RADARTUBAN- Sejak pandemi, kerja remote atau WFH (work from home) menjadi pilihan yang dianggap lebih hemat dan fleksibel.
Tidak perlu keluar rumah, tidak perlu macet, dan yang paling penting: tidak perlu isi bensin tiap minggu.
Banyak orang merasa ini solusi ideal, terutama di tengah harga BBM yang naik turun seperti mood deadline.
Namun setelah beberapa bulan, muncul satu pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah benar kerja remote itu lebih hemat? Atau jangan-jangan kita hanya memindahkan biaya dari bensin ke listrik, dari ongkos jalan ke tagihan PLN?
Saat bekerja dari rumah, kita memang tidak perlu keluar uang untuk transportasi. Tapi sebagai gantinya, rumah berubah jadi kantor penuh waktu.
Laptop menyala dari pagi sampai malam, AC hidup lebih lama, lampu tidak pernah benar-benar mati, dan kadang ditambah perangkat tambahan seperti printer, modem, atau bahkan dua monitor.
Belum lagi kalau rumah juga jadi tempat kerja pasangan atau anak sekolah daring. Konsumsi listrik melonjak, dan tagihan bulanan ikut naik.
Yang tadinya hemat bensin Rp300 ribu per bulan, sekarang bayar listrik bisa lebih dari itu.
Belum termasuk biaya kopi sachet dan cemilan yang entah kenapa makin cepat habis.
Kerja remote memang memberi fleksibilitas. Tapi jika tujuannya adalah efisiensi biaya, maka perlu dihitung ulang.
Banyak orang merasa lebih nyaman bekerja dari rumah, tapi tidak sadar bahwa kenyamanan itu datang dengan harga.
AC menyala lebih lama karena cuaca panas, kulkas dibuka lebih sering karena lapar datang lebih cepat, dan koneksi internet harus ditingkatkan agar Zoom tidak patah-patah.
Di sisi lain, kantor yang dulu menanggung semua itu—listrik, air, fasilitas kerja—sekarang dialihkan ke rumah pribadi.
Maka yang terjadi bukan penghematan, tapi pergeseran beban. Kita tidak mengurangi pengeluaran, hanya mengganti bentuknya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kerja remote bukan solusi tunggal untuk masalah ekonomi harian. Ia tetap punya nilai, terutama dalam hal waktu dan fleksibilitas.
Tapi jika dihitung dari sisi pengeluaran, kita perlu jujur: tidak semua orang benar-benar lebih hemat.
Bahkan ada yang merasa pengeluaran justru lebih tidak terkontrol karena semua kebutuhan kerja bercampur dengan kebutuhan rumah tangga.
Maka pertanyaannya bukan lagi “hemat atau tidak,” tapi “apa yang sebenarnya kita bayar?”
Apakah kita rela membayar kenyamanan dengan tagihan yang lebih tinggi? Apakah kita sudah menyesuaikan pola kerja agar tidak boros energi? Atau kita hanya ikut tren tanpa benar-benar tahu dampaknya?
Kerja remote bisa jadi pilihan yang bijak, tapi hanya jika disertai strategi.
Menyalakan AC seperlunya, mematikan perangkat saat tidak digunakan, dan memisahkan ruang kerja dari ruang santai bisa membantu mengurangi pemborosan.
Karena pada akhirnya, hemat itu bukan soal di mana kita bekerja, tapi bagaimana kita mengelola sumber daya yang kita pakai.
Jadi sebelum merasa lega karena tidak perlu isi bensin, coba cek dulu tagihan listrik bulan ini. Jangan-jangan, kita hanya pindah biaya—tanpa benar-benar menghemat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni