RADARTUBAN - Di tahun-tahun digital yang makin absurd ini, urusan hubungan bukan sekadar soal status, tapi juga soal bahasa.
Generasi sekarang—khususnya Gen Z dan Gen Alpha—punya caranya sendiri dalam menggambarkan lika-liku percintaan. Mereka tidak bilang “lagi deket” atau “saling suka tapi belum jadian.” Mereka punya istilah seperti HTS low maintenance.
Mantan pun tidak lagi hanya mantan, tapi bisa mantan kandung.
Fenomena ini bukan sekadar kreatif bermain kata, tapi cerminan dari cara anak muda memahami dan merespon realitas sosial yang lebih kompleks.
Hubungan yang dulu dikotak-kotakkan jadi hitam putih, kini tampil dalam gradasi abu-abu yang semakin beragam.
Berikut beberapa istilah yang populer di tahun 2025, dan apa makna sosial di baliknya.
1. HTS Low Maintenance: Hubungan Tanpa Ribet, Tanpa Tuntutan
HTS—hubungan tanpa status—bukan istilah baru. Tapi embel-embel “low maintenance” memperjelas bahwa relasi ini tidak diikat ekspektasi berlebihan.
Tidak harus laporan harian, tidak wajib balas chat lima menit sekali.
Cukup saling tahu, saling nyaman, dan tidak saling menuntut. Ini jadi solusi bagi mereka yang ingin koneksi emosional tanpa repot berkomitmen formal.
2. Lavender Marriage: Pernikahan Demi Tampak Sesuai Norma
Lavender marriage merujuk pada pernikahan yang dilakukan untuk menutupi orientasi seksual, biasanya oleh orang-orang LGBTQ+ yang belum atau tidak ingin terbuka secara publik.
Meski istilah ini sudah lama muncul di luar negeri, di Indonesia 2025 dia menjadi perbincangan yang lebih terbuka.
Seiring naiknya literasi gender dan keinginan untuk mendiskusikan identitas secara jujur.
3. Performative Male: Maskulinitas sebagai Tontonan
Di ranah media sosial dan kehidupan sehari-hari, performative male menggambarkan laki-laki yang tampil sok maskulin demi validasi lingkungan, padahal itu bukan dirinya yang sebenarnya.
Dia memakai gaya bicara, preferensi, dan citra yang “cowok banget” agar dianggap cocok sebagai pria sejati.
Istilah ini jadi kritik terhadap tekanan sosial yang membuat laki-laki enggan tampil rapuh atau emosional.
4. Relationship Audit: Mereview Relasi Seperti Mereview Keuangan
Alih-alih terus mempertahankan hubungan atas dasar “sayang sudah lama,” anak muda zaman sekarang mulai melakukan relationship audit.
Konsep ini mirip evaluasi keuangan atau pekerjaan: menilai apakah hubungan sehat, apakah pasangan mendukung, atau justru membuat stres.
Jika tidak sesuai, hubungan bisa “dibubarkan” dengan alasan logis, bukan semata emosi.
5. Mantan Kandung: Belum Benar-benar Lepas, Tapi Sudah Dinyatakan Putus
Mantan kandung adalah status ambigu di mana dua orang sudah mengaku putus, tapi masih terlalu akrab.
Masih saling cerita, masih tahu kabar satu sama lain, kadang masih saling kode.
Status ini menggambarkan transisi emosional yang tidak tuntas, seolah-olah hubungan masih berlanjut tanpa label.
Istilah-istilah ini mungkin terdengar aneh bagi generasi sebelumnya, tapi bagi anak muda sekarang, dia menjadi alat untuk memahami, menjelaskan, dan mengelola hubungan secara lebih fleksibel.
Di tengah zaman yang makin cair dan identitas yang makin rumit, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga bentuk kesadaran sosial.
Jadi kalau mendengar teman bicara soal mantan kandung atau sedang audit hubungan, jangan buru-buru menghakimi.
Bisa jadi mereka sedang berproses menjadi dewasa—dengan kosa kata yang sesuai zamannya. (*)