliki Rumah Sendiri Sejak Muda
Dulu: Rumah pribadi adalah lambang kestabilan dan kedewasaan.
Sekarang: Harga properti semakin tinggi dan gaya hidup semakin fleksibel.
Banyak anak muda lebih memilih menyewa atau menunda membeli rumah agar bisa bebas mengejar peluang kurir di berbagai tempat.
Mobilitas dianggap lebih penting dari kepemilikan.
2. Bertahan Puluhan Tahun di Satu Perusahaan
Dulu: Loyalitas terhadap satu tempat kerja dianggap terhormat.
Sekarang: Banyak Milenial dan Gen Z lebih memilih berpindah tempat kerja setiap beberapa tahun untuk mencari tantangan baru dan kenaikan gaji yang lebih cepat.
“Loncat kerja” kini justru dianggap sebagai karier strategis yang cerdas.
3. Menikah dan Memiliki Anak Sebelum Usia 30 Tahun
Dulu: Menikah muda adalah bagian dari “paket hidup sukses.”
Sekarang: Banyak anak muda memilih untuk fokus membangun karir, memperbaiki kesehatan mental, atau mengejar pendidikan tinggi. Komitmen jangka panjang tidak lagi menjadi keharusan di usia muda.
4. Pendidikan Tinggi Adalah Kunci Satu-satunya
Dulu: Gelar sarjana atau isteri adalah tiket emas menuju kesuksesan.
Saat ini: Banyak profesi berkembang di luar jalur akademik formal. Keterampilan praktis seperti desain grafis, coding, public speaking, atau pemasaran digital seringkali lebih dicari. Pendidikan informal seperti kursus online pun mulai diakui.
5. Pensiun Dini dan Tabungan Rutin
Dulu: Hidup di masa tua adalah tentang kenyamanan dan pensiun dari pekerjaan tetap.
Sekarang: Konsep “pensiun” berubah menjadi kebingungan.
Banyak yang memilih pensiun dini agar bisa fokus pada hal yang lebih bermakna seperti bisnis sendiri, hobi, atau proyek sosial. Tabungan tetap penting, tapi tidak lagi satu-satunya tujuan.
6. Mobil Mewah sebagai Simbol Status
Dulu: Memiliki kendaraan sendiri adalah tanda sukses dan kebebasan.
Sekarang: Banyak anak muda lebih memilih kendaraan ramah lingkungan, transportasi umum, bahkan tidak punya kendaraan pribadi sama sekali. Nilai prestise bergeser ke pengalaman, bukan barang.
7. Kredit dan Cicilan Jangka Panjang
Dulu: Kredit rumah, mobil, atau barang elektronik adalah hal wajar dan dianggap sebagai wujud tanggung jawab.
Sekarang: Banyak generasi muda yang lebih waspada terhadap utang. Gaya hidup minimalis dan bebas cicilan mulai dipilih sebagai cara hidup yang lebih tenang dan sehat secara finansial.
8. Punya Gaji Tetap Tiap Bulan
Dulu: Pekerjaan tetap dengan gaji bulanan adalah sumber keamanan hidup.
Sekarang: Dunia freelance dan ekonomi digital menciptakan banyak peluang. Banyak anak muda memilih kerja fleksibel, membangun startup, atau menjadi pembuat konten meski tanpa penghasilan tetap.
9. Simbol Sukses = Stabilitas
Dulu: Sukses berarti “mapan” dalam hal keluarga, rumah, dan pekerjaan.
Sekarang: Sukses lebih bersifat personal dan emosional. Bahagia, merasa cukup, dan hidup sesuai nilai diri dianggap lebih penting dari sekedar stabil atau kaya.
Di sisi lain, para pakar menyebut bahwa pergeseran tolok ukur ini tidak semata-mata karena 'pembangunan generasi'.
Faktor ekonomi global, ketimpangan kesejahteraan, dan tekanan finansial pascapandemi ikut membentuk cara berpikir baru tentang sukses.
Ditambah lagi perkembangan teknologi digital yang membuat banyak jalur kehidupan menjadi lebih cair dan multitafsir.
Kini, sukses tidak lagi hanya soal “apa yang kamu punya”, tapi lebih kepada “apa yang kamu jalani dengan bahagia dan bermakna.”
Generasi muda mengajarkan bahwa hidup tidak perlu seragam, dan setiap orang berhak mendefinisikan kesuksesannya sendiri—meski itu berbeda dari generasi sebelumnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni