Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Sorry To Say Sampai Literally Aku Capek: Bahasa Gado-Gado Jaksel yang mulai Ditiru anak Kabupaten

M. Afiqul Adib • Kamis, 7 Agustus 2025 | 10:10 WIB
Gaya keminggris anak Jaksel makin populer di luar kota besar.
Gaya keminggris anak Jaksel makin populer di luar kota besar.

RADARTUBAN- Gaya bicara campuran Inggris-Indonesia ala “anak Jaksel” kini tak lagi terbatas pada deretan kafe di Kemang atau obrolan podcast skena.

Di berbagai kabupaten di Indonesia, fenomena ini mulai menjalar secara kasual, entah lewat chat grup alumni, konten TikTok lokal, atau bahkan percakapan santai di angkringan.

Ungkapan seperti “Sorry to say, tapi dia tuh not giving at all,” atau “Literally aku capek, kayak draining banget gitu loh,” makin sering terdengar dari lidah yang dulunya akrab dengan logat khas daerah.

Banyak penuturnya adalah para perantau yang pernah tinggal atau kuliah di kota-kota besar—Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung—di mana gaya bicara semacam ini adalah bagian dari pergaulan, bukan sekadar pilihan kata.

Ketika mereka kembali ke kabupaten asal, gaya bicara itu pun turut pulang. Bukan karena ingin “gaya”, tapi karena sudah terbentuk dalam keseharian.

Selain pengalaman langsung, lingkungan digital dan pertemanan lintas kota juga berkontribusi besar.

Grup WhatsApp, sesi Discord, dan interaksi di media sosial jadi ladang persebaran istilah seperti in this economy, lowkey, atau which is kinda sad.

Bahkan yang belum pernah menginjakkan kaki di Senopati bisa dengan fasih bilang, “That’s so not my vibe.”

Di kalangan anak muda kabupaten, gaya ini jadi semacam penanda: kamu tahu tren, kamu konek secara budaya, kamu bisa jadi relate.

Bahkan jika isi obrolan tetap tentang kuliah, kerjaan, atau curhat cinta, penyampaiannya berubah. Ada nuansa self-awareness, kadang ditambah sentuhan dry humor khas skena digital.

Apakah ini ancaman bagi bahasa daerah? Belum tentu. Yang terjadi justru fusion—campuran gaya lokal dan urban yang hidup berdampingan.

Satu kalimat bisa dimulai dengan “yo wis lah” dan ditutup dengan “but you know, at the end of the day I need peace.”

Bahasa tak lagi berdiri sebagai simbol tempat, tapi sebagai cerminan identitas dan adaptasi.

Dalam era digital, gaya bicara adalah cara menunjukkan keakraban dengan dunia yang lebih besar.

Jika satu kalimat keminggris bisa mewakili rasa capek, kecewa, atau lucu dengan lebih tepat—kenapa tidak? (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#sorry to say #gaya bicara #literally #inggris-indonesia #fenomena #tiktok #anak jaksel #gaya bahasa campuran #kabupaten