RADARTUBAN- Di tengah banjir konten motivasi dari berbagai platform digital, banyak orang—terutama generasi muda—merasa semakin tertekan.
Ironisnya, semakin rajin follow akun-akun self-improvement, semakin sering juga muncul rasa tidak cukup.
Bangun pagi, journaling, olahraga, dan afirmasi positif yang dulu dianggap sebagai penolong, kini justru terasa seperti tuntutan tambahan yang melelahkan.
Motivasi yang seharusnya menguatkan malah berubah jadi beban. Alih-alih memberi dorongan, ia menciptakan standar yang sulit dikejar, apalagi di tengah kondisi sosial-ekonomi yang serba tak pasti.
Awalnya kita mencari inspirasi. Tapi di balik niat baik itu, algoritma bergerak cepat. Kita disuguhkan konten-konten produktif, penuh pencapaian, dan visual yang serba estetik.
Akibatnya, yang tumbuh bukan semangat, melainkan rasa bersalah. Ketika ada yang sudah bangun jam 5 pagi, meditasi, sarapan sehat, dan mulai kerja dengan senyum, kita yang masih leyeh-leyeh jam 9 langsung merasa gagal.
Fenomena FOMO—takut tertinggal—ikut berperan besar. Kita tak lagi termotivasi untuk berkembang, tapi terdorong untuk menyamai pencapaian orang lain, bahkan tanpa mempertimbangkan apakah jalur itu cocok untuk kita.
Di tengah riuhnya konten motivasi, muncul satu pertanyaan penting: apakah motivasi yang kita konsumsi masih relevan, atau justru berubah jadi distraksi?
Ketika kita terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, motivasi tidak lagi menjadi dorongan dari dalam, melainkan tuntutan dari luar.
Ia kehilangan esensi reflektifnya, berubah jadi checklist yang harus dipenuhi agar tidak dianggap tertinggal.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berbalik: kita jadi skeptis terhadap motivasi, bahkan menolak mentah-mentah konten yang bernada positif.
Bukan karena tidak ingin berkembang, tapi karena terlalu sering kecewa oleh ekspektasi yang tidak realistis.
Barangkali kita perlu menggeser fokus. Dari “harus selalu jadi versi terbaik diri” ke “boleh stagnan, asal sadar.” Dari “cepat sukses” ke “jalan pelan juga nggak apa-apa.”
Motivasi tetap penting, tapi perlu disesuaikan dengan konteks—dengan keterbatasan, dengan kapasitas mental, dan dengan realitas hidup masing-masing.
Menjadi lebih baik tidak harus berarti menjadi lebih sibuk. Mungkin motivasi yang kita butuhkan sekarang bukan yang penuh target dan jadwal, tapi yang memberi ruang untuk bernapas.
Untuk gagal. Untuk tidak selalu tampil produktif. Untuk menerima bahwa kadang, yang terbaik yang bisa kita lakukan hari ini adalah bertahan dan tetap waras. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni